Muhammadiyah Dakwah lewat Ketoprak

Selasa, 23 Desember 2014 - 10:26 WIB
Muhammadiyah Dakwah...
Muhammadiyah Dakwah lewat Ketoprak
A A A
YOGYAKARTA - Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta akan melakukan terobosan besar dalam menjalankan strategi dakwah.

Muhammadiyah akan melakukan pendekatan melalui dakwah kultural. Dakwah ini direalisasikan dalam pergelaran ketoprak kolosal yang akan digelar dua hari, 24–25 Desember, di Concert Hall Taman Budaya Yogya. Pergelaran yang baru pertama kali ini mengangkat judul Jumedhuling Surya Ora Tau Owah atau Raden Paku.

Pergelaran akan melibatkan pucuk pimpinan Muhammadiyah yakni Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin dan kepala daerah di DIY, seperti Bupati Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulonprogo, serta Wali Kota Yogya.

Tidak hanya itu, mantan Wali Kota Yogya Herry Zudianto, Rektor UMY, UAD, pengurus dan aktivis Muhammadiyah, seniman Yogyakarta dan beberapa nama beken lain, seperti Yati Pesek, Sugeng Iwak Bandeng, dan Yanti Lemu. “Pementaras dimulai pukul 20.00 WIB. Bagi yang tidak bisa masuk kita siapkan big screen di luar,” ucap Aris Madani, Ketua PDM Kota Yogya, kemarin.

Akhid Widi Rahmanto, Wakil Ketua PDM Kota Yogya, mengatakan, ketoprak tidak muncul tiba-tiba, tetapi sudah diprogramkan, walaupun dia mengakui ketoprak kolosal terbilang program nekat karena Muhammadiyah belum pernah melakukan sebelumnya. “Ini jadi eksperimen luar biasa dan kami punya semangat ini bukan yang pertama dan terakhir,” kata Akhid.

Heniy Astiyanto selaku produser mengatakan, pihaknya sangat optimistis pergelaran ketoprak kolosal akan bagus dan akan menjadi perform lain dibanding ketoprak konvensional. Ketoprak kolosal tidak saja akan menyajikan tontonan, tetapi juga tuntunan.

Brisman HS selaku sutradara menambahkan, proyek ketoprak kolosal ini memberinya tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam terkait pro kontra soal ketoprak, sedangkan dari luar sebagai jawaban atas kekeringan Muhammadiyah dalam berkesenian.

Pergelaran perdana ini akan mengangkat kisah Sunan Giri atau Raden Paku. Ketoprak mengisahkan perjalanan Raden Paku muda saat masih belajar agama. Saat dirasa cukup dewasa, dia diminta melanjutkan studi ke Mekkah. “Tapi syaratnya harus meminta izin orang tuanya, padahal beliau tidak tahu siapa orang tuanya,” tambahnya.

“Di tengah pencarian itulah banyak intrik yang terjadi, terutama dari Kerajaan Blambangan, tapi di sini juga terjadi yang mengharukan saat beliau bertemu saudara-saudaranya, termasuk eyang kakungnya yang ternyata adalah prabu dari KerajaanBlambangan,” sambungnya.

Sodik
(ftr)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Telan Investasi Rp14...
Telan Investasi Rp14 Triliun, Tol Yogya-Bawen Satukan Kawasan Joglosemar di 2023
Berita Terkini
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
36 menit yang lalu
Keberhasilan Memanfaatkan...
Keberhasilan Memanfaatkan Bonus Demografi Bergantung pada Kualitas Generasi Muda
1 jam yang lalu
Warga Wanam Harap Pembangunan...
Warga Wanam Harap Pembangunan PSN di Papua Selatan Dilanjutkan
1 jam yang lalu
PLN Cikarang Tegaskan...
PLN Cikarang Tegaskan Jarak Aman 3 Meter, Kegiatan Berisiko Tinggi Wajib Koordinasi
2 jam yang lalu
5 Jam Diperiksa Polda...
5 Jam Diperiksa Polda Metro, Saiful Mujani Dicecar 37 Pertanyaan
2 jam yang lalu
Tiket Jakarta Fair 2026...
Tiket Jakarta Fair 2026 Mulai Dibuka Hari ini, Targetkan 6 Juta Pengunjung
2 jam yang lalu
Infografis
Daftar Nama Tim yang...
Daftar Nama Tim yang Akan Mengelola Tambang Muhammadiyah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved