Kisah KH Idham Chalid, Ketua DPR Termiskin tapi Paling Kaya Teladan
Selasa, 02 September 2025 - 09:14 WIB
Kisah paling terkenal dari kesederhanaan Idham Chalid adalah kebiasaan keluarganya menggunakan metromini untuk bepergian. Anak-anaknya tetap naik transportasi umum meski ayah mereka seorang pejabat tinggi negara.
Baca juga: Hoegeng, Jenderal Antisuap Hidup Pas-pasan dari Gaji Polisi
Bahkan, beberapa anaknya berjualan nasi dan air minum untuk membantu biaya kebutuhan sehari-hari. Bayangkan, seorang Ketua DPR yang memiliki akses luas ke fasilitas negara, tetapi keluarganya tetap hidup seperti rakyat kebanyakan.
Bagi Idham, jabatan adalah amanah, bukan hak istimewa. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuasaan tidak boleh mengubah nilai-nilai kesederhanaan. Karena sikap inilah, masyarakat kemudian menjulukinya sebagai Ketua DPR termiskin, meskipun sejatinya beliau kaya raya dalam hal integritas.
Sejarah mencatat, Idham Chalid bahkan sempat ditawari posisi yang lebih tinggi dalam pemerintahan, termasuk kesempatan untuk mendampingi Presiden Soeharto sebagai wakil presiden. Namun, tawaran itu ditolaknya dengan rendah hati.
Baginya, pengabdian tidak harus selalu dalam lingkaran kekuasaan. Ia lebih memilih mengabdi melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan umat di pesantren.
Baca juga: Hoegeng, Jenderal Antisuap Hidup Pas-pasan dari Gaji Polisi
Bahkan, beberapa anaknya berjualan nasi dan air minum untuk membantu biaya kebutuhan sehari-hari. Bayangkan, seorang Ketua DPR yang memiliki akses luas ke fasilitas negara, tetapi keluarganya tetap hidup seperti rakyat kebanyakan.
Bagi Idham, jabatan adalah amanah, bukan hak istimewa. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuasaan tidak boleh mengubah nilai-nilai kesederhanaan. Karena sikap inilah, masyarakat kemudian menjulukinya sebagai Ketua DPR termiskin, meskipun sejatinya beliau kaya raya dalam hal integritas.
Menolak Jabatan Lebih Tinggi
Sejarah mencatat, Idham Chalid bahkan sempat ditawari posisi yang lebih tinggi dalam pemerintahan, termasuk kesempatan untuk mendampingi Presiden Soeharto sebagai wakil presiden. Namun, tawaran itu ditolaknya dengan rendah hati.
Baginya, pengabdian tidak harus selalu dalam lingkaran kekuasaan. Ia lebih memilih mengabdi melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan umat di pesantren.
Kembali ke Pesantren dan Masyarakat
Lihat Juga :