Ribuan Warga Padati Pisowanan Agung

Minggu, 08 Maret 2015 - 10:13 WIB
Ribuan Warga Padati...
Ribuan Warga Padati Pisowanan Agung
A A A
YOGYAKARTA - Ribuan warga menyaksikan Pisowanan Agung dalam rangka memperingati 26 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X naik tahta Raja Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Acara tersebut juga dalam rangka launching (mengenalkan) logo dan tagline baru: “Jogja Istimewa”.

Gelaran ini melibatkan 66 kelompok kesenian dari berbagai penjuru di DIY. Mereka berpawai mulai dari ujung utara Jalan Malioboro menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta. Pawai bertajuk “Jogja Gumregah” ini juga diikuti pimpinan kepala daerah se-DIY, pejabat Pemda DIY, camat dan kepala desa se-DIY.

Selama pawai Jalan Maliboro-Pagelaran Keraton sepanjang dua kilometer ditutup. Ribuan warga pun tumpah ruah menyaksikan di sepanjang jalan tersebut. “Ini luar biasa, budaya benar-benar sudah mengakar bagi rakyat Yogyakarta,” kata seniman Butet Kartaredjasa, seniman ternama Yogyakarta kemarin.

Dia menegaskan acara yang dihadiri ribuan warga ini yang membedakan dengan daerah lain. “Mereka hadir tanpa bayaran. Mereka hadir demi mempertahankan kebudayaan,” ucapnya. Sultan juga mengatakan untuk terwujudnya Yogyakarta yang benar- benar istimewa, tidak hanya bersumber pada gerakan masyarakat saja. “Tapi seluruh elemen termasuk pemerintahan, termasuk pemimpinnya harus menjadi bagian dari pergerakan ke depan tersebut,” kata pria bernama lahir Herjuno Darpito.

Gubernur DIY ini mengungkapkan perubahan ke arah yang lebih baik tidak harus langsung dalam hal yang besar. “Namun yang paling penting bertahap namun konsisten,” ungkap Ngarso Dalem, sapaan lain Sultan HB X. Dalam pidatonya yang bertepatan dengan 26 tahun jumenengannya, Sultan juga menyatakan kesiapannya untuk terus mengabdi bagi masyarakat Yogyakarta.

Dia memaknainya untuk terus mengabdikan tahtanya bagi kesejahteraan rakyat. Di sela-sela semarak Pisowanan Agung, warga berharap raja yang bertahta selalu diberi kesehatan. Tapi banyak pula yang menginginkan agar Kota Yogyakarta benar-benar menjadi kota yang “Berhati Nyaman”. Suharyanto, 35, warga Kemitiran, Kecamatan Gedongtengen mengaku bangga menjadi warga asli Yogyakarta yang mendapat status istimewa.

“Kami memiliki raja, negara juga mengakui keistimewaan kami,” katanya saat menyaksikan Pisowanan Agung di kawasan Titik Nol Yogyakarta kemarin. Masih banyak lagi sindiran terhadap Yogyakarta. Mereka sebagian besar kecewa dengan kondisi Kota Yogyakarta, termasuk tata ruang kota yang amburadul.

Sekretaris Daerah DIY Ichsanuri menegaskan untuk mewujudkan keistimewaan tata ruang, gubernur sudah berulang kali memerintahkan kabupaten dan kota melakukan moratorium pendirian hotel dan apartemen. “Berulang kali gubernur mengingatkan wali kota dan bupati,” ucapnya. Anggota Komisi A DPRD DIY Rendradi Suprihandoko menerangkan, Kota Yogyakarta sudah melakukan moratorium pembangunan hotel di wilayahnya.

Meski terlambat, kabupaten lain harus mencontohnya agar tidak seperti di Kota Yogyakarta. Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X dalam pidatonya di depan ribuan warga mengajak masyarakat bersama-sama memaknai semangat Jogja Gumregah. Sultan mengajak masyarakat menghidupkan kembali ruh keistimewaan Yogyakarta yang terwujud dalam bergerak bersama ambil bagian dalam pergerakan melalui Jogja Gumregah .

“Oleh karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Yogyakarta untuk bersama-sama bergerak, tak hanya memaknai Jogja Istimewa sebagai kata benda saja. Namun harus berupa kata kerja melalui aksi massa untuk mewujudkannya. Kita harus gumregah, gumreget, sengkut dan golong-gilig nyawiji untuk bangkit mengembangkan Jogja Istimewa,” kata Sultan.

“Hari ini saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ini menjadikan saya untuk lebih hamengku, hamengko, dan hamengkoni masyarakat Yogyakarta. Saya akan tetap konsisten untuk ora mingkuh , dan menjadi Sultan hanya untuk kesejahteraan rakyat,” tandas bapak lima putri ini. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai security instansi swasta ini mengaku lebih bangga lagi jika tata kota lebih diperhatikan.

“Kendaraan kian banyak, jadi macet. Hotel di manamana, air sumur asat,” katanya. Pada peresmian logo baru Jogja Istimewa ini juga banjir kritikan. Di dunia maya, logo Jogja Istimewa dengan nuansa filosofis yang kental, di-bully dengan tata ruang kota yang amburadul. “Yang ramah...yang tradisional...yang berbudaya udah nyelempit diantara hotel dan mall ....”, demikian ditulis Asrie Yoka di akun Facebook KotaJogja.

Komentar serupa di akun Facebook yang sama diungkapkan oleh Tazkia Farma, “Jogja kebanyakan hotel kebanyakan mall tiap weekend apalagi long weekend maceettt dimana2, istimewaaaa “. Senada yang ditulis Isnan Sholeh, “Aku wong jogja asli.. sedih rasane.. kok yo diijinke siih ono hotel berdiri dimana mana.. moll mbangun sak penake dewe.. pemerintah kok ngijinin sih.. ??” (Saya orang Jogja asli... Sedih rasanya... Kok ya diijinkan hotel berdiri dimanamana.. Mall dibangun seenaknya sendiri... pemerintah kok memberikan ijin sih??).

Padahal dalam launching logo baru Jogja Istimewa ini mengemban nilai filofosi yang tinggi. Ada sembilan ikon yang mendampingi logo dan tagline Jogja Istimewa. Sembilan ikon tersebut adalah beringin kembar (di Alun-alun), Tugu, andong, wayang, keraton, becak, merapi, pantai selatan, dan lampu antik.

“Ikon-ikon Yogya itu punya filofosinya. Sekarang, fisiknya tetap ada, tapi tergusur kapitalisme. Wong Jogja dadi sekarat ,” komentar Budiman BS di akun facebook KotaJogja. Namun, hal tersebut kembali kepada masing-masing kabupaten dan kota.

Karena kewenangan soal pembangunan ini menjadi wewenang kabupaten dan kota. “Kami kan hanya mengevaluasi. Tidak bisa memberikan sanksi,” akunya. Ketua umum panitia launching ini mengungkapkan ke depan bisa diatur dengan peraturan daerahistimewa (perdais) tataruang.

Salah satu pilar dari keistimewaan DIY seperti yang tercantum di UUK DIY. Sayangnya Raperdais Tata Ruang sama sekali belum dibahas di DPRD DIY. “Perdais ini bisa mengatur banyak hal soal tata ruang DIY,” ucapnya. Sleman sebaiknya segera menghentikan pembangunan hotel-hotel. “Sebaiknya, Sleman mengeluarkan moratorium sebelum menjadi masalah sosial, sebelum seperti Yogyakarta,” katanya.

Ridwan anshori
(bhr)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Kemenkes Tunggak 80%...
Kemenkes Tunggak 80% Pembayaran Penanganan COVID-19 ke RSUD Yogya
Berita Terkini
Insiden di Blok M, Kuasa...
Insiden di Blok M, Kuasa Hukum Selebgram MIA Beri Klarifikasi
11 menit yang lalu
Jadi Ruang Kolaborasi...
Jadi Ruang Kolaborasi Seniman, Menekraf Apresiasi ArtMoments Jakarta 2026
21 menit yang lalu
Mahasiswa hingga Dosen...
Mahasiswa hingga Dosen STIA Madinatul Ilmi Depok Ikuti Kegiatan Literasi Keuangan
30 menit yang lalu
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
1 jam yang lalu
Keberhasilan Memanfaatkan...
Keberhasilan Memanfaatkan Bonus Demografi Bergantung pada Kualitas Generasi Muda
3 jam yang lalu
Warga Wanam Harap Pembangunan...
Warga Wanam Harap Pembangunan PSN di Papua Selatan Dilanjutkan
3 jam yang lalu
Infografis
Diskon dan Pembebasan...
Diskon dan Pembebasan BBNKB untuk Warga Jakarta!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved