Sultanah Safiatuddin, Ratu Pertama Kesultanan Aceh Pecinta Ilmu Pengetahuan

Selasa, 10 September 2024 - 06:10 WIB
Selama 35 tahun memimpin, Sultanah Safiatuddin membentuk pasukan perempuan pengawal istana yang turut bertempur dalam Perang Malaka pada tahun 1639. Ia juga melanjutkan tradisi pemberian tanah kepada para pahlawan perang sebagai bentuk penghargaan.

Sultanah Safiatuddin dikenal sebagai sosok yang cerdas dan aktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, ia menguasai empat bahasa lainnya, yaitu Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu.

Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro dan Gerakan Anti Tionghoa untuk Melawan Belanda

Pada masa pemerintahannya, ilmu pengetahuan dan kesusastraan berkembang pesat, menghasilkan banyak karya besar. Sultanah Safiatuddin juga berhasil menolak upaya Belanda untuk menempatkan diri di Aceh, membuat VOC gagal memperoleh komoditi seperti timah.

Sebagai pemimpin, Safiatuddin juga memperhatikan peningkatan status perempuan di masyarakat. Ia membuat peraturan yang mendukung kesetaraan gender dan perlindungan perempuan, termasuk menerapkan Cap Sikureung, stempel resmi Kesultanan Aceh Darussalam.

Sultanah Safiatuddin wafat pada 23 Oktober 1675, meninggalkan warisan kepemimpinan yang kuat dan memajukan Aceh dalam berbagai bidang, termasuk politik, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Setelah kematian Sultan Iskandar Muda, tahta Kesultanan Aceh dipegang oleh suami Safiatuddin, Sultan Iskandar Tsani, yang merupakan putra Sultan Ahmad Syah dari Pahang, Malaysia. Mereka menikah pada tahun 1617 setelah Pahang ditaklukkan oleh Sultan Iskandar Muda.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!