Miris! 49 Anak-anak di Kabupaten Maros Terpapar COVID-19
Kamis, 23 Juli 2020 - 17:20 WIB
Idrus menyebut angka positif COVID-19 pada usia anak di Maros tertinggi di wilayah Kecamatan Mandai. Rata-rata anak itu diketahui tertular melalui orang tua atau anggota keluarga lainnya yang terpapar virus corona lebih dahulu.
"Mereka terpapar dari orang dewasa yang serumah dengan mereka. Karena selama pandemi COVID-19 ini, mereka dibiarkan belajar dari rumah dan mereka semua lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Ini memang sulit dihindari, apalagi kalau yang terpapar itu termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG). Paling banyak itu di Kecamatan Mandai,” jelasnya.
Meski angkanya sangat tinggi, Dinas PPPA Maros mengaku tidak bisa berbuat banyak, selain mengimbau warga untuk terus waspada terhadap penyebaran COVIF-19 yang kian meningkat di Maros ini. Ia juga berharap agar tim medis terus melakukan edukasi ke warga untuk lebih memperhatikan nasib anak.
"Yang paling utama, kita harap semua pihak terus mengedukasi masyarakat, kalau sudah ada gejala begitu, janganlah dulu dekat dengan anak. Kalau perlu anak harus dipisahkan dari lingkungannya dulu, sampai betul-betul aman. Tapi memang agak susah kalau itu OTG," sebutnya.
Menurut Idrus, semua pihak harus duduk kembali untuk mendiskusikan bagaimana menekan tingginya angka penularan COVID-19 ini kepada anak. Baginya, kebijakan Menteri Pendidikan yang tidak memperbolehkan adanya tatap muka bagi anak sekolah sudah sangat tepat.
"Mereka terpapar dari orang dewasa yang serumah dengan mereka. Karena selama pandemi COVID-19 ini, mereka dibiarkan belajar dari rumah dan mereka semua lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Ini memang sulit dihindari, apalagi kalau yang terpapar itu termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG). Paling banyak itu di Kecamatan Mandai,” jelasnya.
Meski angkanya sangat tinggi, Dinas PPPA Maros mengaku tidak bisa berbuat banyak, selain mengimbau warga untuk terus waspada terhadap penyebaran COVIF-19 yang kian meningkat di Maros ini. Ia juga berharap agar tim medis terus melakukan edukasi ke warga untuk lebih memperhatikan nasib anak.
"Yang paling utama, kita harap semua pihak terus mengedukasi masyarakat, kalau sudah ada gejala begitu, janganlah dulu dekat dengan anak. Kalau perlu anak harus dipisahkan dari lingkungannya dulu, sampai betul-betul aman. Tapi memang agak susah kalau itu OTG," sebutnya.
Menurut Idrus, semua pihak harus duduk kembali untuk mendiskusikan bagaimana menekan tingginya angka penularan COVID-19 ini kepada anak. Baginya, kebijakan Menteri Pendidikan yang tidak memperbolehkan adanya tatap muka bagi anak sekolah sudah sangat tepat.
Lihat Juga :