Harga Kebutuhan Pokok Selangit, Bikin Masyarakat di Makassar Menjerit
Kamis, 02 November 2023 - 21:56 WIB
Apalagi kata dia, suaminya yang hanya bekerja serabutan, dia pun harus membantu keuangan keluarga dengan berjualan buras di pinggir jalan. "Untungnya tidak seberapa, ditambah harga yang semakin hari makin tinggi, kalau tidak laku terpaksa kita buang kalau sudah rusak, bukannya untung tapi kita rugi," keluhnya.
Keluhan sama juga diungkapkan Daeng Sangging (60). Dia mengaku sangat merasakan mahalnya harga sembako, karena sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Kami ini masyarakat kecil, dimana kita mendapatkan pemasukan lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari jika harga terus naik," ujarnya.
Wanita paruh baya ini terpaksa mengadu nasib dengan ikut berjualan buras di pagi hari, dengan harapan bisa mendapat untung lebih demi memenuhi kebutuhan hidup. "Tapi namanya kalau harga tinggi ya sulit mendapat untung banyak, untung-untung kalau habis terjual kalau tidak ya rugi. Intinya kami berharap harga kebutuhan pokok bisa turun dan normal kembali," tutur wanita yang hanya tinggal berdua dengan anaknya ini.
Lain lagi dengan warga Makassar bernama Idawati (37). Dia mengaku, juga terdampak dengan semakin naiknya harga kebutuhan pokok. Dia bahkan harus menghemat dari gaji suaminya yang kini sudah tidak menentu. Ditambah dua anaknya sudah memasuki sekolah dasar.
Baca juga: Astaghfirullah! Guru dan Murid Madrasah di Serang Terekam Asyik Mesum di Kamar
"Intinya harga kebutuhan pokok yang naik membuat kami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, ditambah biaya sekolah anak. Semoga ini bisa segera diatasi," katanya. Dia melihat, setiap kali pemerintah memutuskan kenaikan gaji ASN, maka selalu dibarengi dengan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran.
"Kami tidak tahu apakah itu ada pengaruhnya, tapi selama ini kami melihat setiap gaji ASN naik, maka pasti harga kebutuhan juga ikut naik. Sementara tidak semua masyarakat itu pegawai. Mungkin yang gaji naik tidak terpengaruh dengan kenaikan harga, tapi bagaimana rakyat yang bukan pegawai, kan kasihan," ketusnya.
Keluhan sama juga diungkapkan Daeng Sangging (60). Dia mengaku sangat merasakan mahalnya harga sembako, karena sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Kami ini masyarakat kecil, dimana kita mendapatkan pemasukan lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari jika harga terus naik," ujarnya.
Wanita paruh baya ini terpaksa mengadu nasib dengan ikut berjualan buras di pagi hari, dengan harapan bisa mendapat untung lebih demi memenuhi kebutuhan hidup. "Tapi namanya kalau harga tinggi ya sulit mendapat untung banyak, untung-untung kalau habis terjual kalau tidak ya rugi. Intinya kami berharap harga kebutuhan pokok bisa turun dan normal kembali," tutur wanita yang hanya tinggal berdua dengan anaknya ini.
Lain lagi dengan warga Makassar bernama Idawati (37). Dia mengaku, juga terdampak dengan semakin naiknya harga kebutuhan pokok. Dia bahkan harus menghemat dari gaji suaminya yang kini sudah tidak menentu. Ditambah dua anaknya sudah memasuki sekolah dasar.
Baca juga: Astaghfirullah! Guru dan Murid Madrasah di Serang Terekam Asyik Mesum di Kamar
"Intinya harga kebutuhan pokok yang naik membuat kami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, ditambah biaya sekolah anak. Semoga ini bisa segera diatasi," katanya. Dia melihat, setiap kali pemerintah memutuskan kenaikan gaji ASN, maka selalu dibarengi dengan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran.
"Kami tidak tahu apakah itu ada pengaruhnya, tapi selama ini kami melihat setiap gaji ASN naik, maka pasti harga kebutuhan juga ikut naik. Sementara tidak semua masyarakat itu pegawai. Mungkin yang gaji naik tidak terpengaruh dengan kenaikan harga, tapi bagaimana rakyat yang bukan pegawai, kan kasihan," ketusnya.
Lihat Juga :