Warga Kampung Aur Pasrah Terima Banjir
Selasa, 30 Desember 2014 - 11:55 WIB
Warga Kampung Aur Pasrah Terima Banjir
A
A
A
MEDAN - Kampung Aur di Kecamatan Medan Maimun sudah menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba. Tetapi, warga menolak pidah dan lebih memilih bertahan. Warga mengaku sudah terbiasa dan pasrah.
Bahkan, anakanak Kampung Aur sengaja memanfaatkan musibah banjir itu sebagai sarana untuk berenang. Berdasarkan pantauan KORAN SINDO MEDAN, kemarin pagi sejumlah anak terlihat sedang asyik mandi didepan rumah mereka yang tergenang air hingga sepinggang orang dewasa.
Untuk menambah kemeriahan, ketika mandi, mereka menggunakan ban bekas sebagai alat pelampung. Beberapa anak memanfaatkan banjir untuk belajar berenang. Para orang tua di sana tidak melarang anak-anaknya mandi di genangan banjir. “Ayo kakak mandi,” ajak seorang anak di tengah genangan air kepada seorang anak perempuannya di tangga Kampung Aur.
Tidak lama kemudian, anak perempuan itu pun turun mandi bersama teman-temannya. Salah satu orang tua di Kampung Aur, Medan Maimun, Nani, 53, mengatakan, sejak dia lahir, kawasan Kampung Aur menjadi langganan banjir. Seperti biasa, anak-anak di kawasan itu pun memanfaatkan kondisi banjir dengan berenang bersama. Tetapi, orang tua tetap mengawasi lantaran mereka juga melakukan aktivitas di depan rumah.
Nani mengatakan, walaupun sudah menjadi langganan banjir sejak puluhan tahun, warga setempat enggan pindah. Pasalnya, warga sudah mengantisipasi banjir dengan membangun rumah dua tingkat. Setiap banjir datang, barang-barang diletakkan di lantai 2 sehingga tidak perlu mengungsi ke kawasan lain. “Kami sudah siap dengan kondisi banjir. Lihatlah, barangbarang kami letakkan di lantai 2, jadi kami merasa nyaman, makanya jangan (tidak perlu) ada penggusuran,” katanya.
Setiap akhir tahun, kawasan Kampung Aur memang menjadi langganan banjir. Banjir kali ini, kata Nani, belum tergolong parah karena genangan air biasanya mencapai hingga seleher orang dewasa.
Antor, 37, warga Kampung Aur lainnya, menambahkan, ada sekitar 155 rumah warga yang kerap tergenang air apabila Sungai Deli meluap. Banjir yang sering melanda Kampung Aur sudah membuat warga terbiasa dan merasa nyaman dengan kondisi itu. “Kami sudah terbiasa dengan banjir ini. Mau gimana lagi, kami tinggal di pinggiran sungai,” katanya.
Untuk mempermudah penyusutan air di depan rumah, warga melakukan gotong-royong dengan membuang air menggunakan mesin air. Selanjutnya, para ibu rumah tangga membersihkan rumah mereka dari lumpur. Air mulai membanjiri kawasan Kampung Aur sekitar pukul 03.00 WIB.
Banjir diduga lantaran hujan di daerah pegunungan. Pasalnya, hujan hanya di kawasan Kota Medan, tidak begitu berpengaruh terhadap genangan air di Kampung Aur. Banjir mulai surut sekitar pukul 14.30 WIB.
Untuk mempermudah genangan air cepat surut, warga melakukan penyedotan dengan mesin air. Selanjutnya, air dibuang ke Sungai Deli yang berada di belakang rumah warga.
Irwan Siregar
Bahkan, anakanak Kampung Aur sengaja memanfaatkan musibah banjir itu sebagai sarana untuk berenang. Berdasarkan pantauan KORAN SINDO MEDAN, kemarin pagi sejumlah anak terlihat sedang asyik mandi didepan rumah mereka yang tergenang air hingga sepinggang orang dewasa.
Untuk menambah kemeriahan, ketika mandi, mereka menggunakan ban bekas sebagai alat pelampung. Beberapa anak memanfaatkan banjir untuk belajar berenang. Para orang tua di sana tidak melarang anak-anaknya mandi di genangan banjir. “Ayo kakak mandi,” ajak seorang anak di tengah genangan air kepada seorang anak perempuannya di tangga Kampung Aur.
Tidak lama kemudian, anak perempuan itu pun turun mandi bersama teman-temannya. Salah satu orang tua di Kampung Aur, Medan Maimun, Nani, 53, mengatakan, sejak dia lahir, kawasan Kampung Aur menjadi langganan banjir. Seperti biasa, anak-anak di kawasan itu pun memanfaatkan kondisi banjir dengan berenang bersama. Tetapi, orang tua tetap mengawasi lantaran mereka juga melakukan aktivitas di depan rumah.
Nani mengatakan, walaupun sudah menjadi langganan banjir sejak puluhan tahun, warga setempat enggan pindah. Pasalnya, warga sudah mengantisipasi banjir dengan membangun rumah dua tingkat. Setiap banjir datang, barang-barang diletakkan di lantai 2 sehingga tidak perlu mengungsi ke kawasan lain. “Kami sudah siap dengan kondisi banjir. Lihatlah, barangbarang kami letakkan di lantai 2, jadi kami merasa nyaman, makanya jangan (tidak perlu) ada penggusuran,” katanya.
Setiap akhir tahun, kawasan Kampung Aur memang menjadi langganan banjir. Banjir kali ini, kata Nani, belum tergolong parah karena genangan air biasanya mencapai hingga seleher orang dewasa.
Antor, 37, warga Kampung Aur lainnya, menambahkan, ada sekitar 155 rumah warga yang kerap tergenang air apabila Sungai Deli meluap. Banjir yang sering melanda Kampung Aur sudah membuat warga terbiasa dan merasa nyaman dengan kondisi itu. “Kami sudah terbiasa dengan banjir ini. Mau gimana lagi, kami tinggal di pinggiran sungai,” katanya.
Untuk mempermudah penyusutan air di depan rumah, warga melakukan gotong-royong dengan membuang air menggunakan mesin air. Selanjutnya, para ibu rumah tangga membersihkan rumah mereka dari lumpur. Air mulai membanjiri kawasan Kampung Aur sekitar pukul 03.00 WIB.
Banjir diduga lantaran hujan di daerah pegunungan. Pasalnya, hujan hanya di kawasan Kota Medan, tidak begitu berpengaruh terhadap genangan air di Kampung Aur. Banjir mulai surut sekitar pukul 14.30 WIB.
Untuk mempermudah genangan air cepat surut, warga melakukan penyedotan dengan mesin air. Selanjutnya, air dibuang ke Sungai Deli yang berada di belakang rumah warga.
Irwan Siregar
(ftr)