Kunci Mortir, Kapak Burhan dan Luweng Grubuk Saksi Kelam PKI di Yogyakarta

Kamis, 01 Oktober 2020 - 14:35 WIB
Begitu juga dengan Letkol Sugiyono yang berpakaian seragam lengkap yang dijebak dengan diajak rapat di Batalyon L. Di lokasi ini dia juga dihabisi dan dengan pakaian seragam dimasukkan Ke lubang di Batalyon L tersebut." Keduanya dimasukkan dalam satu sumur pada 2 Oktober 1965," ujarnya.

Keberadaan dua perwira Korem tersebut baru diketahui pada 20 Oktober 1965. Keduanya kemudian bisa diidentifikasi setelah kecurigaan adanya ubi jalar dan pohon pisang baru. Setelah digali dua korban ditemukan dan langsung dibawa ke rumah sakit tentara (DKT). Selanjutnya pada 22 Oktober dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara.

Setelah kasus pemberontakan PKI ini, gerakan penumpasan pun dilakukan. Di Yogyakata masih terisa tokoh besar yang berani melawan PKI. Tokoh yang bernama Burhanundin Zaenudin alias Burhan Kampak ini menjadi saksi sejarah penumpasan PKI di Yogyakarta sejak tahun 1966 hingga 1968.

Burhan Kampak adalah tokoh muda Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang seringkali bentrok dengan Pemuda Rakyat di tahun 1965. "Kampak memang senjata saya saat bentrok sipil. Beberapa orang pemuda rakyat tewas dengan kapak saya," ungkapnya kepada SINDOnews.

Dia menceritakan, dalam suasana yang mencekam PKI merajalela dan melakukan berbagai aksi teror. Burhan pun kemudian membuat senjata Kampak. "Waktu itu situasi selalu bentrok. Tekad saya dibunuh atau membunuh. Karena memang situasi memaksa saya membunuh," katanya.

Diapun kemudian bercerita waktu habis salat Isyak. Ini adalah malam-malam gembira baginya dan beberapa teman yang pernah dilatih militer. Begitu mendengar adzan isyak, dia mengaku senang karena ikut operasi penumpasan G30S/PKI. Diapun tidak segan-segan menembak tokoh PKI yang berusaha melawan saat dilakukan sweeping bersama TNI kala itu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!