Kisah Haru Soeharto Pimpin Iringan Jenazah Jenderal Soedirman

Sabtu, 28 September 2024 - 15:10 WIB
Segala upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan nyawa sang Panglima, namun takdir berkata lain. Jenderal Soedirman menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 18.30 sore itu.

Kepergian Jenderal Soedirman bukan hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, istri, dan ketujuh putra-putrinya yang masih kecil. Seluruh jajaran angkatan bersenjata kehilangan seorang pemimpin besar yang menjadi teladan.

Keesokan harinya, pada 30 Januari 1950, Soeharto yang saat itu telah kembali memimpin Brigade di Yogyakarta setelah pengakuan kedaulatan, mendapat amanah untuk memimpin pengangkutan jenazah Jenderal Soedirman dari Magelang menuju Yogyakarta.

Baca juga: Pencabutan Nama Soeharto dari Tap MPR Dinilai Lecehkan Keluarga Korban Pelanggaran HAM

Seluruh Angkatan Perang RIS diperintahkan untuk berkabung selama tujuh hari dengan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan.

Pemerintah pun menetapkan hari wafatnya sang Panglima sebagai Hari Berkabung Nasional.

Perdana Menteri RIS Mohammad Hatta, dalam pidatonya mengumumkan bahwa pemerintah menaikkan pangkat Letnan Jenderal Soedirman secara anumerta menjadi Jenderal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!