Pemerintah Gunakan Telur HE untuk BPNT, Peternak Blitar Kelimpungan

Minggu, 20 September 2020 - 20:33 WIB
Kebijakan penggunaan telur HE berawal dari merosotnya harga daging ayam. Sebagai solusi pemerintah melakukan cutting, yakni menggagalkan penetasan telur ayam potong. Telur yang sudah berada di mesin tetas selama 18 Minggu, sengaja tidak ditetaskan dan menjadikannya sebagai telur HE. "Tujuannya untuk mengangkat harga daging ayam. Tapi dampaknya ke telur layer," keluhnya.

Kondisi ini diperparah dengan adanya kebijakan PSBB COVID-19 di DKI Jakarta. Pengiriman telur ayam dari Blitar ke DKI Jakarta turun drastis. Yakni semula 230 ton/bulan menjadi 40 ton. Namun untungnya, pihak koperasi telur ayam Blitar masih bisa menjajaki sejumlah pasar modern serta bekerjasama dengan koperasi lain di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. "Kemudian juga bekerjasama dengan lumbung pangan Jawa Timur," papar Sukarman.

Terkait membanjirnya telur HE karena digunakan sebagai program BPNT, menurut Sukarman para peternak hanya bisa pasrah. Mereka hanya bisa menunggu harga jual telur layer kembali membaik. Sejauh ini pihaknya belum melayangkan protes ke pemerintah. "Dulu pernah kirim surat (protes) sampai presiden. Sekarang belum," pungkas Sukarman.

(Baca juga: Brutal, Geng Motor Rusak Madrasah di Kota Tasikmalaya )

Seperti diketahui, Kabupaten Blitar merupakan lumbung telur ayam. Jumlah populasi ayam pe telur di Kabupaten Blitar mencapai 16,8 juta ekor, dengan rata-rata produksi 540 ton/hari. Dengan kapasitas yang melimpah ruah tersebut, telur ayam Kabupaten Blitar mampu mencukupi 70 persen kebutuhan telur di Jawa Timur dan 30 persen kebutuhan telur nasional.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!