Ibu, Sosok yang Tak Tergantikan

Minggu, 21 Desember 2014 - 10:20 WIB
Ibu, Sosok yang Tak...
Ibu, Sosok yang Tak Tergantikan
A A A
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, Lewati rintangan untuk aku anakmu, Ibuku sayang masih terus berjalan, Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah.

Lirik lagu Ibu yang dilantunkan Iwan Fals ini menyaratkan bagaimana seorang ibu berjuang untuk keluarga dan anaknya. Meski jalan yang ditapaki begitu sulit, ibu tidak pernah lelah dan berhenti sebelum anak-anaknya meraih cita-citanya.

Begitulah diibaratkan kasih sayang ibu sepanjang masa, sedangkan kasih sayang ayah sepanjang galah. Menjelang hari ibu yang jatuh pada 22 Desember, momentum ini sering kali hanya digelar secara seremonial dengan berbagai perayaan, kue dan hadiah untuk ibu.

Di balik itu, banyak hal yang harus dilihat bagaimana seorang perempuan mampu menjadi ibu, sekaligus berperan di ruang publik dan masih memberikan waktunya untuk kegiatan sosial yang bertujuan membantu masyarakat.

Salah satu anggota DPD RI asal Sumut, Darmayanti Lubis, merupakan sosok ibu yang berperan di ruang publik, tetapi tidak pernah melepaskan kodratnya sebagai ibu untuk keluarganya. Baginya, perempuan memang sudah saatnya untuk berperan dan berpartisipasi dalam masyarakat. “Kalau kita lihat hari ibu, itu kan sebenarnya merupakan deklarasi yang dilakukan seluruh organisasi perempuan pada 1928.”

“Perempuan itu harus maju dan berperan dalam pembangunan, itulah yang dicita-citakan organisasi perempuan ketika itu,” kata Darmayanti. Sekarang tantangannya bagaimana perempuan sekarang mampu meraih apa yang dicitacitakan perempuan pada 1928.

“Perempuan harus mampu berpartisipasi dalam masyarakat, setidaknya harus mampu berpartisipasi dalam hal-hal yang bermanfaat, namun harus tetap menjalankan kodratnya, kewajiban sebagai ibu dalam rumah tangga bagi suami dan anaknya,” ujar Darmayanti. Ibutigaanakinimengakuikalau dirinya membangun keluarga kecilnya dengan komitmen yakni sama-sama mau maju, termasuk dengan suaminya, Darmayanti selalu bersama untuk meraih cita-cita mulai dari sekolah hingga mengasuh anak.

“Semua tentu tidak terlepas dari dukungan keluarga, saya masuk politik pun didukung bapak dan keluarga. Dalam keluarga, yang penting ada komunikasi dan pembagian kerja. Tugas ibu itu berat, tapi suami juga harus terbuka, jadi ibu tidak sendiri karena ada sosok bapak,” kata Darmayanti.

Baginya, keluarga adalah sebuah rombongan dan regu. Semua pekerjaan harus dilakukan dengan bekerja sama. Begitu juga ketika ada masalah, mereka pun bersama-sama menyelesaikannya. Tak heran jika, ketiga anaknya pun diasuh bersama dengan suami, tanpa pembantu. “Seorang ibu itu harus cerdas. Tetapi bukan hanya cerdas ilmu pengetahuan, melainkan juga cerdas dalam membagi waktu dan memilahmilah masalah,” kata Darmayanti.

Sosok perempuan lainnya yang juga berperan sebagai ibu rumah tangga juga berperan di ruang publik yakni Kadis Kesehatan Kota Medan Usma Polita Nasution yang menyatakan dukungan dan peran serta keluarga tidak bisa dilepaskan dari berbagai perannya selama ini. “Tanpa suami dan anak-anak saya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi tanpa dukungan masyarakat,” ucapnya kepada KORAN SINDO MEDAN beberapa waktu lalu.

Perempuan yang dipercaya Wali Kota Medan menangani masalah kesehatan Kota Medan ini menyatakan sebagai ibu rumah tangga, dengan perkembangan informasi teknologi, bisa memanfaatkan media informasi untuk menjalin komunikasi dengan keluarga. “Dengan media informasi seperti SMS, Whatsapp , saya bisa membagi waktu dan benar-benar memantau perkembangan anak-anak saat jauh dari saya,” ujar ibu empat anak ini.

Usma mengatakan, dalam mendidik anak, suami turut berperan besar. Pembagian tugas antara suami dan istri dijalankan sehingga Usma dan suami bisa menjalankan karier dan menjadi orang tua yang baik dalam waktu bersamaan. “Ketika saya keluar, suami di rumah bersama anak. Jadi tidak ada lagi istilah anak semata-mata tanggung jawab ibu. Jadi setiap kami memerankan sebagai ibu dan ayah untuk mewujudkan keluarga sejahtera,” tutur dokter gigi ini.

Untuk itu, perempuan yang saat ini menjalankan kehidupan sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga disarankan terlebih dahulu melihat peran utama sebagai ibu. Sebab, yang utama adalah kesiapan internal dalam menangani rumah tangga. Setelah tugas-tugas rumah tangga disusun serta sudah ada komitmen di keluarga dalam menjalankan kehidupan, baru berpikir bagaimana menjalankan karier dan bekerja di luar rumah.

“Karena saya sendiri sebagai penganut agama Islam, tanggung jawab saya yang utama adalah anak dan suami. Pemantauan kesiapan agama, pendidikan dan sosial anak menjadi yang utama,” tukas ibu dari seorang dokter ini. Ketua Himpunan Wanita Kreatif Sumatera (HWKS), RR Retno Mulkan Ritonga menjelaskan, dia selalu mengupayakan agar pekerjaan dan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dijalankan seefisien mungkin.

Langkah ini dilakukan agar pekerjaan dapat berjalan sesuai aturan dan dia dapat menjalankan tugasnya sebagai perempuan dengan kodratnya sebagai ibu rumah tangga. “Yang penting waktunya diatur sedemikian rupa, supaya berjalan lancar semua aktivitas, dan hubungan dengan keluarga tidak terganggu,” ungkap dia.

Sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier, waktunya juga harus disesuaikan dengan jadwal keluarga sehingga tidak terbentur dengan tugas rumah tangga dan kantor. Dina Lumbantobing, aktivis perempuan yang sering melakukan perjalanan ke luar kota, bahkan keluar negeri demi pekerjaannya, juga seorang ibu single parents dari dua anaknya memaknai hari ibu adalah hari pergerakan perempuan Indonesia. Sebab, berdasarkan sejarah Indonesia, hari ibu sebenarnya adalah Kongres Pertama Perempuan Indonesia (Kowani).

“Pergerakan dalam konteks ibu adalah melihat semua perempuan sebagai ibu yang dihormati, lepas dari posisi perkawinan, single atau menikah, janda cerai atau janda karena suami meninggal. Yang melihat posisi sesama perempuan sama hakikatnya, dan bahwa sebagian besar dari perempuan ini adalah perempuan kepala keluarga,” ungkap Dina.

Meski disibukkan dengan pekerjaannya, Dina tidak mengabaikan perannya sebagai seorang Ibu. Dia memberi kepercayaan kepada anak-anaknya tinggal di luar kota. Namun, dia tetap memonitor perkembangan hal-hal penting dalam diri anak-anaknya. Bahkan, mendikte sekalipun dilakukannya jika itu perlu.

“Anak- anak relatif mandiri , tidak lagi tergantung secara keuangan, hanya sesekali saya perlu memberi kontribusi pikiran dan finansial. Satu juga kunci yang perlu saya pegang, semua penting. Tapi sesuai situasi, prioritas bisa berubah. Bisa kali ini prioritas ke Mama, saat lain ke anak, waktu lain fokus ke kakak saya,” ucap Dina yang aktif memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama perempuan adat di Sumut.

Memuliakan Perempuan

Peran ibu yang begitu besar dalam keluarga dan kehidupan sosial ini juga telah disaratkan dalam ajaran agama. Seperti ajaran agama Islam, kedudukan dan harkat seorang ibu itu cukup tinggi. Rasulullah SAW sangat menghormati perempuan, bahkan Beliau mengangkat harkat dan marwah perempuan dari posisi yang sangat rendah di mata kaum jahiliah.

“Pada waktu itu ketika Rasul melaksanakan haji untuk yang terakhir kalinya, satu wasiat yang dikemukakan Rasul adalah harus menghormati perempuan. Bahkan, Rasul menggambarkan bahwa ibumu adalah tempat berbakti yang paling utama dan banyak lagi penghormatan dalam Islam kepada perempuan,” ujar Ketua MUI Medan M Hatta.

Namun, memang tidak bisa dipungkiri, kata Hatta, dalam posisi tertentu dalam Islam, laki-laki adalah pemimpin. Tetapi, hal ini bukanlah pengebirian bahwa kodrat perempuan itu di bawah laki-laki. Dalam berbagai hal seperti beribadah, hukum warisan ataupun dalam keluarga, laki-laki itu memang harus menjadi pemimpin dan pembimbing.

“Namun, dalam ajaran Islam juga tidak ada larangan bagi perempuan untuk berkarier, atau perempuan memimpin sebuah komunitas, karena dalam kehidupan sosial Islam menerapkan kesamaan hak di antara perempuan dan laki-laki,” tutur Hatta. Menurut Hatta, peran ibu itu memang sangat luar biasa. Di satu sisi, dia harus bertanggung jawab terhadap keluarganya. Di sisi lain, dia harus mencari nafkah membantu suami. Karena itu, Rasulullah senantiasa menghormati ibu.

“Nabi juga pernah mengistilahkan surga itu berada di bawah kaki ibu, itu tidak lain karena peran ibu sangat tinggi dalam Islam,” papar Hatta. Psikolog Medan, Irna Minauli, menjelaskan, peran ibu dalam mengasuh anak-anaknya sangat besar. Meski saat ini ditemukan bahwa peran ayah juga semakin memengaruhi tumbuh kembang anak. Jadi keduanya berkontribusi dalam keberhasilan atau kegagalan anak-anaknya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa IQ ibu ternyata lebih memberi sumbangan bagi kecerdasan anak-anaknya.

Selain karena IQ adalah sesuatu yang diwariskan, hal ini tampaknya berkaitan dengan pengelolaanemosidanmakananibusejak bayi masih dalam janin, sampai kemudian dalam masalah pengasuhan anak-anaknya. “Ibu yang cerdas tentunya memiliki pengetahuan yang luas sehingga dia bisa menjawab pertanyaan anak-anaknya dan membangkitkan rasa ingin tahu anaknya,” tutur Direktur Minauli Consulting yang beralamat di Jalan DI Panjaitan 180, Medan, ini.

Ibu yang memiliki pengetahuan luas, sambung Irna, akan mengajarkan nilai-nilai baik dan buruk pada anak-anaknya sehingga kelak anak-anak akan mengetahui bagaimana perilaku yang tepat ketika anak-anaknya berinteraksi dengan lingkungannya. “Secara psikologis, terdapat perbedaan dalam pola pikir dan perilaku dari ibu-ibu yang cerdas ini,” kata dia.

Namun, kecerdasan ini tidak selalu berkaitan dengan tingkat pendidikan seseorang, tapi lebih mengarah pada kemampuan mereka dalam menganalisa dan menyelesaikan masalah. Banyak ibu-ibu yang berpendidikan tinggi, tetapi tidak baik dalam mengasuh anak-anaknya. Sebaliknya, banyak ibu yang tidak berpendidikan tinggi, tetapi cerdas dalam pola pengasuhan.

Menurut Irna, ibu yang cerdas akan lebih memahami kebutuhan anak-anaknya. Mereka bisa melihat perbedaan kepribadian dan minat dari masing-masing anak dan kemudian menyesuaikan gaya pengasuhannya sesuai kepribadian anaknya. Sedangkan anak akan banyak belajar dan meniru apa yang dilakukan orang tuanya, khususnya ibunya. Ketika ibu memiliki minat yang besar terhadap masalah pendidikan, anak juga akan menirunya.

“Sebaliknya, ketika ibu hanya tertarik pada hal-hal yang sifatnya hedonisme semata, anak akan menirunya. Tidak mengherankan jika dikatakan bahwa anak merupakan cermin dari orang tuanya,” beber Irna. Itu sebabnya, setiap ibu haruslah cerdas sehingga ia mengetahui bagaimana mendidik anak-anaknya secara baik. Mereka bisa mengendalikan emosinya sehingga menghasilkan anak-anak yang mandiri dan bahagia.

Lia anggia nasution/ Eko agustyo fb/ Siti amelia
(ars)
Berita Terkait
Potensi Sikomandan Cukup...
Potensi Sikomandan Cukup Besar di Sumatera Utara
Penyuluh di Sumatera...
Penyuluh di Sumatera Utara Ikuti Pelatihan TOT Proyek SIMURP
Bentrok 2 Fakultas Pecah,...
Bentrok 2 Fakultas Pecah, Aktivitas Mahasiswa di Kampus USU Diliburkan
UP DATE Covid-19 Provinsi...
UP DATE Covid-19 Provinsi Sumatera Utara
Permintaan Turun, Ekspor...
Permintaan Turun, Ekspor Karet Sumatera Utara Anjlok
Kabanjahe Karo Sumatera...
Kabanjahe Karo Sumatera Utara Diguncang Gempa M4,7
Berita Terkini
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
33 menit yang lalu
Pramono Tegaskan 2.843...
Pramono Tegaskan 2.843 Lowongan Padat Karya Program Jangka Pendek
1 jam yang lalu
Prabowo Tinjau SRMP...
Prabowo Tinjau SRMP 17 Tabanan, Disambut Yel-yel hingga Tari Kecak dari Siswa
2 jam yang lalu
Pramono Yakin CFD Rasuna...
Pramono Yakin CFD Rasuna Said Jadi Ikon Baru Jakarta, Dilirik Wisatawan Mancanegara
3 jam yang lalu
Gempa 5,3 Magnitudo...
Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Maluku Barat Daya
3 jam yang lalu
Dokter Gigi Asal Vietnam...
Dokter Gigi Asal Vietnam Buka Praktik di Ciputat Pakai Izin Tinggal Kunjungan, Endingnya Dideportasi
4 jam yang lalu
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved