Persetujuan DPRD Mulus

Selasa, 17 Maret 2015 - 16:01 WIB
Persetujuan DPRD Mulus
Persetujuan DPRD Mulus
A A A
MEDAN - Sidang Paripurna DPRD Kota Medan secara mulus menyetujui perubahan peruntukan lahan seluas 32.000 meter persegi di Jalan Jawa/Jalan Timor, Kelurahan Gang Buntu, Kecamatan Medan Timur, kemarin.

Dari sembilan fraksi, hanya Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menyatakan menolak, dan Fraksi Demokrat meminta pemberian pendapat atas permohonan Handoko Lie tersebut ditunda sampai ada pembahasan atau kajian hukum terkait status Jalan Jawa. Pendapat akhir kedua fraksi tersebut jelas tidak mampu menghalangi penolakan usulan perubahan peruntukan lahan di Jalan Jawa tersebut.

Sementara tujuh fraksi lain, yakni Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Golkar, Fraksi Gerindra, Fraksi PAN, Fraksi PPP, Fraksi Hanura, dan Fraksi Partai Persatuan Nasional, secara mulus menerima dan menyetujui perubahan peruntukan lahan itu dari bangunan umum menjadi bangunan bercampur.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Robby Barus, mengatakan, fraksinya bisa menerima perubahan peruntukan lahan di Jalan Jawa itu karena merujuk hasil kajian Komisi D dan Badan Penata Ruang Daerah (BPRD) Kota Medan. “Selain itu, keberadaan bangunan tersebut bisa menarik tenaga kerja mencapai 5.000 orang lebih, dan itu tentunya bisa mengurangi pengangguran,” ungkap Robby membacakan pendapat fraksinya.

Ketua Fraksi Golkar, Ilhamsyah, mengungkapkan, fraksinya bisa menerima dan menyetujui perubahan peruntukan lahan tersebut dengan alasan pihak PT Arga Citra Kharisma (ACK) telah membayarkan ganti rugi lahan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI). Keputusan pengadilan juga menyatakan PT ACK merupakan pemilik sah lahan tersebut. “Kami menerima dan menyetujui permohonan tersebut. Kami juga mengajak seluruh masyarakat menghormati keputusan pengadilan,” katanya.

Sementara Ketua Fraksi PKS, M Nasir, mengungkapkan, setelah melakukan analisis dan kajian, serta melihat pergolakan yang terjadi atas bangunan tersebut, fraksinya sangat tidak setuju perubahan peruntukan Jalan Jawa. “Selama ini kami terus menyampaikan, baik secara langsung maupun melalui media massa, untuk menstanvaskan atau menghentikan kegiatan pembangunan (di Jalan Jawa) sampai ada kajian amdal dan amdal lalin.

Namun, pengembang terus menunjukkan sikap angkuh atau tidak menghargai PemkoMedandenganterusmelakukan pembangunan, dan bangunan itu (Centre Point) terus beroperasi,” ungkap M Nasir saat membacakanpendapatfraksinya. Nasir menuding pihak pengembang secara terang-terangan sudah “berselingkuh” dengan Pemko Medan di depan DPRD.

Dimana diajukan permohonan perubahan peruntukan, tapi di sisi lain bangunan terus beroperasi tanpa izin mendirikan bangunan (IMB). “Kami bukan menghalangi investasi, tapi justru mendorong Pemko Medan memudahkan investasi dengan catatan harus patuh terhadap semua hukum berlaku, tidak menimbulkan persoalan, dan tidak merusak lingkungan,” ucapnya.

Menurut dia, pembangunan di Jalan Jawa memang sengaja dibiarkan. Sebab, pengerjaannya sangat terlihat semua pihak, termasuk Pemko Medan. “Kami mempertanyakan sikap pemko yang terkesan tumpul ke bawah. Tidak ada tindakan yang diberikan terhadap bangunan yang menyalahi aturan.

Di mana nyali dan keberanian menghentikan bangunan tersebut?” ujarnya. Untuk itu, Fraksi PKS meminta DPRD menjadi benteng terakhir dan berdiri tegak memperbaiki hal itu dengan tidak terpengaruh terhadap adanya upaya-upaya pelanggaran hukum. “Kami mengusulkan aktivitas Centre Point dihentikan selama satu bulan lebih sampai kajian amdal lalin dan amdal dilakukan.

Untuk itu, berdasarkan argumentasi di atas, kami menolak perubahan peruntukan ini,” ucapnya. Sementara itu, Sekretaris Fraksi Demokrat, Parlauangan Simangunsong, mengungkapkan, di satu sisi fraksinya dapat memahami permohonan perubahan peruntukan lahan di Jalan Jawa yang di atasnya kini berdiri bangunan Centre Point, hotel, apartemen, ruko, dan rumah sakit, karena bisa mendatangkan pendapatan asli daerah (PAD), serta mengurangi pengangguran yang berimbas pada berkurangnya tingkat kriminalitas.

Tapi, kata dia, bangunan tersebut seharusnya memenuhi syarat atau ketentuan yang berlaku. Tapi selama ini bangunan tersebut berdiri tanpa amdal, amdal lalin, dan IMB. Bahkan, bangunan tersebut diragukan sudah memenuhi standar tata ruang. “Untuk itu kami meminta pemberian pendapat lahan tersebut ditunda sampai berlakunya kajian hukum,” katanya.

Sementara lima fraksi lain pada umumnya setuju perubahan peruntukan lahan seluas 32.000 meter persegi itu. Atas pendapat semua fraksi ini, dimana mayoritas fraksi menerima dan menyetujui, pimpinan DPRD akhirnya memutuskan memberikan persetujuan terhadap usulan perubahan peruntukan lahan tersebut.

Reza shahab
(bbg)
Berita Terkait
Potensi Sikomandan Cukup...
Potensi Sikomandan Cukup Besar di Sumatera Utara
Penyuluh di Sumatera...
Penyuluh di Sumatera Utara Ikuti Pelatihan TOT Proyek SIMURP
Bentrok 2 Fakultas Pecah,...
Bentrok 2 Fakultas Pecah, Aktivitas Mahasiswa di Kampus USU Diliburkan
UP DATE Covid-19 Provinsi...
UP DATE Covid-19 Provinsi Sumatera Utara
Permintaan Turun, Ekspor...
Permintaan Turun, Ekspor Karet Sumatera Utara Anjlok
Kabanjahe Karo Sumatera...
Kabanjahe Karo Sumatera Utara Diguncang Gempa M4,7
Berita Terkini
2 WNA Ditemukan Tewas...
2 WNA Ditemukan Tewas di Apartemen Jakbar
1 jam yang lalu
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
2 jam yang lalu
4 Kombes Digeser ke...
4 Kombes Digeser ke Polda Pulau Jawa pada Mutasi Polri Mei 2026
3 jam yang lalu
Bayar PBB-P2 hingga...
Bayar PBB-P2 hingga 31 Juli, Warga Jakarta Otomatis Dapat Potongan 7,5%
3 jam yang lalu
Gerakan Kurbanlah Salurkan...
Gerakan Kurbanlah Salurkan Hewan Kurban untuk 3.000 Keluarga di Aceh
5 jam yang lalu
HUT ke-27 PNM, Ribuan...
HUT ke-27 PNM, Ribuan Buku Hadirkan Semangat Literasi bagi Anak-anak Pelosok
13 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved