Kaltim Tawarkan Industri Fatty Amine Rp1,88 Triliun di Bontang
Rabu, 20 Mei 2026 - 14:47 WIB
loading...
Pemkot Bontang menawarkan proyek strategis pengembangan industri Fatty Amine bernilai fantastis yakni Rp1,88 triliun. Foto: Ist
A
A
A
BONTANG - Peluang investasi di sektor hilirisasi industri Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menunjukkan taji di kancah internasional. Melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO), Kota Bontang kini resmi menawarkan proyek strategis pengembangan industri Fatty Amine bernilai fantastis yakni Rp1,88 triliun.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar penguatan industri hilir berbasis sumber daya alam di Benua Etam. “Proyek raksasa ini diproyeksikan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri dalam negeri,” ujar Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur, Rabu (20/5/2026).
Industri fatty amine ini direncanakan tegak berdiri di Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. Kawasan ini dipilih karena memiliki keunggulan geopolitik dan logistik yang sangat matang.
Baca juga: Pemkot Bontang Buka Karpet Merah Industri Pengalengan Ikan
Kemudian, dekat dengan pelabuhan utama dan kawasan industri eksisting didukung penuh infrastruktur energi andalan di Kota Bontang. Lalu, berada di wilayah yang dekat dengan produsen amonia dan raksasa petrokimia.
Fatty amine merupakan produk turunan kelapa sawit bernilai tambah tinggi yang menjadi bahan baku utama consumer goods, mulai dari pelembut pakaian, deterjen, kosmetik, hingga produk pembersih rumah tangga.
Hingga saat ini, kebutuhan fatty amine domestik masih sangat bergantung pada pasokan impor. Padahal, ceruk pasar global untuk komoditas ini sangat seksi.
Pada tahun 2022 saja, permintaan dunia menembus 1,7 juta ton dan diprediksi terus meroket hingga tahun 2029 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 6,6 persen.
Bagi para calon investor, proyek yang dirancang memiliki kapasitas produksi fatty amine sebesar 20 ribu ton dan gliserol 4 ribu ton per tahun ini menawarkan indikator keuangan yang sangat sehat dan menjanjikan.
“Tidak sekadar mengejar profitabilitas, proyek ini juga dirancang sebagai pionir industri masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan demi mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs). Kawasan pabrik nantinya dilengkapi area terbuka hijau, pemanfaatan panel surya, penerapan green architecture, serta sistem smart building,” kata Aspian Nur.
Kehadiran proyek ini akan menjadi katalisator penting bagi perekonomian regional dan nasional. Keberadaan proyek industri fatty amine juga ditekankan tidak hanya bertujuan mendorong angka investasi semata, tapi juga memperkuat posisi Kaltim sebagai episentrum hilirisasi industri berbasis sumber daya alam di Indonesia.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar penguatan industri hilir berbasis sumber daya alam di Benua Etam. “Proyek raksasa ini diproyeksikan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri dalam negeri,” ujar Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur, Rabu (20/5/2026).
Industri fatty amine ini direncanakan tegak berdiri di Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. Kawasan ini dipilih karena memiliki keunggulan geopolitik dan logistik yang sangat matang.
Baca juga: Pemkot Bontang Buka Karpet Merah Industri Pengalengan Ikan
Kemudian, dekat dengan pelabuhan utama dan kawasan industri eksisting didukung penuh infrastruktur energi andalan di Kota Bontang. Lalu, berada di wilayah yang dekat dengan produsen amonia dan raksasa petrokimia.
Fatty amine merupakan produk turunan kelapa sawit bernilai tambah tinggi yang menjadi bahan baku utama consumer goods, mulai dari pelembut pakaian, deterjen, kosmetik, hingga produk pembersih rumah tangga.
Hingga saat ini, kebutuhan fatty amine domestik masih sangat bergantung pada pasokan impor. Padahal, ceruk pasar global untuk komoditas ini sangat seksi.
Pada tahun 2022 saja, permintaan dunia menembus 1,7 juta ton dan diprediksi terus meroket hingga tahun 2029 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 6,6 persen.
Bagi para calon investor, proyek yang dirancang memiliki kapasitas produksi fatty amine sebesar 20 ribu ton dan gliserol 4 ribu ton per tahun ini menawarkan indikator keuangan yang sangat sehat dan menjanjikan.
“Tidak sekadar mengejar profitabilitas, proyek ini juga dirancang sebagai pionir industri masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan demi mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs). Kawasan pabrik nantinya dilengkapi area terbuka hijau, pemanfaatan panel surya, penerapan green architecture, serta sistem smart building,” kata Aspian Nur.
Kehadiran proyek ini akan menjadi katalisator penting bagi perekonomian regional dan nasional. Keberadaan proyek industri fatty amine juga ditekankan tidak hanya bertujuan mendorong angka investasi semata, tapi juga memperkuat posisi Kaltim sebagai episentrum hilirisasi industri berbasis sumber daya alam di Indonesia.
(jon)
Lihat Juga :