Kaltim Tawarkan Industri Fatty Amine Rp1,88 Triliun di Bontang

Rabu, 20 Mei 2026 - 14:47 WIB
Hingga saat ini, kebutuhan fatty amine domestik masih sangat bergantung pada pasokan impor. Padahal, ceruk pasar global untuk komoditas ini sangat seksi.

Pada tahun 2022 saja, permintaan dunia menembus 1,7 juta ton dan diprediksi terus meroket hingga tahun 2029 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 6,6 persen.

Bagi para calon investor, proyek yang dirancang memiliki kapasitas produksi fatty amine sebesar 20 ribu ton dan gliserol 4 ribu ton per tahun ini menawarkan indikator keuangan yang sangat sehat dan menjanjikan.

“Tidak sekadar mengejar profitabilitas, proyek ini juga dirancang sebagai pionir industri masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan demi mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs). Kawasan pabrik nantinya dilengkapi area terbuka hijau, pemanfaatan panel surya, penerapan green architecture, serta sistem smart building,” kata Aspian Nur.

Kehadiran proyek ini akan menjadi katalisator penting bagi perekonomian regional dan nasional. Keberadaan proyek industri fatty amine juga ditekankan tidak hanya bertujuan mendorong angka investasi semata, tapi juga memperkuat posisi Kaltim sebagai episentrum hilirisasi industri berbasis sumber daya alam di Indonesia.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!