Disertasi UI Tawarkan Model Penyelesaian Sengketa Rawa Pening Berbasis Keadilan Ruang
Rabu, 17 Desember 2025 - 22:51 WIB
Menurut Tondi, kebijakan penataan ruang yang diterapkan selama ini justru berfungsi sebagai faktor pendorong baru konflik. Hal tersebut menciptakan siklus umpan balik negatif antara kebijakan negara, kondisi lingkungan, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Sebagai alternatif penyelesaian, disertasi tersebut menawarkan model harmonisasi sengketa berbasis keadilan dan partisipasi. Model ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pelembagaan forum multipihak sebagai ruang dialog setara antara negara dan masyarakat, penyelesaian hak tenurial melalui mekanisme yudisial dan partisipatif, serta strategi adaptasi sosio-ekologis berbasis mata pencaharian berkelanjutan.
Strategi adaptasi yang diusulkan mencakup pengembangan ekowisata berbasis komunitas hingga pemanfaatan eceng gondok melalui hilirisasi produk. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan sistem sosial dan ekologi danau sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Disertasi ini menegaskan bahwa tata kelola lingkungan tidak dapat bertumpu pada pendekatan top-down semata. Keadilan prosedural, pengakuan hak masyarakat, dan distribusi manfaat yang adil dinilai menjadi prasyarat utama pembangunan berkelanjutan di kawasan lahan basah seperti Rawa Pening.
Bagi pembuat kebijakan, riset ini menjadi pengingat penting untuk meninggalkan pendekatan sektoral dan membuka ruang dialog yang lebih substantif. Sementara bagi masyarakat dan organisasi sipil, temuan ini mendorong partisipasi yang lebih aktif dan berbasis data dalam penyelesaian konflik lingkungan.
Sebagai alternatif penyelesaian, disertasi tersebut menawarkan model harmonisasi sengketa berbasis keadilan dan partisipasi. Model ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pelembagaan forum multipihak sebagai ruang dialog setara antara negara dan masyarakat, penyelesaian hak tenurial melalui mekanisme yudisial dan partisipatif, serta strategi adaptasi sosio-ekologis berbasis mata pencaharian berkelanjutan.
Strategi adaptasi yang diusulkan mencakup pengembangan ekowisata berbasis komunitas hingga pemanfaatan eceng gondok melalui hilirisasi produk. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan sistem sosial dan ekologi danau sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Disertasi ini menegaskan bahwa tata kelola lingkungan tidak dapat bertumpu pada pendekatan top-down semata. Keadilan prosedural, pengakuan hak masyarakat, dan distribusi manfaat yang adil dinilai menjadi prasyarat utama pembangunan berkelanjutan di kawasan lahan basah seperti Rawa Pening.
Bagi pembuat kebijakan, riset ini menjadi pengingat penting untuk meninggalkan pendekatan sektoral dan membuka ruang dialog yang lebih substantif. Sementara bagi masyarakat dan organisasi sipil, temuan ini mendorong partisipasi yang lebih aktif dan berbasis data dalam penyelesaian konflik lingkungan.
(abd)
Lihat Juga :