Kisah Keangkuhan Kertajaya, Penguasa Kediri yang Mengaku Tuhan hingga Membawa Malapetaka
Rabu, 28 Agustus 2024 - 06:24 WIB
Kemarahan Kertajaya pun memuncak. Mereka yang menolak untuk menyembahnya, yang tidak sepaham dengan keinginannya, dihukum tanpa ampun. Kaum brahmana dan rakyat biasa yang setia pada ajaran Hindu dan Buddha menjadi sasaran penyiksaan. Banyak yang disiksa hingga menemui ajal hanya karena tidak mau mengakui Kertajaya sebagai Tuhan. Sebaliknya, mereka yang tunduk pada keinginannya diberi kedudukan terhormat, meskipun di balik kehormatan itu tersembunyi pengkhianatan terhadap keyakinan mereka.
Namun, kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan dan keserakahan tidak akan bertahan lama. Di tengah penindasan yang semakin menjadi-jadi, bangkitlah seorang pahlawan yang akan menjadi senjata pamungkas kaum brahmana. Namanya Ken Arok, seorang ksatria tangguh yang diakui oleh para brahmana sebagai titisan Dewa Siwa. Mereka memberikan gelar Bhatara Guru kepada Ken Arok, sebuah gelar yang menjadi simbol harapan dan perlawanan terhadap tirani Kertajaya.
Kertajaya, yang sebelumnya menyombongkan diri bahwa hanya Dewa Siwa yang bisa mengalahkannya, kini dihadapkan pada sosok yang dipandang sebagai perwujudan dari dewa tersebut. Pertempuran besar pun tak terhindarkan. Ken Arok, dengan restu dan dukungan penuh dari para brahmana, memimpin pemberontakan yang akhirnya berhasil menumbangkan Kertajaya. Raja yang pernah mengaku sebagai Tuhan itu pun menemui ajalnya, takluk di hadapan kekuatan yang lebih besar—bukan sekadar kekuatan fisik, tetapi kekuatan keyakinan dan kebenaran yang tak dapat dibungkam oleh keangkuhan seorang manusia.
Kejatuhan Kertajaya menandai akhir dari kejayaan Kediri, sekaligus menjadi awal dari era baru di Nusantara. Kisahnya menjadi pelajaran abadi tentang bahaya kesombongan dan keserakahan, serta tentang kekuatan sejati yang terletak pada kesetiaan terhadap nilai-nilai kebenaran, bukan pada kekuatan magis atau klaim ketuhanan yang palsu.
Namun, kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan dan keserakahan tidak akan bertahan lama. Di tengah penindasan yang semakin menjadi-jadi, bangkitlah seorang pahlawan yang akan menjadi senjata pamungkas kaum brahmana. Namanya Ken Arok, seorang ksatria tangguh yang diakui oleh para brahmana sebagai titisan Dewa Siwa. Mereka memberikan gelar Bhatara Guru kepada Ken Arok, sebuah gelar yang menjadi simbol harapan dan perlawanan terhadap tirani Kertajaya.
Kertajaya, yang sebelumnya menyombongkan diri bahwa hanya Dewa Siwa yang bisa mengalahkannya, kini dihadapkan pada sosok yang dipandang sebagai perwujudan dari dewa tersebut. Pertempuran besar pun tak terhindarkan. Ken Arok, dengan restu dan dukungan penuh dari para brahmana, memimpin pemberontakan yang akhirnya berhasil menumbangkan Kertajaya. Raja yang pernah mengaku sebagai Tuhan itu pun menemui ajalnya, takluk di hadapan kekuatan yang lebih besar—bukan sekadar kekuatan fisik, tetapi kekuatan keyakinan dan kebenaran yang tak dapat dibungkam oleh keangkuhan seorang manusia.
Kejatuhan Kertajaya menandai akhir dari kejayaan Kediri, sekaligus menjadi awal dari era baru di Nusantara. Kisahnya menjadi pelajaran abadi tentang bahaya kesombongan dan keserakahan, serta tentang kekuatan sejati yang terletak pada kesetiaan terhadap nilai-nilai kebenaran, bukan pada kekuatan magis atau klaim ketuhanan yang palsu.
(hri)
Lihat Juga :