Kuto Gawang, Keraton Kerajaan Palembang yang Hilang Misterius Dihancurkan VOC
Sabtu, 25 Mei 2024 - 06:25 WIB
Pada masa itu pusat pemerintahan di daerah sekitar Kelurahan DuaIlir, di tempat yang sekarang merupakan kompleks PT Pupuk Sriwijaya. Secara natural, lokasi keraton Kesultanan Palembang cukup strategis.
Bahkan secara teknis diperkuat oleh dinding tebal dari kayu unglen dan cerucup, yang membentang antara Plaju dengan Pulau Kembaro, sebuah pulau kecil yang letaknya di tengah Sungai Musi.
Keraton Palembang yang dibangunnya itu disebut Keraton Kuto Gawang, yang bentuknya empat persegi panjang dibentengi dengan kayu besi dan kayu unglen yang tebalnya 30x30 sentimeter per batangnya.
Baca Juga: Kisah Majapahit Kalah Perang dari Pasukan Minang Gegara Siasat Adu Kerbau
Kota berbenteng yang di kemudian hari dikenal dengan nama Kuto Gawang ini mempunyai ukuran 290 Rijnlandsche roede, atau 1093 meter, baik panjang maupun lebarnya.Kota ini dikelilingi dinding setinggi 24 kaki atau sekitar 7,25 meter.
Di mana orang-orang Tionghoa dan Portugis tinggal di tepi Sungai Musi. Sebagaimana dilukiskan dalam sketsa Joan Van der Laen, kota menghadap ke arah Sungai Musi, atau ke arah selatan dengan pintu masuknya melalui Sungai Rengas.
Di sebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe, dan di sebelah baratnya berbatasan dengan Sungai Buah. Pada gambar sketsa tahun 1659, Sungai Taligawe, Sungai Rengas, dan Sungai Buah, tampak terus ke arah utara dan satu sama lain tidak bersambung.
Bahkan secara teknis diperkuat oleh dinding tebal dari kayu unglen dan cerucup, yang membentang antara Plaju dengan Pulau Kembaro, sebuah pulau kecil yang letaknya di tengah Sungai Musi.
Keraton Palembang yang dibangunnya itu disebut Keraton Kuto Gawang, yang bentuknya empat persegi panjang dibentengi dengan kayu besi dan kayu unglen yang tebalnya 30x30 sentimeter per batangnya.
Baca Juga: Kisah Majapahit Kalah Perang dari Pasukan Minang Gegara Siasat Adu Kerbau
Kota berbenteng yang di kemudian hari dikenal dengan nama Kuto Gawang ini mempunyai ukuran 290 Rijnlandsche roede, atau 1093 meter, baik panjang maupun lebarnya.Kota ini dikelilingi dinding setinggi 24 kaki atau sekitar 7,25 meter.
Di mana orang-orang Tionghoa dan Portugis tinggal di tepi Sungai Musi. Sebagaimana dilukiskan dalam sketsa Joan Van der Laen, kota menghadap ke arah Sungai Musi, atau ke arah selatan dengan pintu masuknya melalui Sungai Rengas.
Di sebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe, dan di sebelah baratnya berbatasan dengan Sungai Buah. Pada gambar sketsa tahun 1659, Sungai Taligawe, Sungai Rengas, dan Sungai Buah, tampak terus ke arah utara dan satu sama lain tidak bersambung.
Lihat Juga :