Loji Gandrung, Perjalanan Sejarah dan Simbol Kekuasaan di Solo (Bagian-1)
Jum'at, 24 Juli 2020 - 05:17 WIB
Tentang arsitektur dari buku profil arsitektur Belanda tahun 1920-an, Loji Gandrung tidak disebut. Tapi bentuk dan ragam hasil karya gedung yang lain, bisa membantu melacak sejarahnya. Kemungkinan jika bukan Thomas Karsten, arsitekturnya sama dengan gedung Bank Indonesia, yakni Biro Ed Cuypres and Hulswit. (Baca juga: PDIP Pilih Gibran, Achmad Purnomo Babat Kumis dan Jenggotnya)
Loji Gandrung dari depan, nampak patung Jenderal Gatot Subroto. Sebagai peringatan akan peristiwa saat Jenderal Gatot Subroto menumpas pemberontakan PKI/Muso dari Loji pada 18 September 1948. Fungsi Loji Gandrung sampai saat ini masih utuh. Pada zaman kolonial, Loji ini digunakan sebagai tempat kediaman pejabat Pemerintah Belanda.
Dan pada masa sekarang digunakan sebagai tempat kediaman Wali Kota Solo. Peralihan itu sejak kemerdekaan RI. Loji Gandrung terdiri dari empat bangunan. “Bagian utama digunakan untuk ruang kerja Wali Kota, ruang rapat, dan ruang untuk menerima tamu,” ungkap Sriyani, petugas rumah tangga Loji Gandrung. Pada bangunan utama juga terdapat kamar yang dulunya pernah dipakai Presiden Sukarno. (Baca juga: Rekomendasi PDIP untuk Gibran, Rudy: Kalau Kecewa, Ya Kecewa)
Sedangkan di bagian sayap sisi barat, terdapat bangunan yang kini dipergunakan untuk ruang ajudan Wali Kota, dan pegawai rumah tangga. Sedangkan bangunan di sayap sisi timur, merupakan kamar yang dipakai untuk keluarga wali kota. Sementara, di bagian belakang terdapat bangunan Joglo Loji Gandrung. Tempat ini biasa digunakan untuk acara acara kedinasan wali kota.
Loji Gandrung dari depan, nampak patung Jenderal Gatot Subroto. Sebagai peringatan akan peristiwa saat Jenderal Gatot Subroto menumpas pemberontakan PKI/Muso dari Loji pada 18 September 1948. Fungsi Loji Gandrung sampai saat ini masih utuh. Pada zaman kolonial, Loji ini digunakan sebagai tempat kediaman pejabat Pemerintah Belanda.
Dan pada masa sekarang digunakan sebagai tempat kediaman Wali Kota Solo. Peralihan itu sejak kemerdekaan RI. Loji Gandrung terdiri dari empat bangunan. “Bagian utama digunakan untuk ruang kerja Wali Kota, ruang rapat, dan ruang untuk menerima tamu,” ungkap Sriyani, petugas rumah tangga Loji Gandrung. Pada bangunan utama juga terdapat kamar yang dulunya pernah dipakai Presiden Sukarno. (Baca juga: Rekomendasi PDIP untuk Gibran, Rudy: Kalau Kecewa, Ya Kecewa)
Sedangkan di bagian sayap sisi barat, terdapat bangunan yang kini dipergunakan untuk ruang ajudan Wali Kota, dan pegawai rumah tangga. Sedangkan bangunan di sayap sisi timur, merupakan kamar yang dipakai untuk keluarga wali kota. Sementara, di bagian belakang terdapat bangunan Joglo Loji Gandrung. Tempat ini biasa digunakan untuk acara acara kedinasan wali kota.
Lihat Juga :