Teknologi Pupuk Hayati Dongkrak Produktivitas Sawah di Subang, Hasil Panen Tembus 4,76 Ton per Hektare

Sabtu, 11 Juli 2026 - 21:28 WIB
Sementara itu, Agronomis PT IMP 168, Rohman, menjelaskan penerapan teknologi budidaya tersebut relatif sederhana sehingga mudah diadopsi petani. Pembenah tanah HumicGen diaplikasikan saat pengolahan lahan sekitar dua minggu sebelum tanam. Selanjutnya pupuk hayati Pureplant disemprotkan pada umur tanaman 7, 14, 21, dan 30 hari setelah tanam.

"Prosedurnya sederhana. Pupuk cukup dicampur air lalu disemprotkan sesuai jadwal aplikasi sehingga mudah diterapkan oleh petani," ujarnya.

Pureplant mengandung berbagai mikroorganisme yang berfungsi membantu proses biologis di dalam tanah, seperti bakteri penambat nitrogen, pelarut fosfat dan kalium, serta mikroba dekomposer. Produk tersebut juga diklaim mengandung zat pengatur tumbuh (fitohormon) yang mendukung pertumbuhan akar, batang, daun, hingga fase pembungaan tanaman.

Selain padi, produk tersebut disebut dapat diaplikasikan pada berbagai komoditas pangan, hortikultura, dan perkebunan, antara lain sawit, kakao, kopi, alpukat, mangga, dan durian.

Melalui program ini, Intani berharap teknologi budidaya berbasis pupuk hayati dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!