Butuh Rp150 Juta, Tetangga Galang Dana lewat Facebook
Rabu, 03 Desember 2014 - 11:47 WIB
Butuh Rp150 Juta, Tetangga Galang Dana lewat Facebook
A
A
A
BANTUL - Malang benar nasib Gavino Hafiz Pradana, putra dari pasangan Suparjiyono, 29, dengan Ari Sulistyana, 19. Bocah berumur 13 bulan ini oleh dokter divonis menderita penyakit hydrocepalus dan kanker otak. Sudah sekitar 10 hari terakhir ini, Vino terbaring koma tak bisa melakukan aktivitas apa pun, bahkan hanya untuk menangis.
Ketika KORAN SINDO YOGYA menyambangi kediaman Vino di Dusun Payaman RT 03, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, tak seorang pun ada di rumahnya. Rumah ukuran 8x6 yang keadaannya sangat menyedihkan tampak kotor tak terurus. Dinding-dinding yang terdiri dari beberapa potong tripleks terpasang tidak beraturan ditambah dengan banner (spanduk) bekas promosi sebuah produk menunjukkan derita yang mendera keluarga kecil ini.
Atap bagian rumah masih nampak bolong-bolong sehingga angin bebas masuk ketika musim dingin seperti sekarang ini. Dipan (tempat tidur kayu) dengan kasur tipis satu-satunya peralatan rumah tangga yang tampak di rumah tersebut di samping ada lemari cabinet kecil dari plastik tempat baju Vino disimpan masih menyisakan kepedihan keluarga tersebut.
Tak ada seorang pun di rumah tersebut, karena berdasarkan cerita dari Pakde Marjono (kakak Suparjiyono), Suparjiyono sekeluarga sudah 10 hari terakhir menginap di Rumah Sakit Umum (RSU) Sardjito. Mereka meninggalkan aktivitas di rumah karena menunggui Vino yang sudah koma selama 10 hari. Tak ada yang bisa dilakukan oleh keluarga tersebut kecuali pasrah. “Kalau bapak ibunya itu sudah tercoverJamkesmas, tetapi Vino belum,” ujar laki-laki yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang cukur rambut ini.
Vino pertama kali divonis sakit hydrocepalus dan kanker otak sekitar sebulan lalu, tepatnya ketika ada prosesi Nguras Enceh Makam Raja- Raja Imogiri. Kala itu, Vino tibatiba mengalami sakit panas, perutnya kembung disertai muntah-muntah yang tak kunjung berhenti. Oleh kedua orang tuanya, Vino lantas dibawa ke bidan terdekat.
Oleh bidan, akhirnya Vino dirujuk ke Rumah Sakit Nur Hidayah namun Nur Hidayah angkat tangan karena alasannya tidak ada kamar, demikian juga di rumah sakit seluruh Bantul. Akhirnya Vino dibawa ke rumah sakit Akademik di Melati, Sleman. Selama delapan hari pula, Vino dirawat di rumah sakit tersebut dan tidak ada perkembangan yang berarti. “Delapan hari itu habis Rp5,2 juta,” katanya.
Karena ketiadaan biaya, akhirnya kedua orang tua Vino memaksa kepada rumah sakit agar mengizinkan Vino dibawa pulang. Di rumah, kondisi Vino semakin menyedihkan karena dengan perawatan seadanya, kesehatan Vino semakin menurun. Sekitar 10 hari, kemarin, Vino tiba-tiba koma tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Akibat ketiadaan biaya karena Suparjiyono hanyalah buruh lepas yang tidak memiliki penghasilan tetap, kedua orang tuanya pasrah.
Atas inisiatif warga sekitar, Vino akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Sardjito. Tetangga Supardjiyono, Sudarno menambahkan, melihat kondisi keluarga Suparjiyono yang sangat memprihatinkan, warga akhirnya berinisiatif mencari dana. Berbagai cara dilakukan oleh para tetangga untuk mendapatkan dana pengobatan Vino. Mulai dari iuran warga, menghubungi lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga membuka akun Facebook.
“Dokter mengatakan, untuk operasi dan perawatannya, Vino membutuhkan dana sekitar Rp150 juta. Dana tersebut tak mungkin dimiliki oleh keluarga Suparjiyono, sehingga kami mencoba mencari dana dengan berbagai cara,” ujarnya.
Tak ada harapan yang mereka ungkapkan kecuali kesembuhan bocah yang baru belajar berjalan tersebut. Mereka berharap agar adanya uluran tangan dari pemerintah ataupun lembaga yang peduli atas nasib Vino untuk membantu keluarga Suparjiyono.
Erfanto Linangkung
Ketika KORAN SINDO YOGYA menyambangi kediaman Vino di Dusun Payaman RT 03, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, tak seorang pun ada di rumahnya. Rumah ukuran 8x6 yang keadaannya sangat menyedihkan tampak kotor tak terurus. Dinding-dinding yang terdiri dari beberapa potong tripleks terpasang tidak beraturan ditambah dengan banner (spanduk) bekas promosi sebuah produk menunjukkan derita yang mendera keluarga kecil ini.
Atap bagian rumah masih nampak bolong-bolong sehingga angin bebas masuk ketika musim dingin seperti sekarang ini. Dipan (tempat tidur kayu) dengan kasur tipis satu-satunya peralatan rumah tangga yang tampak di rumah tersebut di samping ada lemari cabinet kecil dari plastik tempat baju Vino disimpan masih menyisakan kepedihan keluarga tersebut.
Tak ada seorang pun di rumah tersebut, karena berdasarkan cerita dari Pakde Marjono (kakak Suparjiyono), Suparjiyono sekeluarga sudah 10 hari terakhir menginap di Rumah Sakit Umum (RSU) Sardjito. Mereka meninggalkan aktivitas di rumah karena menunggui Vino yang sudah koma selama 10 hari. Tak ada yang bisa dilakukan oleh keluarga tersebut kecuali pasrah. “Kalau bapak ibunya itu sudah tercoverJamkesmas, tetapi Vino belum,” ujar laki-laki yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang cukur rambut ini.
Vino pertama kali divonis sakit hydrocepalus dan kanker otak sekitar sebulan lalu, tepatnya ketika ada prosesi Nguras Enceh Makam Raja- Raja Imogiri. Kala itu, Vino tibatiba mengalami sakit panas, perutnya kembung disertai muntah-muntah yang tak kunjung berhenti. Oleh kedua orang tuanya, Vino lantas dibawa ke bidan terdekat.
Oleh bidan, akhirnya Vino dirujuk ke Rumah Sakit Nur Hidayah namun Nur Hidayah angkat tangan karena alasannya tidak ada kamar, demikian juga di rumah sakit seluruh Bantul. Akhirnya Vino dibawa ke rumah sakit Akademik di Melati, Sleman. Selama delapan hari pula, Vino dirawat di rumah sakit tersebut dan tidak ada perkembangan yang berarti. “Delapan hari itu habis Rp5,2 juta,” katanya.
Karena ketiadaan biaya, akhirnya kedua orang tua Vino memaksa kepada rumah sakit agar mengizinkan Vino dibawa pulang. Di rumah, kondisi Vino semakin menyedihkan karena dengan perawatan seadanya, kesehatan Vino semakin menurun. Sekitar 10 hari, kemarin, Vino tiba-tiba koma tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Akibat ketiadaan biaya karena Suparjiyono hanyalah buruh lepas yang tidak memiliki penghasilan tetap, kedua orang tuanya pasrah.
Atas inisiatif warga sekitar, Vino akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Sardjito. Tetangga Supardjiyono, Sudarno menambahkan, melihat kondisi keluarga Suparjiyono yang sangat memprihatinkan, warga akhirnya berinisiatif mencari dana. Berbagai cara dilakukan oleh para tetangga untuk mendapatkan dana pengobatan Vino. Mulai dari iuran warga, menghubungi lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga membuka akun Facebook.
“Dokter mengatakan, untuk operasi dan perawatannya, Vino membutuhkan dana sekitar Rp150 juta. Dana tersebut tak mungkin dimiliki oleh keluarga Suparjiyono, sehingga kami mencoba mencari dana dengan berbagai cara,” ujarnya.
Tak ada harapan yang mereka ungkapkan kecuali kesembuhan bocah yang baru belajar berjalan tersebut. Mereka berharap agar adanya uluran tangan dari pemerintah ataupun lembaga yang peduli atas nasib Vino untuk membantu keluarga Suparjiyono.
Erfanto Linangkung
(ftr)