Pabrik Sirup Tjampolay Terancam Ditutup

Minggu, 13 Juli 2014 - 15:47 WIB
Pabrik Sirup Tjampolay...
Pabrik Sirup Tjampolay Terancam Ditutup
A A A
CIREBON - Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan (BPMPP) Kota Cirebon mengancam akan menutup pabrik sirup Tjampolay di Kecamatan Harjamukti akibat tak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Limbah sirup selama ini dikeluhkan warga karena diduga telah mencemari sungai di sekitar tempat mereka tinggal.

BPMPP sendiri kini tengah mengkaji ulang perizinan terhadap pabrik yang produknya selama beberapa lama telah menjadi ikon kuliner Kota Cirebon.

Kepala Bidang Penanaman Modal BPMPP Kota Cirebon Edy Tohidi mengungkapkan, pabrik tersebut dimungkinkan ditutup apabila perizinannya dicabut karena sesuatu hal.

"Pabrik itu memang mengantongi izin pendirian dan operasional. Tapi, ketika ada keluhan dari warga terkait aktivitasnya yang mengganggu, kami bisa mencabut izin dan menutupnya," tegas dia.

Hanya saja, dia memastikan, sebelum langkah itu dilakukan pihaknya membutuhkan bukti kuat, termasuk hasil kandungan zat dalam limbah yang dikeluhkan warga.

Untuk ini, BPMPP akan menunggu hasil investigasi Kantor Pengelola Lingkungan Hidup (KPLH).

Keberadaan pabrik sirup Tjampolay di RW 16 Kampung Jayamukti, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, dikeluhkan warga sekitar.

Mereka terutama mengeluhkan bau tak sedap yang ditimbulkan dari limbah cair yang dihasilkan pabrik tersebut.

"Baunya busuk menyengat, setiap hari warga harus menciumnya," kata Ketua RT 01 RW 16 Kampung Jayamukti Udi Suherman.

Menurut dia, keluhan warga akan bau yang keluar dari saluran air itu telah lama muncul. Mereka bahkan pernah menyampaikannya kepada pengelola pabrik, namun belum ada tanggapan.

Terpisah, Kepala KPLH Kota Cirebon Agung Sedijono memastikan, pabrik sirup tersebut tak memiliki IPAL.

Akibatnya, limbah berbau busuk yang dihasilkan dibuang ke saluran air di tengah pemukiman warga.

"Tapi kami tak bisa terburu-buru menyimpulkan bau itu dari limbah pabrik tersebut," tutur dia.

Hanya saja, pihaknya telah mengambil sampel air guna penelitian yang akan memastikan asal limbah itu.

Setidaknya tiga jenis sampel air diambil KPLH untuk ini, masing-masing sebelum outlet (pembuangan limbah) yang berwarna bening, setelah outlet yang berwarna bening merah, dan setelah limbah yang berwarna merah keruh.

Sejauh ini, lanjut dia, secara kasat mata pabrik itu sendiri telah mencemari lingkungan. Setidaknya dua jenis pencemaran lingkungan, yaitu pencemaran air dan udara.

"Udara yang sehat adalah tanpa bebauan. Tapi di sekitar pabrik itu, udara berbau manis dan ini bisa berbahaya bagi kesehatan manusia. Kalau air berbau, sudah pasti bercampur limbah," ungkap dia.

Namun pihaknya belum dapat memastikan kandungan zat yang ada di limbah tersebut karena masih menunggu hasil penelitian.

Lebih jauh dia menyarakankan pihak pabrik segera membuat IPAL agar limbah yang dihasilkan bisa dikelola dengan baik, tanpa mencemari lingkungan sekitar.
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan pihak pabrik sendiri belum dapat dikonfirmasi.
(sms)
Berita Terkini
Mahasiswa Gelar Solidarity...
Mahasiswa Gelar Solidarity Campaign di Area CFD Sudirman-MH Thamrin, Buka Percakapan dengan Rakyat
3 jam yang lalu
Cegah Stunting lewat...
Cegah Stunting lewat Program Genting, Menteri Wihaji Salurkan Bantuan RTLH di Sleman
5 jam yang lalu
Jelang Hari Bhayangkara...
Jelang Hari Bhayangkara Ke-80, Polda Riau Tuntaskan 110 Jembatan Merah Putih Presisi
6 jam yang lalu
Deteksi Bibit Siklon...
Deteksi Bibit Siklon Tropis 96W, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Gelombang Tinggi
8 jam yang lalu
Dukung Generasi Alpha...
Dukung Generasi Alpha dan Beta, S-26 Gelar Event di Surabaya dan Jakarta
9 jam yang lalu
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Ribuan Warga Padati CFD Sudirman-Thamrin Saksikan Karnaval Budaya
10 jam yang lalu
Infografis
Marwah Piala Dunia 2026...
Marwah Piala Dunia 2026 Terancam, 5 Negara Berpotensi Absen
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved