Persemaian Bibit Skala Besar di 5 Daerah Dukung Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Rabu, 11 Desember 2024 - 09:27 WIB
"Gambaran yang dihasilkan dari monitoring hutan dan deforestasi tahun 2022- 2023 menurut Ditjen PKTL sudah bisa terlihat pada citra satelit bahwa muncul hutan-hutan baru dari hasil penanaman pohon atau RHL setelah lebih kurang 5-6 tahun penanaman," katanya.
Selanjutnya kerja kolaborasi multipihak merupakan langkah yang didorong Pemerintah dalam kerja RHL. Pembangunan Persemaian Skala Besar Liang Anggang (PLA) ini merupakan pembangunan menggunakan langkah kolaborasi dengan skema Skema Public-Private Partnership (PPP).
Dengan kolaborasi ini PLA dibangun melalui kerja sama KLHK dengan Kementerian PUPR Ditjen Sumber Data Air (BWS Kalimantan III) untuk penyediaan airnya, dan PT Adaro Energy Indonesia untuk konstruksi areal produksinya.
Pembangunan Persemaian Skala Besar merupakan paradigma baru dari pelajaran sangat berharga. Kombinasi kerja antara pola pembibitan banyak jenis bibit atau pohon yang biasa dilakukan pemerintah melalui Persemaian Permanen dikombinasikan dengan pembibitan skala sangat besar dengan puluhan hingga juta bibit dengan pola monokultur yang biasa diterapkan oleh Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).
Kolaborasi juga dilakukan dengan Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan mulai dari proses perencanaan, distribusi, hingga monitoring bibitnya. Bibit dari PLA diharapkan dapat mempercepat kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan di wilayah pengelolaan BPDAS Barito baik yang dilakukan oleh Kementerian LHK maupun yang dilakukan pemerintah daerah.
Sekda Kalimantan Selatan Roy Rizali Anwar menyambut baik peresmian PLA. Dengan keberadaan PLA maka dapat mendukung Gerakan Revolusi Hijau yang diprogramkan Provinsi Kalimantan Selatan untuk memulihkan lahan melalui rehabilitasi lahan dan hutan.
"Juga mendukung target pengurangan emisi yang tercantum dalam target NDC Indonesia yang salah satunya diwujudkan melalui Program Indonesia FOLU Net Sink 2030," ujarnya.
Pemerintah mendorong semua pihak untuk berkolaborasi dalam percepatan pemulihan lingkungan. Lalu, upaya peningkatan tutupan hutan dan lahan atau reforestasi serta berkaitan sangat erat dengan langkah-langkah Indonesia dalam merespons kondisi global dengan isu pokok dan paling popular yaitu berkaitan dengan sustainability, biodiversity, dan sirkuler ekonomi juga dalam orientasi carbon offset.
Selanjutnya kerja kolaborasi multipihak merupakan langkah yang didorong Pemerintah dalam kerja RHL. Pembangunan Persemaian Skala Besar Liang Anggang (PLA) ini merupakan pembangunan menggunakan langkah kolaborasi dengan skema Skema Public-Private Partnership (PPP).
Dengan kolaborasi ini PLA dibangun melalui kerja sama KLHK dengan Kementerian PUPR Ditjen Sumber Data Air (BWS Kalimantan III) untuk penyediaan airnya, dan PT Adaro Energy Indonesia untuk konstruksi areal produksinya.
Pembangunan Persemaian Skala Besar merupakan paradigma baru dari pelajaran sangat berharga. Kombinasi kerja antara pola pembibitan banyak jenis bibit atau pohon yang biasa dilakukan pemerintah melalui Persemaian Permanen dikombinasikan dengan pembibitan skala sangat besar dengan puluhan hingga juta bibit dengan pola monokultur yang biasa diterapkan oleh Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).
Kolaborasi juga dilakukan dengan Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan mulai dari proses perencanaan, distribusi, hingga monitoring bibitnya. Bibit dari PLA diharapkan dapat mempercepat kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan di wilayah pengelolaan BPDAS Barito baik yang dilakukan oleh Kementerian LHK maupun yang dilakukan pemerintah daerah.
Sekda Kalimantan Selatan Roy Rizali Anwar menyambut baik peresmian PLA. Dengan keberadaan PLA maka dapat mendukung Gerakan Revolusi Hijau yang diprogramkan Provinsi Kalimantan Selatan untuk memulihkan lahan melalui rehabilitasi lahan dan hutan.
"Juga mendukung target pengurangan emisi yang tercantum dalam target NDC Indonesia yang salah satunya diwujudkan melalui Program Indonesia FOLU Net Sink 2030," ujarnya.
Pemerintah mendorong semua pihak untuk berkolaborasi dalam percepatan pemulihan lingkungan. Lalu, upaya peningkatan tutupan hutan dan lahan atau reforestasi serta berkaitan sangat erat dengan langkah-langkah Indonesia dalam merespons kondisi global dengan isu pokok dan paling popular yaitu berkaitan dengan sustainability, biodiversity, dan sirkuler ekonomi juga dalam orientasi carbon offset.
Lihat Juga :