Kisah Gerakan Penculikan KSAD A.H Nasution karena Banyak Tentara Hidup Miskin

Jum'at, 10 Maret 2023 - 13:30 WIB
Aksi penculikan melibatkan perwira RPKAD, yakni salah satunya Komandan RPKAD Mayor Djaelani. Selain itu Zulkifli Lubis juga mengajak Letnan Kolonel Kemal Idris selaku Komandan Resimen Infantri ke-19 Cirebon dan Mayor Soewarto Komandan Resimen Infrantri ke-11 Tasikmalaya.

Aksi berlangsung mencekam. Sejumlah perwira RPKAD yang tidak sejalan dengan aksi penculikan Nasution melakukan perlawanan. Bahkan Mayor Djaelani pada saat itu hendak diringkus oleh pasukannya sendiri.

Baku tembak tak terelakkan. Sejumlah perwira ditangkap oleh para bintara yang menolak gerakan penculikan Nasution. Letnan II L.B Moerdani atau Benny Moerdani yang tidak tahu duduk permasalahan sempat mendapat todongan senjata pada wajahnya.

Baca juga: Jejak Pelacuran di Masa Kolonial Belanda Selalu Hidup Berdampingan dengan Pabrik Gula

Oleh Sersan Agus Hernoto, Benny yang hendak masuk kantor dicegah. Di depan Benny, para bintara RPKAD menyatakan Komandan Djaelani telah melakukan gerakan penghianatan.

“Komandan menghianati kita. Para perwira ini menghianati kita, kita bunuh saja mereka”. Benny kaget dan untungnya berhasil menguasai keadaan. Pertumpahan darah berhasil dicegahnya. Benny memerintahkan semua pasukan untuk meletakkan seluruh senjata.

Gerakan penculikan Nasution pun gagal. Komandan RPKAD Mayor Djaelani menyerah, sedangkan Zulkifli Lubis memilih melarikan diri. Djaelani tidak tahu, gerakannya sudah tercium Nasution melalui orangnya yang ditanam di RPKAD, yakni perwira intelijen Letkol Soekendro.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!