Antisipasi Dampak Covid-19, Indra Catri Jaga Pertanian Agam
Kamis, 30 April 2020 - 09:20 WIB
Saat ini sektor pertanian merupakan lapangan usaha bagi 35 persen masyarakat di Agam. Sedangkan sektor lainnnya seperti industri perdagangan sebanyak 23 persen dan sektor jasa 43 persen. Jika pandemi covid berlangsung dalam tiga bulan kedepan, diperkirakan akan ada pertambahan pelaku usaha yang bergerak di sektor pertanian menjadi 40 sampai 45 persen. Bila belanjut terus menjadi enam bulan kedepan, sektor industri perdagangan dan jasa akan terdampak besar lagi sehingga diperkirakan pelaku usaha di sektor pertanian meningkat menjadi 50 sampai 60 persen.
“Artinya, struktur ekonomi yang relatif maju, yang kita nikmati beberapa tahun belakangan ini akan bergeser kembali ke sektor primer seperti halnya kondisi pada tahun 2015 bahkan bisa seperti kondisi pada tahun 2010. Agam akan kembali kepada ekonomi sub sistem (premier), atau dengan kata lain akan lebih banyak melayani dan mencukupi kebutuhanya sendiri”, jelas Indra Catri lebih lanjut.
Karena beratnya beban sektor pertanian Agam dimasa depan, Indra Catri berharap agar seluruh pemangku kepentingan memberikan perhatian lebih terhadap keselamatan petani dan kegiatan pertanian. Sektor pertanian Agam ke depan dapat diibaratkan seperti seorang “single parent” yang harus berjuang menghidupi keluarga serta membesarkan anak-anaknya dalam kondisi yang serba sulit.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemkab Agam sudah menyiapkan beberapa strategi penyelamatan yang executable. Pertama, adalah menjamin stabilitas harga komoditas pertanian. Apabila terjadi “permainan harga” dipasaran, pemerintah harus hadir untuk melakukan intervensinya, antara lain dengan cara membeli hasil panen masyarakat oleh Badan Usaha Milik Nagari (BumNag).
Kedua, meningkatkan peran penyuluh pertanian. Terutama dalam memberikan pendampingan dan pengawalan agar petani bekerja secara benar dan sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19 sehingga sektor pertanian tetap berproduksi optimal.
Ketiga, membantu petani agar dapat memperoleh saprodi secara lebih mudah dan tepat waktu khususnya pupuk bersubsidi, benih dan alsintan.
“Artinya, struktur ekonomi yang relatif maju, yang kita nikmati beberapa tahun belakangan ini akan bergeser kembali ke sektor primer seperti halnya kondisi pada tahun 2015 bahkan bisa seperti kondisi pada tahun 2010. Agam akan kembali kepada ekonomi sub sistem (premier), atau dengan kata lain akan lebih banyak melayani dan mencukupi kebutuhanya sendiri”, jelas Indra Catri lebih lanjut.
Karena beratnya beban sektor pertanian Agam dimasa depan, Indra Catri berharap agar seluruh pemangku kepentingan memberikan perhatian lebih terhadap keselamatan petani dan kegiatan pertanian. Sektor pertanian Agam ke depan dapat diibaratkan seperti seorang “single parent” yang harus berjuang menghidupi keluarga serta membesarkan anak-anaknya dalam kondisi yang serba sulit.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemkab Agam sudah menyiapkan beberapa strategi penyelamatan yang executable. Pertama, adalah menjamin stabilitas harga komoditas pertanian. Apabila terjadi “permainan harga” dipasaran, pemerintah harus hadir untuk melakukan intervensinya, antara lain dengan cara membeli hasil panen masyarakat oleh Badan Usaha Milik Nagari (BumNag).
Kedua, meningkatkan peran penyuluh pertanian. Terutama dalam memberikan pendampingan dan pengawalan agar petani bekerja secara benar dan sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19 sehingga sektor pertanian tetap berproduksi optimal.
Ketiga, membantu petani agar dapat memperoleh saprodi secara lebih mudah dan tepat waktu khususnya pupuk bersubsidi, benih dan alsintan.
Lihat Juga :