Menguak Tabir Hubungan Rahasia Kerajaan Nusantara dan Kesultanan Persia: Diplomasi Rempah yang Mengubah Wajah Indonesia!
Senin, 06 April 2026 - 05:45 WIB
Pada masa Kerajaan Sriwijaya, kapal-kapal Persia dari Teluk Persia (Siraf dan Hormuz) telah menjadikan Palembang sebagai pelabuhan transito utama. Mereka membawa air mawar, mutiara, dan karpet untuk ditukar dengan emas dan kapur barus kualitas tertinggi dari Barus. Penemuan arkeologis berupa pecahan keramik pirus asal Persia di situs Bongal, Tapanuli Tengah, menjadi saksi bisu betapa sibuknya jalur ini di abad ke-7 hingga ke-9.
Memasuki abad ke-13, hubungan ini bergeser dari sekadar ekonomi menjadi pertukaran ideologi dan politik. Kesultanan Samudera Pasai menjadi magnet bagi kaum intelektual Persia.
Tahun 1297 M: Wafatnya Sultan Malikussaleh menandai era baru. Makamnya tidak hanya menunjukkan pengaruh Gujarat, tetapi juga pola hiasan Lajevard yang populer di Persia.
Baca juga: 8 Kerajaan Islam di Indonesia, dari Samudera Pasai hingga Mataram Islam
Kehadiran tokoh besar Ibnu Battuta dalam perjalanannya di tahun 1345 M, terkejut menemukan banyak pejabat istana Pasai yang fasih berbahasa Persia. Salah satunya adalah Syarif Amir Sayyid dari Shiraz dan Tajuddin dari Isfahan. Mereka bukan sekadar tamu, melainkan pengatur strategi politik kesultanan.
Puncak Intelektual: Samudera Pasai dan Napas Shiraz (Abad 13-14 M)
Memasuki abad ke-13, hubungan ini bergeser dari sekadar ekonomi menjadi pertukaran ideologi dan politik. Kesultanan Samudera Pasai menjadi magnet bagi kaum intelektual Persia.
Tahun 1297 M: Wafatnya Sultan Malikussaleh menandai era baru. Makamnya tidak hanya menunjukkan pengaruh Gujarat, tetapi juga pola hiasan Lajevard yang populer di Persia.
Baca juga: 8 Kerajaan Islam di Indonesia, dari Samudera Pasai hingga Mataram Islam
Kehadiran tokoh besar Ibnu Battuta dalam perjalanannya di tahun 1345 M, terkejut menemukan banyak pejabat istana Pasai yang fasih berbahasa Persia. Salah satunya adalah Syarif Amir Sayyid dari Shiraz dan Tajuddin dari Isfahan. Mereka bukan sekadar tamu, melainkan pengatur strategi politik kesultanan.
Lihat Juga :