Kini, Sekitar Sutomo yang Disesaki Pedagang
Rabu, 01 April 2015 - 10:28 WIB
Kini, Sekitar Sutomo yang Disesaki Pedagang
A
A
A
MEDAN - Sejak tim gabungan merelokasi pedagang dari Jalan Sutomo ke Pasar Induk Tuntungan, Sabtu (28/3) malam, kondisi Jalan Sutomo terlihat steril dari pedagang.
Akan tetapi, kawasan di sekitarnya, seperti Jalan Seram, Jalan Bedagai, Jalan Sei Kera, Jalan Veteran, hingga Jalan Thamrin, justrubergantidisesaki para pedagang sayur-mayur. Berdasarkan pantauan KORAN SINDO MEDAN kemarin, pedagang terlihat leluasa membongkar muat barang dan bertransaksi dengan pembeli. Pedagang seakan tak peduli meskipun Jalan Sutomo dijaga tim gabungan yang terdiri atas unsur Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan (Dishub), TNI-Polri, dan pihak kecamatan.
Pedagang yang tidak bisa lagi melintas dan membawa dagangan dari Jalan Sutomo memilih memutar balik dari arah Jalan Bintang untuk bisa masuk ke Jalan Seram, Jalan Bedagai, Jalan Sei Kera, Jalan Veteran, dan Jalan Thamrin, yang sebelumnya di sana tidak ada pedagang sayurmayur. “Mau ke mana lagi kami berjualan.
Kalau (pedagang) di Jalan Sutomo itu bisalah mereka pindah ke pasar induk, karena mereka itu toke-toke. Kalau kami, bagaimana mau pindah ke pasar induk, kami hanya pengecer. Sementara kalau mau dapat kios di sana (pasar induk) kami harus bayar, dari mana uang kami,” ujar seorang pedagang sayur-mayur di Jalan Thamrin, Gidion, kemarin. Gidion memilih berjualan di Jalan Thamrin agar tidak kehilangan pelanggan.
Ia mengaku berani berjualan di Jalan Thamrin karena di kawasan itu tidak dijaga aparat. “Mau nggak maulah cari lapak baru yang dekat- dekat di sini, karena pelanggan kami kan sudah tahu lokasi kami di sekitar sini. Kalau ke pasar induk jauh sekali, jadi kami memilih pindah ke kawasan yang di sekitar Jalan Sutomo,” ucapnya. Tidak hanya Gidion, pedagang lainnya juga menolak direlokasi ke pasar induk.
Mamak Ella Tarigan misalnya, pedagang pengecer di Jalan Seram ini, mengaku memilih bertahan di sana karena kios yang disediakan PD Pasar di Pasar Induk Tuntungan sangat kecil. Mamak Ella menyebutkan, kios yang disediakan PD Pasar di Pasar Induk Tuntungan hanya berukuran 1x170 meter, sementara kios yang sekarang ditempati di Jalan Seram ukurannya 3 x 5 meter.
“Tidak layak untuk kami berjualan di sana. Bayangkan saja, apalah yang bisa kami jual di sana dengan ukuran kios seperti itu, untuk duduk saja sudah susah. Maka sampai sekarang belum aku tebus kiosku di sana. DP-nya (uang muka) diminta Rp500.000, selama lima tahun kami harus bayar kios Rp5 juta,” ujarnya.
Lantas apa upaya yang dilakukan pedagang jika digusur paksa oleh Pemko Medan, Mamak Ella menegaskan, akan berjuang terus bertahan berjualan di sekitar Jalan Sutomo. “Kami tetap berupaya bertahan berjualan di sini. Meskipun jalan masuk dari Jalan Sutomo sudah dipalang, tapi kami masih bisa masuk dari Jalan Bintang. Kami bersama ratusan pedagang pengecer yang masih bertahan sudah sepakat tetap berjualan di sini,” ujarnya.
Sementara aktivitas di Pasar Induk Tuntungan terlihat mulai berjalan. Para distributor, pedagang grosir, dan sub-grosir sudah beraktivitas. Akan tetapi, para pedagang terlihat belum menempati kios yang disediakan PD Pasar. Para pedagang masih beraktivitas di luar gedung sub-grosir maupun grosir. Akibatnya, transaksi di dalam pasar induk masih sepi. “Hari pertama jualan ada sekitar 3% dari jumlah pedagang, tapi pada hari kedua sudah 5%.
Lambatlaun pasti banyak yang berjualan di sini. Kalau awal-awal banyak yang menolak itu biasalah,” ujar pedagang grosir di Pasar Induk Tuntungan, Bangun, kemarin. Direktur Utama PD Pasar Kota Medan, Benny Harianto Sihotang mengatakan, pedagang memang masih diberikan toleransi 10 hari ke depan untuk berjualan di luar sebagai upaya sosialisasi kepada pelanggannya.
Sebab pedagang perlu memberikan informasi kepada para pembeli atau pelanggan mengenai lokasi baru tempatnya berjualan. “Jadi sampai 10 hari ke depan, pedagang masih kami biarkan berjualan di luar tempat yang telah disediakan,” ujarnya. Benny menyebutkan, total pedagang yang mampu di-tampung di Pasar Induk Tuntungan sekitar 2.142 pedagang yang terdiri atas pedagang distributor sayur, distributor buah grosir, sub-grosir, serta pedagang eceran.
Pedagang distributor selama ini telah berjualan di seputar Jalan Sutomo dengan menyewa ruko. “Distributor itu setingkat di atas pedagang grosir, jadi mereka sudah mendatangi saya untuk meminta kejelasan dan telah diputuskan lokasi mereka di sisi sebelah timur,” katanya. Diakuinya, masih ada beberapa kekurangan yang didapat dalam pengoperasian Pasar Induk Tuntungan, terutama mengenai ketersediaan angkutan kota (angkot).
“Belum ada angkot yang sampai malam, sementara pedagang ramai mulai malam (dini hari) sampai pagi,” katanya. Terpisah, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengatakan, Pemko Medan akan terus berupaya memfasilitasi kekurangan sarana dan prasarana di Pasar Induk Tuntungan dan memenuhi aspirasi pedagang.
“Secara pelan-pelan kami akan berupaya memfasilitasi, namun semua pedagang kami harapkan mau pindah ke sana meskipun itu secara bertahap,” tandasnya. Eldin mengingatkan bahwa seluruh pedagang di kawasan Jalan Sutomo harus segera pindah ke pasar induk. Pemindahan akan dilakukan bertahan namun tetap dalam waktu tidak lama. “Karena tujuan kami adalah akan melakukan penataan kota di kawasan tersebut,” kata Eldin.
Lia anggia nasution
Akan tetapi, kawasan di sekitarnya, seperti Jalan Seram, Jalan Bedagai, Jalan Sei Kera, Jalan Veteran, hingga Jalan Thamrin, justrubergantidisesaki para pedagang sayur-mayur. Berdasarkan pantauan KORAN SINDO MEDAN kemarin, pedagang terlihat leluasa membongkar muat barang dan bertransaksi dengan pembeli. Pedagang seakan tak peduli meskipun Jalan Sutomo dijaga tim gabungan yang terdiri atas unsur Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan (Dishub), TNI-Polri, dan pihak kecamatan.
Pedagang yang tidak bisa lagi melintas dan membawa dagangan dari Jalan Sutomo memilih memutar balik dari arah Jalan Bintang untuk bisa masuk ke Jalan Seram, Jalan Bedagai, Jalan Sei Kera, Jalan Veteran, dan Jalan Thamrin, yang sebelumnya di sana tidak ada pedagang sayurmayur. “Mau ke mana lagi kami berjualan.
Kalau (pedagang) di Jalan Sutomo itu bisalah mereka pindah ke pasar induk, karena mereka itu toke-toke. Kalau kami, bagaimana mau pindah ke pasar induk, kami hanya pengecer. Sementara kalau mau dapat kios di sana (pasar induk) kami harus bayar, dari mana uang kami,” ujar seorang pedagang sayur-mayur di Jalan Thamrin, Gidion, kemarin. Gidion memilih berjualan di Jalan Thamrin agar tidak kehilangan pelanggan.
Ia mengaku berani berjualan di Jalan Thamrin karena di kawasan itu tidak dijaga aparat. “Mau nggak maulah cari lapak baru yang dekat- dekat di sini, karena pelanggan kami kan sudah tahu lokasi kami di sekitar sini. Kalau ke pasar induk jauh sekali, jadi kami memilih pindah ke kawasan yang di sekitar Jalan Sutomo,” ucapnya. Tidak hanya Gidion, pedagang lainnya juga menolak direlokasi ke pasar induk.
Mamak Ella Tarigan misalnya, pedagang pengecer di Jalan Seram ini, mengaku memilih bertahan di sana karena kios yang disediakan PD Pasar di Pasar Induk Tuntungan sangat kecil. Mamak Ella menyebutkan, kios yang disediakan PD Pasar di Pasar Induk Tuntungan hanya berukuran 1x170 meter, sementara kios yang sekarang ditempati di Jalan Seram ukurannya 3 x 5 meter.
“Tidak layak untuk kami berjualan di sana. Bayangkan saja, apalah yang bisa kami jual di sana dengan ukuran kios seperti itu, untuk duduk saja sudah susah. Maka sampai sekarang belum aku tebus kiosku di sana. DP-nya (uang muka) diminta Rp500.000, selama lima tahun kami harus bayar kios Rp5 juta,” ujarnya.
Lantas apa upaya yang dilakukan pedagang jika digusur paksa oleh Pemko Medan, Mamak Ella menegaskan, akan berjuang terus bertahan berjualan di sekitar Jalan Sutomo. “Kami tetap berupaya bertahan berjualan di sini. Meskipun jalan masuk dari Jalan Sutomo sudah dipalang, tapi kami masih bisa masuk dari Jalan Bintang. Kami bersama ratusan pedagang pengecer yang masih bertahan sudah sepakat tetap berjualan di sini,” ujarnya.
Sementara aktivitas di Pasar Induk Tuntungan terlihat mulai berjalan. Para distributor, pedagang grosir, dan sub-grosir sudah beraktivitas. Akan tetapi, para pedagang terlihat belum menempati kios yang disediakan PD Pasar. Para pedagang masih beraktivitas di luar gedung sub-grosir maupun grosir. Akibatnya, transaksi di dalam pasar induk masih sepi. “Hari pertama jualan ada sekitar 3% dari jumlah pedagang, tapi pada hari kedua sudah 5%.
Lambatlaun pasti banyak yang berjualan di sini. Kalau awal-awal banyak yang menolak itu biasalah,” ujar pedagang grosir di Pasar Induk Tuntungan, Bangun, kemarin. Direktur Utama PD Pasar Kota Medan, Benny Harianto Sihotang mengatakan, pedagang memang masih diberikan toleransi 10 hari ke depan untuk berjualan di luar sebagai upaya sosialisasi kepada pelanggannya.
Sebab pedagang perlu memberikan informasi kepada para pembeli atau pelanggan mengenai lokasi baru tempatnya berjualan. “Jadi sampai 10 hari ke depan, pedagang masih kami biarkan berjualan di luar tempat yang telah disediakan,” ujarnya. Benny menyebutkan, total pedagang yang mampu di-tampung di Pasar Induk Tuntungan sekitar 2.142 pedagang yang terdiri atas pedagang distributor sayur, distributor buah grosir, sub-grosir, serta pedagang eceran.
Pedagang distributor selama ini telah berjualan di seputar Jalan Sutomo dengan menyewa ruko. “Distributor itu setingkat di atas pedagang grosir, jadi mereka sudah mendatangi saya untuk meminta kejelasan dan telah diputuskan lokasi mereka di sisi sebelah timur,” katanya. Diakuinya, masih ada beberapa kekurangan yang didapat dalam pengoperasian Pasar Induk Tuntungan, terutama mengenai ketersediaan angkutan kota (angkot).
“Belum ada angkot yang sampai malam, sementara pedagang ramai mulai malam (dini hari) sampai pagi,” katanya. Terpisah, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengatakan, Pemko Medan akan terus berupaya memfasilitasi kekurangan sarana dan prasarana di Pasar Induk Tuntungan dan memenuhi aspirasi pedagang.
“Secara pelan-pelan kami akan berupaya memfasilitasi, namun semua pedagang kami harapkan mau pindah ke sana meskipun itu secara bertahap,” tandasnya. Eldin mengingatkan bahwa seluruh pedagang di kawasan Jalan Sutomo harus segera pindah ke pasar induk. Pemindahan akan dilakukan bertahan namun tetap dalam waktu tidak lama. “Karena tujuan kami adalah akan melakukan penataan kota di kawasan tersebut,” kata Eldin.
Lia anggia nasution
(bbg)