Pembangkangan Panembahan Senopati Simbol Perlawanan kepada Kerajaan Pajang

Minggu, 18 Februari 2024 - 07:42 WIB
Baca Juga: Perang Saudara Terjadi di Mataram Pascawafatnya Panembahan Senopati

Ia tampak acuh ketika melihat kedatangan dua utusan dari Pajang itu. Sempat terjadi perdebatan antara ketiganya, bahkan Wuragil yang sempat mengajak Wila Marta turun dari kuda dilarangnya. Menurut Wila Marta, mereka jangan sampai turun dari kuda sebelum Senopati turun dari kudanya terlebih dahulu.

Setelah sempat terjadi perdebatan antara ketiganya. Akhirnya sang utusan itu menyampaikan pesan ke Senopati dari Sultan Hadiwijaya penguasa Pajang. Dimana sang Penguasa Pajang itu meminta Senopati untuk berhenti foya-foya, berhenti mengumbar hawa nafsu, makan-minum, mabuk-mabukan, dan bercukur rambut lalu sowan ke Pajang.

Mendengar pernyataan Wuragil itu, Senopati menimpalinya dengan angkuh, "Engkau lapor saja kepada Kang Sultan, saya diperintah berhenti makan-minum? Saya masih doyan. Saya disuruh potong rambut? Biarkan saja, rambut kan tumbuh sendiri, bagaimana harus membersihkan? Saya diperintah untuk sowan? Ya mau saja jika Sultan sudah sembuh dari kesukaannya mengganggu istri orang lain, sembuh dari kesukaan mengambil perawan dari abdinya. Begitu saja jawaban saya."

Hal itu menunjukkan bahwa Senopati benar- benar melakukan pembangkangan terhadap Pajang. Ia mulai berani melawan Sultan Pajang yang mana selain rajanya, juga merupakan ayah angkatnya sendiri. Namun kekurangajarannya Senopati itu tidak dilaporkan pada Sultan Hadiwijaya.
(hri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!