Cafe Laut Semare, Cita-Cita Kemandirian dalam Kenikmatan Kuliner
Selasa, 20 Oktober 2020 - 10:30 WIB
Manager Regional Office HCML Hamim Tohari mengatakan, pihaknya membantu penyediaan pelatihan bagi kelompok sadar wisata (pokdarwis). Selain itu, HCML juga memfasilitasi peningkatan kapasitas manajerial di tim manajemen CLS.
Peningkatan kapasitas ini sangat penting, mengingat Café Laut Semare diharapkan bisa menjadi lumbung peningkatan perekonomian masyarakat Desa Semare. Kafe ini didirikan dengan payung hukum Peraturan Desa Semare Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Wisata Desa. (Baca: Berpetualang Menikmati Kopi di Kaki Gunung Susuru )
Kafe ini, menurut Hamim, bertujuan tiga hal. "Pertama, meningkatkan perekonomian desa. Kedua, mengurangi angka pengangguran, dan terakhir, memanfaatkan potensi laut Desa Semare," katanya. Ada enam lapak yang berjualan di kafe ini. Lima lapak masing-masing adalah perwakilan dari lima dusun. Sementara satu lapak dibangun pemerintah desa dan khusus menjual minuman.
Pemerintah desa dan pengelola kafe menerapkan ketentuan ketat: melarang siapapun minum minuman keras dan menggunakan obat terlarang di kafe tersebut. Pengunjung Cafe Laut Semare pun benar-benar dimanjakan, tak hanya dengan sajian kuliner makanan laut atau seafood nan sedap menggoyang lidah. Namun juga dengan aktivitas pelesir di laut. Mereka bisa beraktivitas sea boating atau naik perahu keliling pesisir Semare.
Selain itu, mereka juga bisa menikmati sajian makanan dengan melihat aktifitas nelayan setempat melaut. Para nelayan ini mencari kerang dan kupang untuk sajian kuliner khas pesisir, di atas café yang terbuat dari kayu ulin.
Nauval mengatakan, ada empat titik lokasi swafoto di jembatan kayu ulin yang dibangun HCML. Khusus untuk lokasi-lokasi swafoto itu, Bumdes melebarkan jembatan menjadi ukuran lima kali enam meter persegi. Lokasi spot favorit antara lain spot foto kepiting, spot foto love-love, dan spot foto huruf CLS.
Peningkatan kapasitas ini sangat penting, mengingat Café Laut Semare diharapkan bisa menjadi lumbung peningkatan perekonomian masyarakat Desa Semare. Kafe ini didirikan dengan payung hukum Peraturan Desa Semare Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Wisata Desa. (Baca: Berpetualang Menikmati Kopi di Kaki Gunung Susuru )
Kafe ini, menurut Hamim, bertujuan tiga hal. "Pertama, meningkatkan perekonomian desa. Kedua, mengurangi angka pengangguran, dan terakhir, memanfaatkan potensi laut Desa Semare," katanya. Ada enam lapak yang berjualan di kafe ini. Lima lapak masing-masing adalah perwakilan dari lima dusun. Sementara satu lapak dibangun pemerintah desa dan khusus menjual minuman.
Pemerintah desa dan pengelola kafe menerapkan ketentuan ketat: melarang siapapun minum minuman keras dan menggunakan obat terlarang di kafe tersebut. Pengunjung Cafe Laut Semare pun benar-benar dimanjakan, tak hanya dengan sajian kuliner makanan laut atau seafood nan sedap menggoyang lidah. Namun juga dengan aktivitas pelesir di laut. Mereka bisa beraktivitas sea boating atau naik perahu keliling pesisir Semare.
Selain itu, mereka juga bisa menikmati sajian makanan dengan melihat aktifitas nelayan setempat melaut. Para nelayan ini mencari kerang dan kupang untuk sajian kuliner khas pesisir, di atas café yang terbuat dari kayu ulin.
Nauval mengatakan, ada empat titik lokasi swafoto di jembatan kayu ulin yang dibangun HCML. Khusus untuk lokasi-lokasi swafoto itu, Bumdes melebarkan jembatan menjadi ukuran lima kali enam meter persegi. Lokasi spot favorit antara lain spot foto kepiting, spot foto love-love, dan spot foto huruf CLS.
Lihat Juga :