Warga Siap Gusur Lokasi Prostitusi di Pantai Samas
Kamis, 06 November 2014 - 06:06 WIB
Warga Siap Gusur Lokasi Prostitusi di Pantai Samas
A
A
A
BANTUL - Warga Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul, siap menggusur kawasan prostitusi di kawasan Pantai Samas. Warga mengaku jengah dengan keberadaan para pekerja seks komersial (PSK) yang mangkal di kawasan tersebut. Akibat ulah para PSK, tingkat kunjungan wisatawan di Pantai Samas menurun drastis.
Lurah Desa Srigading Wahyu Widodo mengakui, Pantai Samas selama ini memang identik dengan wisata 'esek-esek'. Image wisata malam untuk memuaskan hawa nafsu selama ini melekat sejak banyak PSK yang mangkal di kawasan tersebut. Sejak image itu muncul, jumlah wisatawan yang datang ke lokasi tersebut terus menurun.
"Sekarang bahkan hampir tidak ada pengunjungnya. Kalaupun ada yang wisata malam, ya untuk semacam 'itulah'," ujarnya, Rabu (5/11).
Karena itu, warga Desa Srigading akan bersiap mengubah wajah Pantai Samas menjadi berbeda dari sekarang. Kompleks-kompleks rumah yang selama ini disalahgunakan menjadi tempat prostitusi dan ruang karaoke akan dihilangkan diganti dengan pusat kuliner dan fasilitas wisata lainnya.
Pihak pemerintah desa sudah bersiap mengubah wajah Pantai Samas dengan memaksimalkan penguasaan sudut Pantai Samas yang kini sudah ada pondok wisata dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) yang mangkrak. Di kawasan tersebut akan dibangun rest area, pondok makan di tengah danau dilengkapi dengan perahu-perahu yang siap mengantar wisatawan.
Tak hanya itu, wisata agro juga disiapkan seperti melihat pertanian bawang merah, cabai, ataupun ubi. "Namanya akan kami ganti Pantai Gading Mas. Agar image prostitusinya hilang," jelasnya.
Penggantian nama tersebut harus dilakukan karena image negatif sudah melekat dengan nama Samas. Samas selama ini sering dipelesetkan dengan sebutan Sampun Mas yang dalam konotasi bahasa Jawa berarti 'Sudah Mas'.
Para PSK yang selama ini masih mangkal di kawasan tersebut diperintahkan berganti pekerjaan dengan menjaga warung-warung kuliner yang rencananya berdiri di kawasan tersebut.
"Ada 80 persen warga sudah menyetujuinya. Rencananya, Januari mendatang akan kami ganti namanya," tambah Wahyu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bantul Bambang Legowo menyambut baik apa yang akan dilakukan oleh pemerintah desa setempat.
Lurah Desa Srigading Wahyu Widodo mengakui, Pantai Samas selama ini memang identik dengan wisata 'esek-esek'. Image wisata malam untuk memuaskan hawa nafsu selama ini melekat sejak banyak PSK yang mangkal di kawasan tersebut. Sejak image itu muncul, jumlah wisatawan yang datang ke lokasi tersebut terus menurun.
"Sekarang bahkan hampir tidak ada pengunjungnya. Kalaupun ada yang wisata malam, ya untuk semacam 'itulah'," ujarnya, Rabu (5/11).
Karena itu, warga Desa Srigading akan bersiap mengubah wajah Pantai Samas menjadi berbeda dari sekarang. Kompleks-kompleks rumah yang selama ini disalahgunakan menjadi tempat prostitusi dan ruang karaoke akan dihilangkan diganti dengan pusat kuliner dan fasilitas wisata lainnya.
Pihak pemerintah desa sudah bersiap mengubah wajah Pantai Samas dengan memaksimalkan penguasaan sudut Pantai Samas yang kini sudah ada pondok wisata dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) yang mangkrak. Di kawasan tersebut akan dibangun rest area, pondok makan di tengah danau dilengkapi dengan perahu-perahu yang siap mengantar wisatawan.
Tak hanya itu, wisata agro juga disiapkan seperti melihat pertanian bawang merah, cabai, ataupun ubi. "Namanya akan kami ganti Pantai Gading Mas. Agar image prostitusinya hilang," jelasnya.
Penggantian nama tersebut harus dilakukan karena image negatif sudah melekat dengan nama Samas. Samas selama ini sering dipelesetkan dengan sebutan Sampun Mas yang dalam konotasi bahasa Jawa berarti 'Sudah Mas'.
Para PSK yang selama ini masih mangkal di kawasan tersebut diperintahkan berganti pekerjaan dengan menjaga warung-warung kuliner yang rencananya berdiri di kawasan tersebut.
"Ada 80 persen warga sudah menyetujuinya. Rencananya, Januari mendatang akan kami ganti namanya," tambah Wahyu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bantul Bambang Legowo menyambut baik apa yang akan dilakukan oleh pemerintah desa setempat.
(zik)