Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:54 WIB
"Ini memang juga instruksi dari Mendagri, terutama Pak Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan yang menunjuk Banyuwangi sebagai tuan rumah. Mungkin juga karena melihat kesiapan Banyuwangi dan progres yang telah dilakukan. Banyuwangi sudah menjadi bagian dari ASEAN Smart Cities Network sejak 2015, sehingga banyak perkembangan yang telah dicapai," jelas Ipuk.

Menurut Ipuk, implementasi smart city di Banyuwangi tidak hanya berfokus pada digitalisasi layanan, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat, terutama pengentasan kemiskinan.

"Saat ini fokus Banyuwangi adalah pengentasan kemiskinan. Karena itu kami memperkuat pelayanan publik yang cepat, berbasis dampak kepada masyarakat, serta memperluas pelayanan melalui desa-desa," katanya.

Ipuk menjelaskan, sektor pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas utama dalam pembangunan daerah. Cakupannya tidak hanya layanan rumah sakit, puskesmas, maupun posyandu, tetapi juga persoalan yang berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat seperti pengelolaan sampah, perbaikan gizi, hingga percepatan penanganan stunting.

"Untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dibutuhkan digitalisasi, basis data yang akurat, serta kolaborasi dengan berbagai komunitas. Jadi program-program pemerintah tidak hanya mengandalkan APBD, tetapi juga melibatkan masyarakat agar manfaatnya semakin luas," ucapnya.

Kepercayaan menjadi tuan rumah pelaksanaan daring Delegasi Indonesia dalam ASCN 2026 semakin mengukuhkan posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang konsisten mengembangkan konsep smart city berbasis pelayanan publik, sekaligus menjadi contoh implementasi transformasi digital yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!