Kisah Pasukan Siliwangi Konvoi 600 Km Bersama Anak Istri Hadapi Serangan Belanda dan DI/TII

Jum'at, 12 Juli 2024 - 07:01 WIB
loading...
Kisah Pasukan Siliwangi...
Dalam perjalanan sejauh 600 km ini, pasukan Siliwangi menghadapi berbagai rintangan, dari medan yang berbahaya hingga serangan musuh. Foto/Ist
A A A
Pada tahun 1948, ketika Belanda melancarkan serangan besar-besaran yang menyebabkan jatuhnya Yogyakarta, sebuah kisah epik tentang keberanian dan pengorbanan pasukan Siliwangi tercipta. Pasukan yang dibentuk dalam Divisi Siliwangi ini bertugas di garis depan pertahanan TNI di Provinsi Banten dan Jawa Barat. Divisi ini, yang kemudian dikenal sebagai Komando Daerah Militer III/Siliwangi, berjuang keras untuk mempertahankan tanah air.

Kisah heroik ini diceritakan dalam buku "Long March Siliwangi" karya Himawan Soetanto, yang mengisahkan perjalanan panjang pasukan Siliwangi kembali ke kampung halaman mereka di Jawa Barat. Perjalanan ini penuh dengan pengorbanan, termasuk kehilangan harta benda, darah, dan nyawa. Dalam perjalanan sejauh 600 km ini, pasukan Siliwangi menghadapi berbagai rintangan, dari medan yang berbahaya hingga serangan musuh.

Salah satu saksi mata yang ikut dalam perjalanan ini adalah Kolonel TB Simatupang, yang bergabung dengan Batalyon Daeng di bawah pimpinan Letnan Kolonel Daan Yahya. Simatupang menggambarkan betapa beratnya perjalanan ini, di mana pasukan dan keluarga mereka harus berjalan kaki melalui jalan gelap, menyeberangi sungai deras, dan mendaki bukit-bukit licin. Mereka juga harus menghadapi kelaparan, penyakit, dan serangan militer Belanda serta teror dari pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Selama perjalanan, banyak anak-anak dan perempuan yang tewas akibat bom pesawat-pesawat Belanda. Kondisi ini semakin diperparah dengan minimnya persediaan makanan dan alat bertahan hidup. Pasukan Siliwangi harus menahan lapar dan terus bergerak menuju tujuan mereka. Bahkan, beberapa ibu yang baru melahirkan terpaksa meninggalkan bayi-bayi mereka kepada penduduk desa yang mereka lewati, demi keselamatan anak-anak mereka.

Baca Juga: Serangan Subuh Idulfitri, Pasukan Siliwangi Tembak Mati Pentolan Pemberontak Paling Dicari

Panglima Besar Jenderal Soedirman memainkan peran penting dalam situasi ini. Menyadari bahwa serangan Belanda akan datang, ia memerintahkan pasukan Siliwangi untuk bergerak kembali ke Jawa Barat dan membentuk perlawanan gerilya. Perjalanan panjang ini dimulai dengan penuh keringat dan darah, dipimpin oleh Letnan Kolonel Daan Yahya. Pasukan Siliwangi harus menempuh hutan-hutan gelap, menyeberangi sungai-sungai deras, dan menghadapi hewan-hewan liar.

Ketika tiba di Jawa Barat, pasukan Siliwangi mengalami kesulitan untuk diterima kembali di wilayah operasi mereka. Bahkan, pasukan DI/TII menawarkan kerjasama agar pasukan Siliwangi bisa diterima kembali, namun tawaran ini ditolak karena pasukan Siliwangi ingin tetap mengabdi kepada bangsa Indonesia.

Kisah perjalanan panjang ini diabadikan dalam film "Darah dan Doa" yang diproduksi pada tahun 1950 oleh Usmar Ismail. Film ini menggambarkan perjuangan dan pengorbanan pasukan Siliwangi, yang harus berjalan sejauh 600 km dari Yogyakarta ke Jawa Barat setelah ibu kota republik dikuasai oleh Belanda. Dengan perintah Jenderal Soedirman, pasukan Siliwangi melaksanakan perintah Siasat No.1 pada Mei 1948 untuk kembali bergerak ke Jawa Barat dan melakukan perlawanan.

Film ini bukan hanya menceritakan tentang perjuangan militer, tetapi juga menggambarkan bagaimana pasukan Siliwangi dan keluarga mereka menghadapi tantangan besar dengan keberanian dan keteguhan hati. Perjalanan yang penuh dengan pengorbanan ini akhirnya diakhiri pada tahun 1950 dengan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia.
(hri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
AS Dilanda Frustasi,...
AS Dilanda Frustasi, Mengapa Operasi Perang Jilid II Jadi Pertaruhan Trump?
JK Minta Pasukan TNI...
JK Minta Pasukan TNI Tetap Bertugas di UNIFIL: Kalau Mundur Dikira Penakut
Indonesia Tunda Kirim...
Indonesia Tunda Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza Imbas Perang AS-Israel dengan Iran
Rekomendasi
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
BAIC Pasang Strategi...
BAIC Pasang Strategi Agresif di Indonesia, DP 10%, Potongan Rp50 Juta
Janji Tesla 10 Tahun...
Janji Tesla 10 Tahun Lalu Diwujudkan Xiaomi: Robot Charger EV Otomatis
Berita Terkini
Nabung Emas di BRImo...
Nabung Emas di BRImo Kini Otomatis Lewat Fitur Toggle, Modal Mulai Rp10 Ribu!
Sempat Memanas, Mahasiswa...
Sempat Memanas, Mahasiswa yang Demo di Jalan Jenderal Sudirman Akhirnya Membubarkan Diri
Mahasiswa BEM SI Kerakyatan...
Mahasiswa BEM SI Kerakyatan Bubarkan Diri, Polisi Bersihkan Sampah di Depan Gedung DPR
15 Mahasiswa Diterima...
15 Mahasiswa Diterima di Istana Wapres Gibran usai Demo di Jalan Medan Merdeka
Sahroni Apresiasi Polisi...
Sahroni Apresiasi Polisi Ringkus Pelaku Penculikan Lansia di PIK: Tangkap Apa Pun Motifnya!
Demo Mahasiswa Belum...
Demo Mahasiswa Belum Kelar, Arus Lalu Lintas di Jalan Jenderal Sudirman Tersendat
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved