Kisah Penyamaran Kopassus, Jadi Penjual Durian untuk Masuk Markas GAM
Minggu, 16 Juni 2024 - 07:54 WIB
Selama setahun penuh, Badri memetakan situasi di Aceh, khususnya di Lhokseumawe, yang menjadi pusat kekuatan militer GAM. Dengan tekad dan kecerdikan, Badri akhirnya berhasil mendekati para petinggi GAM dan menyamar sebagai seorang petinggi TNI yang berjuang bersama GAM.
Penyamaran Badri begitu rapi sehingga bahkan pasukan TNI yang berpatroli tidak menyadari keberadaannya. Hanya beberapa pimpinan Kopassus yang mengetahui identitas aslinya.
Demi menyempurnakan penyamarannya, Badri dan kelompok GAM sering kali harus menghindari pasukan TNI dengan memberikan informasi palsu tentang gerakan TNI.
Setelah pemberlakuan Darurat Militer pada tahun 2003, ruang gerak GAM semakin sempit. Para pemimpin GAM mulai mendesak untuk diadakannya perundingan damai.
Tim Kopassus yang menyusup ke wilayah GAM melaporkan bahwa amunisi dan logistik GAM sudah sangat menipis. Usai Hari Raya Idul Fitri 2004, datang perintah untuk menangkap tokoh kunci GAM, hidup atau mati.
"Semua tokoh kunci yang menjadi sasaran berada di Cot Girek. Hingga saya pamit pukul 15.00 mereka masih ada di sana. Saya pun masih sempat memberi informasi terakhir kepada induk pasukan. Hari H dan Jam J serangan ditetapkan," tutur Badri.
Penyamaran Badri begitu rapi sehingga bahkan pasukan TNI yang berpatroli tidak menyadari keberadaannya. Hanya beberapa pimpinan Kopassus yang mengetahui identitas aslinya.
Demi menyempurnakan penyamarannya, Badri dan kelompok GAM sering kali harus menghindari pasukan TNI dengan memberikan informasi palsu tentang gerakan TNI.
Setelah pemberlakuan Darurat Militer pada tahun 2003, ruang gerak GAM semakin sempit. Para pemimpin GAM mulai mendesak untuk diadakannya perundingan damai.
Tim Kopassus yang menyusup ke wilayah GAM melaporkan bahwa amunisi dan logistik GAM sudah sangat menipis. Usai Hari Raya Idul Fitri 2004, datang perintah untuk menangkap tokoh kunci GAM, hidup atau mati.
"Semua tokoh kunci yang menjadi sasaran berada di Cot Girek. Hingga saya pamit pukul 15.00 mereka masih ada di sana. Saya pun masih sempat memberi informasi terakhir kepada induk pasukan. Hari H dan Jam J serangan ditetapkan," tutur Badri.
Lihat Juga :