Kisah Eks Pasukan Jepang di Malang yang Berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia

Rabu, 21 Agustus 2024 - 11:00 WIB
Menariknya, beberapa anggota eks pasukan Jepang ini bahkan mengubah identitas mereka, baik dengan mengganti nama maupun memeluk agama Islam. Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Tatsuo-Ichiki, yang kemudian mengganti namanya menjadi Abdul Rahman. Ia menjadi penggerak utama, mengumpulkan puluhan eks tentara Jepang di wilayah Blitar dan Malang, yang kemudian membentuk PGI di bawah komando Brigade Surahmad, atau yang dikenal sebagai Brigade "S".

Kehebatan PGI tidak dapat dipandang sebelah mata. Dengan pelatihan militer yang mereka miliki, bekas tentara Jepang ini mampu melakukan serangan gerilya yang sangat terorganisir dan efektif. Salah satu serangan yang paling dikenang adalah pada 3 Oktober 1948, ketika PGI bersama laskar rakyat dari Wajak menyerang Pos Belanda di Tumpang. Serangan ini dilakukan dengan cepat dan tepat, menggunakan bahan peledak dan taktik pembakaran, yang berhasil membakar asrama pasukan Belanda dan menewaskan tiga serdadu musuh.

“Serangan ini tidak hanya menghancurkan pos Belanda di Tumpang, tetapi juga menunjukkan bahwa eks tentara Jepang yang tergabung dalam PGI memiliki kemampuan militer yang sangat tinggi, bahkan membingungkan pasukan Belanda yang awalnya mengira mereka hanya pejuang gerilya biasa,” ungkap Eko.

Kini, lokasi-lokasi bersejarah seperti Pasar Jeru Lama dan Kantor Kecamatan Tumpang, yang dulu menjadi saksi bisu perlawanan heroik ini, menyimpan cerita tentang persatuan, perjuangan, dan keberanian yang melampaui batas nasional. Kisah para eks pasukan Jepang ini tidak hanya menambah warna dalam sejarah perjuangan Indonesia, tetapi juga mengingatkan kita bahwa dalam perjuangan untuk kemerdekaan, sekutu bisa datang dari tempat yang tak terduga.
(hri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!