Harmonisasi Majapahit dan Campa Mulai dari Pernikahan Politik hingga Pemberian Suaka ke Raja

Selasa, 04 November 2025 - 08:37 WIB
Salah satu dampak positifnya bagi Singasari ketika tentara Mongol atas suruhan Kubilai Khan pada akhir abad 13 M hendak menghukum Prabu Kertanegara. Mereka mendapat kecaman keras dari Raja Singawarman, penguasa Campa. Keakraban hubungan Campa dengan Jawa ini kemudian berlanjut ketika Singasari telah runtuh dan Majapahit berdiri.

Pada 1314 M, misalnya ketika Majapahit dipimpin Prabu Jayanagara, bekas Raja Campa yang bernama Che Nang terusir dari negaranya. Lalu, pada 1318 M Che Nang meminta suaka politik ke Jayanegara selaku raja Majapahit.

Che Nang terusir dari negaranya, karena kegagalannya merebut kembali wilayah yang ada di bagian utara kerajaannya dari bangsa Vietnam. Kekalahan ini membuat Che Nang, bukan hanya kehilangan takhta kerajaannya, tapi juga terusir dari negaranya sehingga membuatnya terpaksa mengungsi ke Jawa.

Campa memang merupakan kerajaan tetangga yang mempunyai hubungan lebih istimewa dengan Majapahit (Jawa) dibanding dengan kerajaan-kerajaan tetangga lainnya. Faktornya mungkin karena sejak sebelum Majapahit berdiri Kerajaan Campa ini sudah menjalin hubungan kekeluargaan dengan Jawa melalui Kerajaan Singasari.

Ketika Majapahit eksis, hubungan kekeluargaan melalui ikatan pernikahan ini masih terus dijalin yaitu ketika Putri Campa dinikahi oleh Prabhu Brawijaya V, raja Majapahit terakhir. Serat Kanda dan Babat Tanah Jawi memberitakan bahwa pada awal abad 15 Raja Brawijaya V dari Majapahit menikah dengan Putri Campa, yang beragama Islam dengan bergelar Putri Dwarawati. Putri Campa yang menjadi istri Brawijaya V ini meninggal pada tahun 1448 M sebagaimana yang tercatat dalam batu nisannya di Trowulan.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!