Wacana JIS Dikelola Swasta, Bagaimana Peluang Persija?

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 07:26 WIB
"Namun, di balik peluang itu, realita finansial klub Macan Kemayoran membuat kemungkinan tersebut terlihat tipis," ucapnya.

Berbeda dengan klub-klub di Eropa memiliki pondasi finansial keuangan yang kuat dan sponsor yang besar, Persija saat ini berada dalam kondisi finansial yang tidak baik-baik saja. Masalah ini bukan sekadar isu internal melainkan sudah menjadi pembicaraan terbuka di kalangan pemain, suporter, bahkan asosiasi sepak bola profesional.

Musim lalu menjadi catatan pahit. Klub ini tersandung masalah keterlambatan pembayaran gaji pemain. Pelatih karateker Ricky Nelson secara terbuka mengakui memang sempat ada masalah internal setalah putaran kedua, gaji pemain terlambat.

Keluhan juga datang dari Ketua The Jakmania Dicky Budi Ramadhan yang mengkritik gaya belanja pemain yang tidak seimbang dengan kemampuan finansial klub. Bahkan Asosiasi Sepakbola Profesional Indonesia (APPI) memastikan sejumlah pemain mengalami tunggakan gaji hingga 2-3 bulan.

Kondisi ini bukan hanya memengaruhi hubungan klub dengan pemain, tetapi juga menggerus kepercayaan pemangku kepentingan lainnya. Dalam industri sepak bola profesional, reputasi finansial yang buruk bisa menjadi hambatan besar dalam mendapatkan investasi dan kerja sama strategis.

"Ketidakpastian ini menimbulkan risiko besar jika Persija tetap memaksakan ingin memegang kendali penuh terhadap JIS," kata Erzan.

Tahun ini, Pramono bahkan turun tangan membantu Persija dengan menghadirkan BUMD sebagai sponsor di antaranya PAM Jaya, Bank Jakarta, MRT Jakarta, Transjakarta, termasuk Jakpro selaku pemilik aset JIS yang turut memberikan keringanan biaya sewa stadion dan memprioritaskan Persija untuk menggelar pertandingan kandang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!