Mengenal M Rasjidi, Mantan Menteri Agama RI

Senin, 09 Maret 2015 - 05:00 WIB
Mengenal M Rasjidi, Mantan Menteri Agama RI
Mengenal M Rasjidi, Mantan Menteri Agama RI
A A A
M Rasjidi tercatat pernah menjadi Menteri Agama RI. Berikut cerita singkat tentang sosok cendekiawan muslim yang juga seorang diplomat tersebut.

M Rasjidi lahir di Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915. Kedua orangtuanya memberi nama Saridi. Ayahnya, Atmosudigdo, adalah pengusaha batik.

M Rasjidi kecil menempuh pendidikan dasarnya di sekolah Ongko Loro. Lalu, dia disekolahkan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah Kotagede. Setelah itu, dia sempat belajar di sekolah guru, Muallimin Muhammadiyah.

Kepada Sindonews.com, pemerhati sejarah Fikrul Hanif Sufyan mengatakan, setelah tercerahkan dengan pemikiran modernis Islam Ahmad Dahlan, Saridi lalu berguru ke tokoh Islam lainnya, Syekh Ahmad Surkati, pendiri perguruan Al-Irsyad. Sejak berguru dengan pengurus Jamiat Khair itu, nama Saridi pun berubah menjadi Rasjidi.

Dua tahun menuntut ilmu di Al-Irsyad, Rasjidi meraih gelar diploma. Pada 1931, Rasjidi hijrah ke Kairo, Mesir, untuk melanjutkan studi di Darul Ulum, Universitas Kairo.

Selanjutnya, dia mengambil studi filsafat Islam di Universitas Kairo. Dia tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa asal Indonesia yang berani mengambil kuliah filsafat.

Setelah empat tahun menimba ilmu di Mesir, Rasjidi meraih gelar Bachelor of Arts (BA).

"Rosihan Anwar pernah memiliki kenangan terhadap sosok Rasjidi, ketika ia disorot oleh surat kabar Belanda Mataram Bode dengan sebuah berita kecil. Beritanya berisi raihan Rasjidi menggondol gelar Bachelor of Arts di Universitas Kairo," kata Fikrul Hanif Sufyan yang juga Dosen STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh.

Sejak saat itu, Rasjidi selalu menjadi daya tarik bagi Pemerintah Hindia Belanda karena ia bisa berceramah dengan bahasa Perancis, suatu hal yang unik dalam masyarakat Kolonial pada masa itu.

Pada 1938, Rasjidi pulang ke Tanah Air dan menikah. Dia mulai tertarik terjun ke dunia politik dan menjadi anggota Partai Islam Indonesia (1940). Di tahun yang sama, dia juga menjadi anggota Alliance Francaise (Perhimpunan Perancis) di Yogyakarta.

Menurut catatan Wikipedia, dalam Kabinet Sjahrir I (14 November 1945-12 Maret 1946), Rasjidi ditunjuk sebagai Menteri Negara (Urusan Agama).

Selanjutnya, dalam Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946-2 Oktober 1946), Rasjidi kembali dipercaya menjadi Menteri Agama.

Ada kisah menarik saat Rasjidi menjadi Menteri Agama. Dikutip dari tulisan M Fuad Nasar yang dimuat di kemenag.go.id, Rasjidi berangkat kerja ke Kantor Kementerian Agama di Yogyakarta dengan mengayuh sepeda. Kemudian, ada seorang yang bersedia meminjamkan mobilnya. Tapi, ban mobil itu sudah tidak berfungsi lagi sehingga diisi rumput kering.

Johan Prasetya dalam buku Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan (Penerbit Saufa, Agustus 2014) menuliskan, Rasjidi mulai disibukkan dengan urusan diplomasi saat menjadi salah satu anggota delegasi RI yang dipimpin Haji Agus Salim pada Inter Asian Relation Conference di New Delhi, 23 Maret 1947.

Setelah penyerahan kedaulatan, Rasjidi diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Mesir merangkap Arab Saudi yang berkedudukan di Kairo. Dua tahun menjadi dubes di Kairo, dia dipindahkan ke Teheran sebagai Dubes Iran merangkap Afghanistan pada tahun 1953.

Kegiatan diplomasi dia tanggalkan saat menyelesaikan disertasinya di Universitas Sorbonne, Perancis. Pada 23 Mei 1956, Rasjidi lulus dengan predikat cum laude dan berhak meraih gelar doktor.

Lulus dari Sorbonne, Rasjidi diangkat pemerintah menjadi Dubes RI di Pakistan sampai terjadinya guncangan politik di Tanah Air sekitar 1958.

Lalu, ia mendapat tawaran mengajar di McGill University di Montreal, Kanada, sebagai Associate Professore bidang ilmu Agama Islam selama lima tahun, sebelum akhirnya menerima tawaran untuk mengelola sebuah masjid, perpustakaan, dan lembaga pendidikan di Washington DC.

Dari Amerika Serikat, Rasjidi kembali ke Indonesia dan memulai pengabdiannya di bidang akademis, tepatnya sebagai dosen Hukum Islam di Universitas Indonesia (UI). Tahun 1968, dia dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Islam dan Lembaga-lembaga Islam di universitas yang sama.

Ia juga dikukuhkan menjadi Guru Besar Filsafat Barat di Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Cendekiawan muslim yang kritis terhadap pemikiran Barat dan orientalis itu meninggal 30 Januari 2001 karena sakit. Dia dimakamkan di pemakaman keluarga di Kotagede, Yogyakarta.

Sumber: Wikipedia dan buku Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan (Penulis Johan Prasetya, Penerbit Saufa, Agustus 2014).
(zik)
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
berita/ rendering in 0.8738 seconds (0.1#10.140)
pixels