BNPP Data Kebutuhan Mendesak Daerah Perbatasan Temajuk dan Satgas Penjaga Perbatasan
Rabu, 30 September 2020 - 21:04 WIB
Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP Robert Simbolon saat berbincang dengan tokoh masyarakat Kecamatan Paloh H Hatta Farhat di patok perbatasan RI-Malaysia di Desa Temajuk, Paloh, Sambas, Kalbar. Foto SINDOnews
SAMBAS - Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) telah menerjunkan tim untuk melaksanakan survei ke 29 titik perlintasan yang berstatus tidak resmi (Non-PLB dan Non-PLBN) di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Dalam perjalanannya Tim Survei Identifikasi Titik Perlintasan tersebut juga mendata kebutuhan mendesak salah satu desa yang berada di ujung Kabupaten Sambas yakni Desa Temajuk.
Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP, Robert Simbolon mengatakan, Desa Temajuk yang berbatasan dengan wilayah negara Malaysia ini mempunyai beberapa kebutuhan mendesak antara lain penguatan signal karena meskipun di Desa Temajuk sudah menggunakan sistem 4G, tetapi tidak fungsional, karena tidak adanya bandwidth. (Baca juga: BNPP Gagas Pembentukan 'New Border Town' di Perbatasan Negara)
"Listrik masih menggunakan genset/diesel, tapi hanya mampu melayani 12 jam sehari. Lalu jalan lingkungan dan jalan akses ke Titik Nol sangat mendesak untuk dibangun, sementara ini masih menggunakan jalan tanah atau jalan batu," ujar Robert, Rabu (30/9/2020).
Selain itu Robert mengatakan Pantai Temajuk mengalami abrasi rata-rata 10 meter per tahun, sehingga perlu disikapi dengan pembangunan penahan ombak/talud," sambungnya.
Robert juga menyampaikan dirinya telah bertemu dengan Danpos Pamtas yang bertugas di wilayah Temajuk. Dalam kesempatan tersebut Danpos Pamtas menyampaikan bahwa Satgas Pamtas membutuhkan kendaraan operasional.
Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP, Robert Simbolon mengatakan, Desa Temajuk yang berbatasan dengan wilayah negara Malaysia ini mempunyai beberapa kebutuhan mendesak antara lain penguatan signal karena meskipun di Desa Temajuk sudah menggunakan sistem 4G, tetapi tidak fungsional, karena tidak adanya bandwidth. (Baca juga: BNPP Gagas Pembentukan 'New Border Town' di Perbatasan Negara)
"Listrik masih menggunakan genset/diesel, tapi hanya mampu melayani 12 jam sehari. Lalu jalan lingkungan dan jalan akses ke Titik Nol sangat mendesak untuk dibangun, sementara ini masih menggunakan jalan tanah atau jalan batu," ujar Robert, Rabu (30/9/2020).
Selain itu Robert mengatakan Pantai Temajuk mengalami abrasi rata-rata 10 meter per tahun, sehingga perlu disikapi dengan pembangunan penahan ombak/talud," sambungnya.
Robert juga menyampaikan dirinya telah bertemu dengan Danpos Pamtas yang bertugas di wilayah Temajuk. Dalam kesempatan tersebut Danpos Pamtas menyampaikan bahwa Satgas Pamtas membutuhkan kendaraan operasional.
Lihat Juga :