Personel Terbatas, Siap Sambut Tantangan Berat
Sabtu, 11 April 2015 - 10:29 WIB
Personel Terbatas, Siap Sambut Tantangan Berat
A
A
A
Peran petugas pemadam kebakaran (PMK) tak bisa dipandang sebelah mata. Di kota besar dengan permukiman yang padat, ditambah gedung-gedung tinggi, peran mereka begitu vital saat terjadi kebakaran.
Tak terkecuali Kota Yogyakarta. Seperti kota lain, peran PMK kota ini juga sangat vital. Apalagi, kebakaran menjadi salah satu bencana yang terus dikampanyekan untuk diantisipasi. Sebab, potensi bencana berupa kebakaran sangat besar terjadi terutama di kawasankawasan padat penduduk. Tapi, siapkan PMK Kota Yogyakarta? Tentu saja. Riyanto, komandan peleton A menegaskan, apa pun dan bagaimana pun kondisinya, mereka harus siap memberi pertolongan kapan pun.
Walaupun, ia mengakui masih ada beberapa hal yang perlu ditambah. Misalnya saja jumlah personel. Saat ini PMK Kota Yogyakarta diperkuat 21 personel yang tersebar di dua pos, yakni 11 personel di Pos Balai Kota dan sisanya di Pos Mojo, Pingit. Jumlah itu sebenarnya kurang ideal bahkan jika dibandingkan dengan jumlah armada yang dimiliki.
PMK saat ini memiliki sembilan unit mobil termasuk di antaranya satu fire ladder yang bisa menjangkau ketinggian 32 meter. Armada yang dimiliki cukup beragam mulai yang berkapasitas 1.000 liter hingga 6.000 liter. Idealnya, setiap satu unit dioperasikan lima personel. “Kalau dikalikan saja kan jumlahnya baru separuhnya saja. Tapi itu tidak menjadi soal buat kami.
Bagaimana pun kondisinya, kami tetap siap menjalankan tugas. Bahkan jika personel yang piket kurang, maka yang libur pun kami panggil dinas,” ucap Riyanto. Dia menjelaskan, dengan jumlah personel yang terbatas, penanganan kebakaran memang menjadi tantangan. Belum lagi jika lokasinya cukup sulit dijangkau kendaraan besar. Beruntung ada kendaraan berkapasitas 1.000 liter yang lebih mudah masuk jalan sempit, sedangkan kebutuhan airnya disuplai kendaraan lebih besar.
Jika dibutuhkan, fire ladder bisa ambil bagian terutama untuk gedung bertingkat. Sejak didatangkan pada 2009 silam, alat ini setidaknya sudah bertugas dua kali, yakni di Jalan Solo dan terakhir ditugaskan membantu pemadaman di Pertamina Cilacap, Jawa Tengah. Memang, kendaraan ini tak selincah yang lain karena posturnya cukup besar. Tapi ke depan, perannya dirasa akan kian penting menyusul semakin banyaknya gedung bertingkat di wilayah Kota Yogyakarta.
Soal akses, PMK ikut lega karena dilibatkan dalam rekomendasi IMB. “Kami dilibatkan dalam rekomendasi IMB. Tujuannya tentu saja untuk memudahkan akses jika suatu saat terjadi kebakaran. Kami memang sedikit, tapi kami tidak sendiri. PMK daerah tetangga siap membantu, begitu pun kami,” katanya. Di luar tugas memadamkan api, PMK juga rajin mengedukasi pelajar, khususnya usia SD.
Biasanya, para pelajar akan datang untuk belajar banyak hal, baik tugas, cara kerja, maupun operasional alat yang dimiliki. “Anak-anak malah juga mencoba menaiki fire ladder,” ucapnya. Agus Winarto, Kepala BPBD Kota Yogyakarta menambahkan, pihaknya secara intensif melakukan simulasi bencana, baik kebakaran maupun banjir. “Simulasi kebakaran dilakukan di permukiman padat agar masyarakat paham apa yang harus dilakukan sebelum bantuan datang,” tandasnya.
SODIK
Yogyakarta
Tak terkecuali Kota Yogyakarta. Seperti kota lain, peran PMK kota ini juga sangat vital. Apalagi, kebakaran menjadi salah satu bencana yang terus dikampanyekan untuk diantisipasi. Sebab, potensi bencana berupa kebakaran sangat besar terjadi terutama di kawasankawasan padat penduduk. Tapi, siapkan PMK Kota Yogyakarta? Tentu saja. Riyanto, komandan peleton A menegaskan, apa pun dan bagaimana pun kondisinya, mereka harus siap memberi pertolongan kapan pun.
Walaupun, ia mengakui masih ada beberapa hal yang perlu ditambah. Misalnya saja jumlah personel. Saat ini PMK Kota Yogyakarta diperkuat 21 personel yang tersebar di dua pos, yakni 11 personel di Pos Balai Kota dan sisanya di Pos Mojo, Pingit. Jumlah itu sebenarnya kurang ideal bahkan jika dibandingkan dengan jumlah armada yang dimiliki.
PMK saat ini memiliki sembilan unit mobil termasuk di antaranya satu fire ladder yang bisa menjangkau ketinggian 32 meter. Armada yang dimiliki cukup beragam mulai yang berkapasitas 1.000 liter hingga 6.000 liter. Idealnya, setiap satu unit dioperasikan lima personel. “Kalau dikalikan saja kan jumlahnya baru separuhnya saja. Tapi itu tidak menjadi soal buat kami.
Bagaimana pun kondisinya, kami tetap siap menjalankan tugas. Bahkan jika personel yang piket kurang, maka yang libur pun kami panggil dinas,” ucap Riyanto. Dia menjelaskan, dengan jumlah personel yang terbatas, penanganan kebakaran memang menjadi tantangan. Belum lagi jika lokasinya cukup sulit dijangkau kendaraan besar. Beruntung ada kendaraan berkapasitas 1.000 liter yang lebih mudah masuk jalan sempit, sedangkan kebutuhan airnya disuplai kendaraan lebih besar.
Jika dibutuhkan, fire ladder bisa ambil bagian terutama untuk gedung bertingkat. Sejak didatangkan pada 2009 silam, alat ini setidaknya sudah bertugas dua kali, yakni di Jalan Solo dan terakhir ditugaskan membantu pemadaman di Pertamina Cilacap, Jawa Tengah. Memang, kendaraan ini tak selincah yang lain karena posturnya cukup besar. Tapi ke depan, perannya dirasa akan kian penting menyusul semakin banyaknya gedung bertingkat di wilayah Kota Yogyakarta.
Soal akses, PMK ikut lega karena dilibatkan dalam rekomendasi IMB. “Kami dilibatkan dalam rekomendasi IMB. Tujuannya tentu saja untuk memudahkan akses jika suatu saat terjadi kebakaran. Kami memang sedikit, tapi kami tidak sendiri. PMK daerah tetangga siap membantu, begitu pun kami,” katanya. Di luar tugas memadamkan api, PMK juga rajin mengedukasi pelajar, khususnya usia SD.
Biasanya, para pelajar akan datang untuk belajar banyak hal, baik tugas, cara kerja, maupun operasional alat yang dimiliki. “Anak-anak malah juga mencoba menaiki fire ladder,” ucapnya. Agus Winarto, Kepala BPBD Kota Yogyakarta menambahkan, pihaknya secara intensif melakukan simulasi bencana, baik kebakaran maupun banjir. “Simulasi kebakaran dilakukan di permukiman padat agar masyarakat paham apa yang harus dilakukan sebelum bantuan datang,” tandasnya.
SODIK
Yogyakarta
(bbg)