Teknologi Pupuk Hayati Dongkrak Produktivitas Sawah di Subang, Hasil Panen Tembus 4,76 Ton per Hektare

Sabtu, 11 Juli 2026 - 21:28 WIB
loading...
Teknologi Pupuk Hayati...
Produktivitas demplot sawah yang sebelumnya hanya sekitar 1 ton gabah per hektare meningkat menjadi sekitar 4,76 ton per hektare. FOTO/IST
A A A
SUBANG - Demplot budidaya padi organik di kawasan Lembur Pakuan, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, mencatat lonjakan produktivitas yang signifikan. Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Subang bersama petani pada Jumat (10/7/2026), produktivitas lahan yang sebelumnya hanya sekitar 1 ton gabah per hektare meningkat menjadi sekitar 4,76 ton per hektare.

Pengukuran dilakukan pada demplot seluas 1,12 hektare yang merupakan lahan baru bekas kebun rambutan dan selama tiga musim tanam dikenal memiliki produktivitas rendah.

Kepala Desa Sukasari, Olih Solihin, mengatakan peningkatan hasil tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi petani karena lahan tersebut selama ini tergolong sulit menghasilkan panen optimal. "Ini lahan baru bekas kebun rambutan yang dijadikan sawah. Sudah tiga kali tanam hasilnya hanya sekitar satu ton per hektare. Sekarang hasilnya lebih dari 4 ton per hektare. Tentu kami sangat bersyukur," kata Olih Solihin dalam keterangannya, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Olih, berbagai metode budidaya dan penggunaan pupuk, baik kimia maupun organik, sebelumnya telah dicoba. Namun produktivitas tetap berada di bawah rata-rata sawah di wilayah tersebut.

"Rata-rata produksi di kawasan ini sekitar 3 ton per hektare. Yang menarik, lahan yang sebelumnya ekstrem kini mampu mencapai sekitar 4,7 ton per hektare," katanya.

Demplot tersebut merupakan program kolaborasi Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) bersama Pemerintah Desa Sukasari, didukung PT Intani Bumi Lestari (IBL) dan PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168) sebagai penyedia pupuk hayati Pureplant dan pembenah tanah HumicGen.

Ketua Intani Jawa Barat, Riyan Sumindar, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya memperbaiki kualitas tanah pertanian yang menurutnya banyak mengalami degradasi kesuburan.

"Tujuan kami bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperbaiki kesehatan tanah dan menekan biaya produksi petani. Dengan aplikasi Pureplant dan HumicGen, biaya budidaya menurut perhitungan kami bisa jauh lebih efisien dibandingkan pola konvensional," ujarnya.

Riyan juga menyebut umur panen pada demplot tersebut relatif lebih singkat. Pengambilan sampel dilakukan pada umur tanaman 86 hari setelah tanam yang dimulai pada 15 April 2026, sedangkan panen dijadwalkan pada hari ke-88.

"Hasil panen nantinya diperkirakan tidak akan jauh berbeda dengan hasil ubinan. Bisa sedikit lebih tinggi atau sedikit lebih rendah," kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran itu.

Ia menjelaskan Pureplant dikembangkan menggunakan mikroorganisme lokal yang berasal dari sumber hayati Indonesia dan dirancang untuk mendukung pemulihan kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Sementara itu, Agronomis PT IMP 168, Rohman, menjelaskan penerapan teknologi budidaya tersebut relatif sederhana sehingga mudah diadopsi petani. Pembenah tanah HumicGen diaplikasikan saat pengolahan lahan sekitar dua minggu sebelum tanam. Selanjutnya pupuk hayati Pureplant disemprotkan pada umur tanaman 7, 14, 21, dan 30 hari setelah tanam.

"Prosedurnya sederhana. Pupuk cukup dicampur air lalu disemprotkan sesuai jadwal aplikasi sehingga mudah diterapkan oleh petani," ujarnya.

Pureplant mengandung berbagai mikroorganisme yang berfungsi membantu proses biologis di dalam tanah, seperti bakteri penambat nitrogen, pelarut fosfat dan kalium, serta mikroba dekomposer. Produk tersebut juga diklaim mengandung zat pengatur tumbuh (fitohormon) yang mendukung pertumbuhan akar, batang, daun, hingga fase pembungaan tanaman.

Selain padi, produk tersebut disebut dapat diaplikasikan pada berbagai komoditas pangan, hortikultura, dan perkebunan, antara lain sawit, kakao, kopi, alpukat, mangga, dan durian.

Melalui program ini, Intani berharap teknologi budidaya berbasis pupuk hayati dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Program Ketahanan Pangan,...
Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset
China Bakal Bangun Pusat...
China Bakal Bangun Pusat Padi dan Sekolah Vokasi di Papua
Legislator PDIP Minta...
Legislator PDIP Minta Truk Pupuk Diprioritaskan di Tengah Kelangkaan Solar
Gubernur ASR Hadiri...
Gubernur ASR Hadiri PSBM XXVI, Sultra Dapat Tambahan Cetak Sawah 10 Ribu Hektare
BNPT dan FKPT Jabar...
BNPT dan FKPT Jabar Tanam Toleransi lewat Aksi Sosial di Subang
Banjir Rob Rendam Subang,...
Banjir Rob Rendam Subang, 861 Rumah dan 2.648 Warga Terdampak
Padi Reborn Bawa Konser...
Padi Reborn Bawa Konser 'Dua Delapan' ke Layar Lebar, Siap Manjakan Sobat Padi
Padi Reborn Abadikan...
Padi Reborn Abadikan Magis Panggung 360 Derajat, Hadirkan Cinematic Experience Konser Dua Delapan
Presiden Prabowo: Hanya...
Presiden Prabowo: Hanya di Indonesia Polisi Ngurus Pertanian, Tentaranya Sering Ada di Sawah
Rekomendasi
Tak Sekadar Hilangkan...
Tak Sekadar Hilangkan Bau Badan, Deodoran Tawas Dorong Gaya Hidup Sehat
Akademi Persib Bandung...
Akademi Persib Bandung dan Putri Garut Berebut Gelar Juara U-18 HYDROPLUS Soccer League All-Stars
Bendungan Sidan dan...
Bendungan Sidan dan Keureuto Diresmikan, Brantas Abipraya Perkuat Ketahanan Air dan Pangan
Berita Terkini
Teknologi Pupuk Hayati...
Teknologi Pupuk Hayati Dongkrak Produktivitas Sawah di Subang, Hasil Panen Tembus 4,76 Ton per Hektare
Setkab Dokumentasikan...
Setkab Dokumentasikan Pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih di Sinjai
Perkuat Sinergi Polri...
Perkuat Sinergi Polri dan Media lewat Padel Bhayangkara Cup 2026
Jawab Kebutuhan Industri,...
Jawab Kebutuhan Industri, UMB Kenalkan Profesi Insinyur pada Siswa SMK
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan...
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan Sangihe, Simak Hasil Analisis BMKG
Puluhan Profesor dan...
Puluhan Profesor dan Dosen UNJ bersama Billy Mambrasar, Latih Seribu Guru di Daerah Terpencil
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved