Anggun dan Mempesona, Alasan Raja Mataram Gemar Mencari Selir dari Jawa Timur

Selasa, 30 Mei 2023 - 05:05 WIB
Sekedar catatan, tradisi mengambil perempuan sebagai selir oleh raja Jawa kerap disalahartikan berbeda oleh kolonial Belanda. Selir yang berasal dari kata sineliran atau yang dipilih, ditafsirkan Belanda secara serampangan sebagai bijwijf atau concubine alias gundik atau perempuan simpanan.

Dalam hal ini, sebenarnya Belanda kurang memahami lebih dalam dari berkembangnya tradisi selir. Kolonial Belanda sepintas melihat seolah selir itu melulu untuk memenuhi kebutuhan seksual raja. Baca juga: Kisah Arya Damar Membimbing Tan Eng Kian, Selir Cantik Majapahit Masuk Islam

Padahal di dalam tradisi selir tersimpan misi politik. Pada masa kerajaan Mataram Islam misalnya. Pengambilan selir yang kelak dijadikan permaisuri merupakan salah satu taktik untuk mempertahankan kekuasaan.

Selir yang diambil seringkali berasal dari putri para bangsawan bawahan. Selir menjadi tanda loyalitas bangsawan terhadap raja. Tak heran, tidak sedikit bangsawan yang menyerahkan puteri mereka sebagai upeti, tanda takluk.

Kendati demikian, banyak rakyat biasa yang sukarela menyerahkan putrinya sebagai selir. Jika si anak melahirkan keturunan raja, keluarga dari rakyat jelata itu berharap derajat sosialnya akan ikut terangkat.

Dikutip dari buku Bukan Tabu Nusantara (2018), disebutkan bahwa upaya mengambil selir atau kelak dijadikan permaisuri merupakan salah satu strategi kekuasaan raja-raja Mataram. Hal itu dikenal juga sebagai perkawinan politik. Suatu perpaduan antara motif politik dan seksual.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!