Pelarian Epik Raden Wijaya: Dari Singasari ke Madura, Perahu Jadi Penyelamat!
Senin, 24 Februari 2025 - 05:55 WIB
Raden Wijaya terharu menerima sambutan ramah tamah itu. Kemudian ia bermaksud melanjutkan perjalanannya sebagaimana dikutip dari "Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit".
Baca juga: Kisah Raden Wijaya Memilih Lokasi Ibu Kota Kerajaan Majapahit
Di situlah salah satu pasukan andalannya bernama Gadjah Pagon terlalu letih akibat lukanya pada paha, tidak dapat ikut serta.
Ia ditinggalkan di Dusun Pandak, disembunyikan di tengah ladang. Makan minumnya dijaga setiap hari oleh para penghuni desa. Raden Wijaya meninggalkan Dusun Pandak menuju Dataran. Dari situ lalu naik perahu menuju Madura.
Pada Kakawin Pararaton, Dusun Pandak tidak disebut, yang disebut adalah Datar. Dalam hal ini boleh dikatakan ada persesuaian berita antara Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama.
Lempengan tembaga yang terdapat di Gunung Butak di daerah Majakerta yang dikeluarkan oleh Raja Kertarajasa Jayawardana, yakni nama abiseka Raden Wijaya, pada tahun Saka 1216 atau tahun Masehi 1294 sebagian telah diterjemahkan oleh ahli bahasa kuno Belanda Dr. Brandes. Sebagian lagi sudah diterbitkan dalam Oud Javaansche Oorkonden.
Baik dalam terjemahan Dr. Brandes maupun dalam piagam yang belum diterjemahkan itu tidak terdapat nama Dusun Pandak. Piagam itu sekarang terkenal dengan namanya Piagam Kudadu.
Baca juga: Kisah Raden Wijaya Memilih Lokasi Ibu Kota Kerajaan Majapahit
Di situlah salah satu pasukan andalannya bernama Gadjah Pagon terlalu letih akibat lukanya pada paha, tidak dapat ikut serta.
Ia ditinggalkan di Dusun Pandak, disembunyikan di tengah ladang. Makan minumnya dijaga setiap hari oleh para penghuni desa. Raden Wijaya meninggalkan Dusun Pandak menuju Dataran. Dari situ lalu naik perahu menuju Madura.
Pada Kakawin Pararaton, Dusun Pandak tidak disebut, yang disebut adalah Datar. Dalam hal ini boleh dikatakan ada persesuaian berita antara Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama.
Lempengan tembaga yang terdapat di Gunung Butak di daerah Majakerta yang dikeluarkan oleh Raja Kertarajasa Jayawardana, yakni nama abiseka Raden Wijaya, pada tahun Saka 1216 atau tahun Masehi 1294 sebagian telah diterjemahkan oleh ahli bahasa kuno Belanda Dr. Brandes. Sebagian lagi sudah diterbitkan dalam Oud Javaansche Oorkonden.
Baik dalam terjemahan Dr. Brandes maupun dalam piagam yang belum diterjemahkan itu tidak terdapat nama Dusun Pandak. Piagam itu sekarang terkenal dengan namanya Piagam Kudadu.
Lihat Juga :