Ini Pengakuan Pengusaha yang Pernah Terlibat Jual Beli Proyek Jalan
Jum'at, 23 Januari 2015 - 21:42 WIB
Ini Pengakuan Pengusaha yang Pernah Terlibat Jual Beli Proyek Jalan
A
A
A
BANDUNG - Maraknya dugaan praktik jual-beli proyek jalan di Kabupaten Bogor dapat berakibat kepada buruknya kualitas jalan yang dibangun atau direhabilitasi.
Hal ini diungkapkan salah seorang pengusaha Bogor yang mengaku pernah terlibat dalam jual beli proyek jalan di Kabupaten Bogor pada tahun anggaran 2013 lalu.
"Biasanya sang pengusaha penjual proyek telah mengambil untung sebesar 10% dari nilai proyek lalu memindah tangankan atau disub kontrakkan kepada pihak kedua yang akan mengerjakan proyek tersebut. Jadi bila nilai proyeknya Rp1 miliar sang pengusaha akan mengambil Rp100 juta. Sedangkan Rp900 juta diserahkan kepada pengusaha atau kontraktor yang mengerjakan proyek itu, " papar pengusaha yang enggan disebutkan namanya ini kepada Sindonews.com, Jumat (23/1/2015).
Mengapa 10% dari nilai proyek yang diambil?. Karena, menurut dia, untuk mendapatkan proyek diatas Rp1 miliar tersebut tidaklah gampang karena perlu lobi sana-sini dan membutuhkan dana yang tidak kecil.
"Biasanya para pengusaha besar dan telah senior saja yang banyak bermain proyek. Mereka biasanya mengincar proyek yang dibiayai APBN dan APBD Provinsi Jawa Barat, karena nilainya pasti diatas Rp1 miliar bahkan puluhan miliar," ujar pria bertubuh sedang ini.
Karena mereka (para senior) telah lama kenal dengan pejabat dinas terkait dan kerap bermain golf bersama.
"Jadi kalau bikin kesalahan kan para pengusaha besar itu sudah saling kenal dengan pejabat Dinas Binamarga. Jadi tau sama tahulah, " timpalnya.
Untuk menggiring proyek tersebut agar bisa jatuh ketangannya biasanya mereka membentuk perusahaan-perusahaan pendamping yang hanya diperuntukan untuk mengikuti lelang.
Misalnya dibentuk lima perusahaan pendamping saat lelang lalu kelima perusahaan tersebut memberikan penawaran yang lebih besar disamping perusahaan yang akan dimenangkan.
Dia menceritakan, pengusaha yang bermain proyek tentunya akan mengurangi material atau bahan yang digunakan karena telah dipotong 10%.
Untuk pengerjaan cor beton biasanya bermain di besi cor beton, walau tak main di ukuran namun bermain di jarak antar besi cor.
"Biasanya untuk jalan cor beton besi yang digunakan KS 16 namun mereka main dijarak antar besi. Maksimal jarak antar besi itu biasanya 60 centimeter namun mereka mainkan sekitar 80-90 centimeter jadi agak renggang memang dan akan mempengaruhi kekuatan cor," ujar dia.
Tapi menurut lelaki ini ada juga pengusaha yang nakal dan berani bermain di ukuran besi misalnya KS 16 dibelikan ukuran KS 16 banci atau SS16. Biasanya kalau ketahuan pengawas mereka menyalahkan para suplier.
Selain itu untuk cor beton biasanya bermain di kekuatan cor. Istilahnya K, biasanya untuk jalan kabupaten kekuatannya K 350 namun bisa dimainkan sampai K 200.
"Jadi wajarlah kalau ada di pelosok Kabupaten Bogor, jalan cornya banyak yang telah rusak walaupun baru selesai pembangunannya, karena memang Knya telah dikurangi.
Sedangkan untuk jalan hotmik atau aspal biasanya bermain di lapisan pondasi atas (LPA), lapisan pondasi bawah (LPB) atau lapisan penetrasi.
Untuk LPA biasanya jika ketebalannya 15 centimeter diturunkan hingga 12 centimeter. Sedangkan untuk LPB jika seharusnya digunakan batu belah yang besar hanya digunakan sirtu atau ketebalan sirtu dikurangi.
Dia juga menegaskan untuk mengolkan proyek dibawah Rp1 miliar seorang pengusaha yang ingin memenangkan proyek jalan di Kabupaten Bogor harus menyetor 0,5-1% dari nilai kontrak ke Ketua Pokja Lelang. Padahal honor lelang pertahun untuk Pokja Lelang jumlahnya mencapai Rp4 miliar.
Sedangkan untuk nilai proyek Rp1 miliar keatas harus lewat Kepala Kantor Lelang Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Bogor. Dia meyakini praktik jual beli proyek masih terjadi pada tahun anggaran 2014 ini.
"Jadi saya jadi pesimistik kalau kasusnya hanya ditangani Polda Jawa Barat saja tanpa di back up Mabes Polri. Mustinya kalau mau tuntas KPK yang tangani kasus-kasus seperti ini, " tandas dia.
Sementara Kabid Bangreh Dinas Binamarga dan Pengairan Kabupaten Bogor Asep Ruhiyat ketika dihubungi lewat ponselnya menolak berkomentar alasannya dia sedang membawa orang sakit.
"Maaf ya saya sedang membawa orang sakit, " ungkap pria bertubuh besar ini diujung telepon, Jumat (23/1/2015).
Hal ini diungkapkan salah seorang pengusaha Bogor yang mengaku pernah terlibat dalam jual beli proyek jalan di Kabupaten Bogor pada tahun anggaran 2013 lalu.
"Biasanya sang pengusaha penjual proyek telah mengambil untung sebesar 10% dari nilai proyek lalu memindah tangankan atau disub kontrakkan kepada pihak kedua yang akan mengerjakan proyek tersebut. Jadi bila nilai proyeknya Rp1 miliar sang pengusaha akan mengambil Rp100 juta. Sedangkan Rp900 juta diserahkan kepada pengusaha atau kontraktor yang mengerjakan proyek itu, " papar pengusaha yang enggan disebutkan namanya ini kepada Sindonews.com, Jumat (23/1/2015).
Mengapa 10% dari nilai proyek yang diambil?. Karena, menurut dia, untuk mendapatkan proyek diatas Rp1 miliar tersebut tidaklah gampang karena perlu lobi sana-sini dan membutuhkan dana yang tidak kecil.
"Biasanya para pengusaha besar dan telah senior saja yang banyak bermain proyek. Mereka biasanya mengincar proyek yang dibiayai APBN dan APBD Provinsi Jawa Barat, karena nilainya pasti diatas Rp1 miliar bahkan puluhan miliar," ujar pria bertubuh sedang ini.
Karena mereka (para senior) telah lama kenal dengan pejabat dinas terkait dan kerap bermain golf bersama.
"Jadi kalau bikin kesalahan kan para pengusaha besar itu sudah saling kenal dengan pejabat Dinas Binamarga. Jadi tau sama tahulah, " timpalnya.
Untuk menggiring proyek tersebut agar bisa jatuh ketangannya biasanya mereka membentuk perusahaan-perusahaan pendamping yang hanya diperuntukan untuk mengikuti lelang.
Misalnya dibentuk lima perusahaan pendamping saat lelang lalu kelima perusahaan tersebut memberikan penawaran yang lebih besar disamping perusahaan yang akan dimenangkan.
Dia menceritakan, pengusaha yang bermain proyek tentunya akan mengurangi material atau bahan yang digunakan karena telah dipotong 10%.
Untuk pengerjaan cor beton biasanya bermain di besi cor beton, walau tak main di ukuran namun bermain di jarak antar besi cor.
"Biasanya untuk jalan cor beton besi yang digunakan KS 16 namun mereka main dijarak antar besi. Maksimal jarak antar besi itu biasanya 60 centimeter namun mereka mainkan sekitar 80-90 centimeter jadi agak renggang memang dan akan mempengaruhi kekuatan cor," ujar dia.
Tapi menurut lelaki ini ada juga pengusaha yang nakal dan berani bermain di ukuran besi misalnya KS 16 dibelikan ukuran KS 16 banci atau SS16. Biasanya kalau ketahuan pengawas mereka menyalahkan para suplier.
Selain itu untuk cor beton biasanya bermain di kekuatan cor. Istilahnya K, biasanya untuk jalan kabupaten kekuatannya K 350 namun bisa dimainkan sampai K 200.
"Jadi wajarlah kalau ada di pelosok Kabupaten Bogor, jalan cornya banyak yang telah rusak walaupun baru selesai pembangunannya, karena memang Knya telah dikurangi.
Sedangkan untuk jalan hotmik atau aspal biasanya bermain di lapisan pondasi atas (LPA), lapisan pondasi bawah (LPB) atau lapisan penetrasi.
Untuk LPA biasanya jika ketebalannya 15 centimeter diturunkan hingga 12 centimeter. Sedangkan untuk LPB jika seharusnya digunakan batu belah yang besar hanya digunakan sirtu atau ketebalan sirtu dikurangi.
Dia juga menegaskan untuk mengolkan proyek dibawah Rp1 miliar seorang pengusaha yang ingin memenangkan proyek jalan di Kabupaten Bogor harus menyetor 0,5-1% dari nilai kontrak ke Ketua Pokja Lelang. Padahal honor lelang pertahun untuk Pokja Lelang jumlahnya mencapai Rp4 miliar.
Sedangkan untuk nilai proyek Rp1 miliar keatas harus lewat Kepala Kantor Lelang Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Bogor. Dia meyakini praktik jual beli proyek masih terjadi pada tahun anggaran 2014 ini.
"Jadi saya jadi pesimistik kalau kasusnya hanya ditangani Polda Jawa Barat saja tanpa di back up Mabes Polri. Mustinya kalau mau tuntas KPK yang tangani kasus-kasus seperti ini, " tandas dia.
Sementara Kabid Bangreh Dinas Binamarga dan Pengairan Kabupaten Bogor Asep Ruhiyat ketika dihubungi lewat ponselnya menolak berkomentar alasannya dia sedang membawa orang sakit.
"Maaf ya saya sedang membawa orang sakit, " ungkap pria bertubuh besar ini diujung telepon, Jumat (23/1/2015).
(sms)