BPOLBF dan IN-FLORES Rumuskan Masa Depan Ekowisata Labuan Bajo

Jum'at, 17 Juli 2026 - 14:43 WIB
Sedangkan Plt Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyampaikan harapannya agar seminar ini mampu menghasilkan rekomendasi nyata dalam memperkuat ekowisata di Manggarai Barat.

"Semoga forum ini menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan komitmen bersama yang dapat menjadi pijakan dalam memperkuat pengembangan ekowisata yang berkualitas, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat. Karena pada akhirnya, masa depan Labuan Bajo Flores bukan hanya tentang destinasi yang kita bangun, melainkan tentang warisan yang kita tinggalkan bagi generasi mendatang," ujar Andhy.

Seminar ini menghadirkan para pakar dan praktisi nasional yang membahas berbagai praktik terbaik, tantangan, serta rekomendasi kebijakan pengembangan ekowisata.

Narasumber yang hadir yaitu Wiratno (Senior Expert in Forest Conservation & Resource Management), Ricky Avenzora (Guru Besar Manajemen Ekowisata IPB University), Petrus Antonius Rasyid (Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat), Ary Sendjaja Suhandi (Direktur Indonesian Ecotourism Network), Mochamad Nalendra (Direktur Wise Step Consulting), serta Rahmi Fajar Harini (Co-Founder Eco Tourism Bali).

Diskusi dipandu oleh dua moderator, yakni Diena M. Lemy, Guru Besar Ilmu Manajemen Jasa Kepariwisataan Universitas Pelita Harapan (UPH), dan Septian Hutagalung, dosen Politeknik eL Bajo Commodus. Secara umum, para narasumber menekankan pentingnya kolaborasi multipihak, penguatan tata kelola destinasi, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penerapan kebijakan berbasis konservasi sebagai fondasi pengembangan ekowisata di Manggarai Barat.

Menutup rangkaian kegiatan, Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga menegaskan bahwa seminar ini merupakan bagian penting dalam strategi mewujudkan pariwisata berkualitas di Manggarai Barat.

"Seminar ini menjadi bagian penting dari tahapan dalam mewujudkan pariwisata Manggarai Barat yang lebih berkualitas. Pengembangan konservasi dan kepariwisataan membutuhkan dukungan seluruh pihak agar ekowisata yang berkualitas benar-benar dapat diwujudkan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan ekowisata tidak hanya diukur dari tingginya jumlah kunjungan wisatawan, tetapi dari kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga keseimbangan antara konservasi, manfaat bagi masyarakat, dan kualitas pengalaman wisata.

Seminar ini menghasilkan tujuh usulan rekomendasi, yakni:
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!