Mengenang Peristiwa Puputan Badung

Senin, 15 September 2014 - 05:00 WIB
Mengenang Peristiwa Puputan Badung
Mengenang Peristiwa Puputan Badung
A A A
PERISTIWA Puputan Badung yang terjadi 20 September 1906, menjadi catatan sejarah yang tak akan dilupakan. Bagaimana kisah selengkapnya?

Kali ini, Cerita Pagi akan mengajak pembaca untuk mengenang peristiwa Puputan Badung.

Puputan adalah tradisi masyarakat di Bali, berupa tindakan perlawanan bersenjata habis-habisan sampai mati demi kehormatan tanah air. Istilah ini berasal dari kata bahasa Bali "puput" yang artinya "tanggal" / "putus" / "habis / "mati".

Puputan berarti perang sampai mati, dan wajib berlaku untuk seluruh warga yang ada dari semua kasta sebagai bentuk perlawanan, termasuk mengorbankan jiwa dan raga sampai titik darah penghabisan.

Sementara, Puputan Badung adalah sebuah bentuk perang perlawanan terhadap ekspedisi militer pemerintah kolonial Belanda V di Badung. Puputan Badung berarti pula bentuk reaksi terhadap intervensi penguasa Belanda terhadap kedaulatan masyarakat Badung.

Perang Puputan Badung itu bermula pada tanggal 27 Mei 1904. Saat itu, kapal dagang Sri Komala yang berbendera Belanda, terdampar di Pantai Sanur. Menurut pemerintah Belanda, kapal milik pedagang Cina bernama Kwee Tek Tjiang tersebut membawa banyak barang yang berharga dan dinyatakan hilang karena dicuri dan dirampok di sekitar Pantai Padang Galak Sanur.

Padahal, warga Sanur saat itu merasa telah memberikan pertolongan dan menyerahkan muatan dengan rapi kepada syahbandar. Namun, pihak Belanda tetap meminta tebusan atas barang yang dinyatakan hilang atau dirampok itu. Dengan alasan inilah, terjadi penyerangan terhadap Kerajaan Badung, tepatnya pada 20 September 1906.

Kala itu, di pagi buta, Kota Denpasar dihujani tembakan meriam Belanda dari Pantai Sanur. Gempuran dari Belanda tersebut mendapat perlawanan gigih dari rakyat dan Raja Badung I Gusti Ngurah Denpasar. Tiada rasa gentar sedikit pun. Raja Badung beserta segenap keluarganya melawan hingga titik darah terakhir.

Terjadilah peperangan sengit, bahkan ada yang hingga saling tikam. Dengan bersenjatakan keris dan tombak serta pakaian serba putih, Laskar Badung saat itu menyerbu dan menerjang pasukan Belanda. Tak seimbang, korban pun bergelimpangan, darah mengalir, membeku, senjata perang berserakan. Singkat cerita, Raja Badung pun gugur dalam pertempuran dahsyat itu.

Kini, tempat perang Puputan Badung itu menjadi Alun-alun Kota Denpasar. Di hari libur, banyak orang jogging, lari pagi, atau sekadar menghirup udara segar dengan mengelilingi lapangan. Ada juga anak-anak muda bermain skateboard. Selain itu, banyak komunitas lainnya yang menjadikan lapangan sebagai ajang berkumpul.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1633 seconds (11.252#12.26)