Perubahan Sistem Pemerintahan Majapahit setelah Mundurnya Gajah Mada Akibat Tragedi Bubat
Minggu, 10 Maret 2024 - 06:21 WIB
Gaya pemerintahan Majapahit yang signifikan berubah tentu interaksi antara raja Hayam Wuruk dengan rakyatnya. Hayam Wuruk kerap langsung turun langsung blusukan mengunjungi daerah-daerah di Jawa Timur. Hal ini membuat raja kian memahami kebutuhan rakyat jelata
Kemudian membuat lebih banyak lagi perubahan, salah satunya dengan mengundang setiap bangsawan dan pimpinan kabupaten ke ibu kota dalam sebuah pertemuan nasional yang diadakan setiap bulan Maret. Dalam pertemuan itu, raja menekankan pentingnya memperhatikan wilayah pedesaan.
"Kalian harus teguh mengemban tugas sebagai kelas Wseya-nya petani, teguh pada apa pun yang akan menghasilkan kemakmuran desa-desa di kabupaten; tetaplah berpegang pada prinsip itu! Jembatan, bendungan, jalan-jalan utama, rumah dan seterusnya, segala macam fasilitas umum yang berguna harus ditata," demikian syair yang berkembang dikisahkan pada Nagarakretagama.
Bab lainnya mengisahkan secara rinci kunjungan Hayam Wuruk ke sekeliling wilayah pedesaan. Para penduduk berbaris di tepi jalan, menanti kemunculan raja. Laksana umbul- umbul, gapura-gapura diberi hiasan pada kedua sisinya.
Sementara semua kereta dikumpulkan di sisi-sisi jalan agar orang bisa berdiri di atasnya untuk menonton iring-iringan kerajaan dari kejauhan. Sambutan begitu meriah mengiringi kedatangan Raja Hayam Wuruk, saat blusukan ke desa.
Kemudian membuat lebih banyak lagi perubahan, salah satunya dengan mengundang setiap bangsawan dan pimpinan kabupaten ke ibu kota dalam sebuah pertemuan nasional yang diadakan setiap bulan Maret. Dalam pertemuan itu, raja menekankan pentingnya memperhatikan wilayah pedesaan.
"Kalian harus teguh mengemban tugas sebagai kelas Wseya-nya petani, teguh pada apa pun yang akan menghasilkan kemakmuran desa-desa di kabupaten; tetaplah berpegang pada prinsip itu! Jembatan, bendungan, jalan-jalan utama, rumah dan seterusnya, segala macam fasilitas umum yang berguna harus ditata," demikian syair yang berkembang dikisahkan pada Nagarakretagama.
Bab lainnya mengisahkan secara rinci kunjungan Hayam Wuruk ke sekeliling wilayah pedesaan. Para penduduk berbaris di tepi jalan, menanti kemunculan raja. Laksana umbul- umbul, gapura-gapura diberi hiasan pada kedua sisinya.
Sementara semua kereta dikumpulkan di sisi-sisi jalan agar orang bisa berdiri di atasnya untuk menonton iring-iringan kerajaan dari kejauhan. Sambutan begitu meriah mengiringi kedatangan Raja Hayam Wuruk, saat blusukan ke desa.
(hri)
Lihat Juga :