Atasi Masalah Sampah, Pemkot Cilegon Luncurkan Program ISWMP

Kamis, 18 September 2025 - 15:58 WIB
Pilot project ini mulai dilaksanakan pada Desember 2024 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan secara kolaboratif. Di tingkat pusat dan provinsi, Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Banten turut mendampingi jalannya kegiatan. Dan di tingkat lokal, DLH Kota Cilegon, pemerintah kelurahan, serta jajaran RT/RW berperan aktif dalam mobilisasi dan fasilitasi warga.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan kuat dari komunitas lokal, seperti Bank Sampah Al-Bustaniyah dan komunitas peduli lingkungan Cinta Bersih. Tak hanya itu, kolaborasi lintas sektor semakin diperkuat dengan keterlibatan sektor swasta dan lembaga sosial, termasuk Cakra Buana dan Vital Ocean Indonesia, yang memberikan kontribusi nyata dalam edukasi dan penyediaan sarana.

“Inisiatif ini menunjukkan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat terwujud melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta yang bekerja dalam satu visi: membangun sistem persampahan berbasis partisipasi dan kesadaran kolektif,”katanya.

Berbagai tahapan dijalankan untuk menumbuhkan kebiasaan memilah sampah dari rumah. Mulai dari sosialisasi lewat Focus Group Discussion (FGD), penyuluhan dari rumah ke rumah, pelatihan budidaya maggot, hingga pembentukan sistem penimbangan dan pengangkutan terpilah. Media informasi seperti leaflet, stiker, spanduk, dan konten digital juga dibagikan ke warga melalui kanal komunikasi komunitas.

Infrastruktur sederhana pun disiapkan. Tempat sampah terpilah, komposter, hanggar penampungan, serta alat penunjang seperti timbangan digital dan buku catatan bank sampah mulai digunakan. Bank Sampah Al-Bustaniyah berperan aktif mengelola sampah anorganik, bahkan melakukan pengangkutan langsung dari rumah warga menggunakan kendaraan roda empat.

Perubahan mulai terlihat hanya dalam waktu tiga bulan. Sebanyak 69 KK dari total 87 atau 79% KK mulai rutin memilah sampah di rumah. Anggota Bank Sampah bertambah menjadi 32 rumah tangga. Volume sampah yang dibuang ke TPA otomatis menurun. Tercatat dari 6.444 Kg per bulan sebelum proyek, menjadi 6.227 Kg di akhir Februari 2025. Selama program berjalan, total 975 kg sampah anorganik berhasil dikumpulkan untuk didaur ulang atau dijual kembali melalui bank sampah.

“Partisipasi warga meningkat tak hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam kualitas. Edukasi tentang pemilahan mulai melekat dalam kebiasaan sehari-hari. Warga mulai memahami pentingnya memilah organik, anorganik, dan residu,” katanya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!