Kisah Pasukan Siliwangi Konvoi 600 Km Bersama Anak Istri Hadapi Serangan Belanda dan DI/TII

Jum'at, 12 Juli 2024 - 07:01 WIB
Baca Juga: Serangan Subuh Idulfitri, Pasukan Siliwangi Tembak Mati Pentolan Pemberontak Paling Dicari

Panglima Besar Jenderal Soedirman memainkan peran penting dalam situasi ini. Menyadari bahwa serangan Belanda akan datang, ia memerintahkan pasukan Siliwangi untuk bergerak kembali ke Jawa Barat dan membentuk perlawanan gerilya. Perjalanan panjang ini dimulai dengan penuh keringat dan darah, dipimpin oleh Letnan Kolonel Daan Yahya. Pasukan Siliwangi harus menempuh hutan-hutan gelap, menyeberangi sungai-sungai deras, dan menghadapi hewan-hewan liar.

Ketika tiba di Jawa Barat, pasukan Siliwangi mengalami kesulitan untuk diterima kembali di wilayah operasi mereka. Bahkan, pasukan DI/TII menawarkan kerjasama agar pasukan Siliwangi bisa diterima kembali, namun tawaran ini ditolak karena pasukan Siliwangi ingin tetap mengabdi kepada bangsa Indonesia.

Kisah perjalanan panjang ini diabadikan dalam film "Darah dan Doa" yang diproduksi pada tahun 1950 oleh Usmar Ismail. Film ini menggambarkan perjuangan dan pengorbanan pasukan Siliwangi, yang harus berjalan sejauh 600 km dari Yogyakarta ke Jawa Barat setelah ibu kota republik dikuasai oleh Belanda. Dengan perintah Jenderal Soedirman, pasukan Siliwangi melaksanakan perintah Siasat No.1 pada Mei 1948 untuk kembali bergerak ke Jawa Barat dan melakukan perlawanan.

Film ini bukan hanya menceritakan tentang perjuangan militer, tetapi juga menggambarkan bagaimana pasukan Siliwangi dan keluarga mereka menghadapi tantangan besar dengan keberanian dan keteguhan hati. Perjalanan yang penuh dengan pengorbanan ini akhirnya diakhiri pada tahun 1950 dengan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia.
(hri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!