Penutupan Dolly Tak Harus Menunggu 19 Juni

Rabu, 28 Mei 2014 - 20:23 WIB
Penutupan Dolly Tak...
Penutupan Dolly Tak Harus Menunggu 19 Juni
A A A
SURABAYA - Rencana penutupan lokalisasi Dolly ternyata sudah muncul cukup lama. Tahun 1999 silam, anggota DPRD Surabaya bahkan sudah menyodorkan konsep penutupan bisnis prostitusi itu.

Namun, banyaknya kepentingan, membuat rencana tersebut batal. Tak heran bila kalangan DPRD Jatim menilai rencana Wali Kota Tri Rismaharini tersebut lamban.

Menurut Anggota Komisi E DPRD Jatim, konsep tentang penutupan lokalisasi Dolly sudah ada sejak lama. Bahkan payung hukum sebagai dasar penutupan prostitusi itu juga sudah ada. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi Pemkot Surabaya untuk menundanya.

“Kami ingat betul, saat masih duduk di DPRD Jatim, konsep penutupan Dolly sudah kami sodorkan. Tetapi kenapa baru muncul sekarang. Ini menunjukkan bahwa Pemkot Surabaya lamban dalam penanganan,”tegas Jabir kepada wartawan , Rabu (28/5/2014).

Atas dasar itu pula, Jabir berharap Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bertindak tegas. Tidak malah bingung dengan munculnya pro-kontra atas kebijakan tersebut.

“Bila perlu sekarang saja. Kenapa hasus menunggu sampai tanggal 19 Juni nanti,” ujarnya.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga mengaku heran dengan periodisasi kemunculan isu terkait dengan penutupan Dolly.

Menurutnya, polemik seputar penutupan Dolly hanya muncul ketika menjelang pemilu. “Baik itu pileg, ataupun pilwali,”tukasnya.

Jabir menduga penutupan Dolly hanya dijadikan sebagai komoditas politik. “Jadi memang ada pihak-pihak yang merasa diuntungkan, baik dengan adanya penutupan, maupun apabila tidak jadi ditutup,” urainya.

Sedangkan, terkait dengan solusi yang pernah ditawarkan oleh Pemprov Jatim, yaitu pemberian uang sebesar Rp3 juta untuk para PSK, politisi PKS tersebut menyatakan tidak setuju. Menurutnya, cara semacam itu tidak efektif.

Seharusnya baik Pemprov Jatim maupun Pemkot Surabaya memiliki cara lain. Sebab, lanjut Jabir, apabila Pemprov Jatim maupun Pemkot Surabaya hanya berientasi pada pemberian uang pasca penutupan, maka hal itu dianggapnya bukanlah solusi.

“Walaupun dipulangkan ke daerah dan diberi semacam uang pesangon, tetapi kalau uangnya habis, pasti mereka akan kembali ke Surabaya dengan pekerjaan yang sama,”paparnya.
(sms)
Berita Terkait
Masih Bertahan, Penghuni...
Masih Bertahan, Penghuni Bangunan Gang Royal Rawa Bebek Resah dan Pasrah
9 Tempat Prostitusi...
9 Tempat Prostitusi Legendaris di Indonesia, Nomor 4 Terbesar di Asia Tenggara
Lokalisasi Gang Royal...
Lokalisasi Gang Royal Rawa Bebek telah Dibongkar, Ini Harapan Warga ke Pemprov DKI
Prostitusi Online-Lokalisasi...
Prostitusi Online-Lokalisasi Berkedok Karaoke Marak di Ketapang, Warga Resah
3 Tempat Prostitusi...
3 Tempat Prostitusi di Jakarta yang Sudah Ditutup, 2 di Antaranya Disulap Jadi Bangunan Bermanfaat
ABG Cantik asal Serang...
ABG Cantik asal Serang Dijual ke Pengelola Lokalisasi di Jakarta
Berita Terkini
Kebakaran Permukiman...
Kebakaran Permukiman Warga di Cideng, 5 Orang Terluka dan 1 Tewas
28 menit yang lalu
Perjalanan KRL Tanah...
Perjalanan KRL Tanah Abang-Duri Berangsur Normal setelah Kebakaran di Sekitar Rel Dipadamkan
39 menit yang lalu
Hadiri Konsolidasi Nasional...
Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Ketum Garuda Komitmen Wujudkan Generasi Emas 2045
1 jam yang lalu
Breaking News! Gempa...
Breaking News! Gempa M5,8 Guncang Bone Bolango Gorontalo
2 jam yang lalu
Perjalanan KRL Tanah...
Perjalanan KRL Tanah Abang-Duri Terlambat Imbas Kebakaran di Sekitar Rel
3 jam yang lalu
Bripka Dedy Wiratama...
Bripka Dedy Wiratama yang Bekingi Kampung Narkoba Samarinda Dipecat
10 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved