Petani Tembakau di Rembang Keluhkan Perusahaan Tidak Terbuka
Senin, 24 Agustus 2020 - 02:47 WIB
“Contoh kita jual 4 bal, tapi grade nya beda-beda, ada yang F2, P2, S1, S2. Tapi nggak ada rinciannya lebih valid. Selama ini diglobal, F1,F2 berapa kilo langsung diglobal duwite sekian. Kalau bisa diatur sedemikian rupa, biar transparan antara petani dengan Sadana, “ imbuhnya disambut tepuk tangan para petani.
Menanggapi masalah tersebut, perwakilan PT. Sadana Arif Nusa, Heri Sukeni menjelaskan program kucuran modal untuk tanaman tembakau digilir dari satu daerah ke daerah lain. Apalagi menurutnya, petani tembakau di Kabupaten Rembang sudah cukup mandiri. Meski demikian, pihaknya akan mengajukan usulan tersebut kepada manajemen perusahaan.
“Proyek ini tidak hanya di Rembang saja, kemungkinan dari finansial dialihkan ke tempat lain. Kalau tahun ini memang tidak ada. Untuk tahun 2021, jika bapak ibu minta itu (modal-Red), akan kami sampaikan ke manajemen di Surabaya, “ terangnya.
Soal keterbukaan grade tembakau, Heri merasa sudah fair, karena petani bisa langsung diskusi dengan grader. “Saat tembakau jalan, petani dan grader bisa diskusi, itu masuk kwalitas apa. Silahkan diskusi, tembakau saya sesuai dengan yang digrading nggak, “ tutur Heri. (Baca: Hadapi Hama Ulat, Petani Tembakau Kembangkan 2 Varietas )
Ia mengakui bukti kitir (kertas data tembakau-Red) tidak dirinci. Kalau ada permintaan dirinci, belum bisa disetujui tahun 2020 ini. Tapi pada prinsipnya, saat penentuan kwalitas tembakau, petani bisa komunikasi langsung dengan petugas grader. “Total kilo gram nya secara timbangan sudah ada, yang belum ada nilainya F1 berapa dan seterusnya. Belum dapat kami rinci. Monggo dikomunikasikan dengan kami. Tanya, ndak apa-apa, “ tandasnya.
Menanggapi masalah tersebut, perwakilan PT. Sadana Arif Nusa, Heri Sukeni menjelaskan program kucuran modal untuk tanaman tembakau digilir dari satu daerah ke daerah lain. Apalagi menurutnya, petani tembakau di Kabupaten Rembang sudah cukup mandiri. Meski demikian, pihaknya akan mengajukan usulan tersebut kepada manajemen perusahaan.
“Proyek ini tidak hanya di Rembang saja, kemungkinan dari finansial dialihkan ke tempat lain. Kalau tahun ini memang tidak ada. Untuk tahun 2021, jika bapak ibu minta itu (modal-Red), akan kami sampaikan ke manajemen di Surabaya, “ terangnya.
Soal keterbukaan grade tembakau, Heri merasa sudah fair, karena petani bisa langsung diskusi dengan grader. “Saat tembakau jalan, petani dan grader bisa diskusi, itu masuk kwalitas apa. Silahkan diskusi, tembakau saya sesuai dengan yang digrading nggak, “ tutur Heri. (Baca: Hadapi Hama Ulat, Petani Tembakau Kembangkan 2 Varietas )
Ia mengakui bukti kitir (kertas data tembakau-Red) tidak dirinci. Kalau ada permintaan dirinci, belum bisa disetujui tahun 2020 ini. Tapi pada prinsipnya, saat penentuan kwalitas tembakau, petani bisa komunikasi langsung dengan petugas grader. “Total kilo gram nya secara timbangan sudah ada, yang belum ada nilainya F1 berapa dan seterusnya. Belum dapat kami rinci. Monggo dikomunikasikan dengan kami. Tanya, ndak apa-apa, “ tandasnya.
Lihat Juga :