Tidak Semua Jenazah Korban AirAsia Diautopsi
Sabtu, 03 Januari 2015 - 13:21 WIB
Tidak Semua Jenazah Korban AirAsia Diautopsi
A
A
A
SURABAYA - Tidak semua jenazah korban pesawat AirAsia QZ8501 diautopsi. Untuk saat ini, yang diutamakan adalah identitas korban sehingga bisa langsung dilakukan penanganan termasuk diserahkan kepada pihak keluarga.
Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moloek mengatakan, pencarian jenazah membutuhkan waktu sehingga berpengaruh terhadap kondisi jenazah korban yang belum ditemukan.
"Saat ini yang penting adalah identifikasi jenazah. Untuk mencari penyebab kematian korban perlu autopsi namun tidak semua jenazah akan dilakukan autopsi," kata Menkes saat seusai mengunjungi RS Bhyangkara Polda Jatim, Sabtu (3/1/2105).
Ia menjelaskan, semakin lama di dalam air, jenazah akan semakin rusak. Sehingga, tim identifikasi melakukan banyak hal untuk melakukan identifikasi, salah satunya adalah keterangan dari keluarga korban melalui data ante mortem dan post mortem.
"Kita sudah berupaya optimal dan mengedepankan pemeriksaan identitas. Memang secara budaya harus dilakukan autopsi, tetapi tidak semua jenazah dilakukan autopsi," tambahnya lagi.
Di tempat yang sama, Dokter Forensik Prof. dr Budi mengatakan, dalam aturan international, Tim DVI juga mempertimbangkan beberapa kearifan lokal, salah satunya adalah terkait autopsi yang membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga.
"Untuk kepentingan investigasi memang perlu autopsi, tapi nanti ada beberapa yang diautopsi di antaranya pilot, kopilot, serta sampling dari passenger (penumpang)," jelasnya.
Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moloek mengatakan, pencarian jenazah membutuhkan waktu sehingga berpengaruh terhadap kondisi jenazah korban yang belum ditemukan.
"Saat ini yang penting adalah identifikasi jenazah. Untuk mencari penyebab kematian korban perlu autopsi namun tidak semua jenazah akan dilakukan autopsi," kata Menkes saat seusai mengunjungi RS Bhyangkara Polda Jatim, Sabtu (3/1/2105).
Ia menjelaskan, semakin lama di dalam air, jenazah akan semakin rusak. Sehingga, tim identifikasi melakukan banyak hal untuk melakukan identifikasi, salah satunya adalah keterangan dari keluarga korban melalui data ante mortem dan post mortem.
"Kita sudah berupaya optimal dan mengedepankan pemeriksaan identitas. Memang secara budaya harus dilakukan autopsi, tetapi tidak semua jenazah dilakukan autopsi," tambahnya lagi.
Di tempat yang sama, Dokter Forensik Prof. dr Budi mengatakan, dalam aturan international, Tim DVI juga mempertimbangkan beberapa kearifan lokal, salah satunya adalah terkait autopsi yang membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga.
"Untuk kepentingan investigasi memang perlu autopsi, tapi nanti ada beberapa yang diautopsi di antaranya pilot, kopilot, serta sampling dari passenger (penumpang)," jelasnya.
(zik)